Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

Dalam beberapa waktu belakangan ini, ada dua istilah yang sangat digandrungi publik dalam kaitannya dengan relasi dan koneksi dengan internet. Khususnya generasi milenial. Kedua istilah itu adalah FOMO dan JOMO.

FOMO adalah kependekan dari fear of missing out. Singkatan itu sering kali dimaknai sebagai keinginan seseorang untuk terus terkoneksi dengan internet agar tidak ketinggalan tren. Kebalikan dari FOMO adalah JOMO. Itu adalah kependekan dari joy of missing out, yaitu sebuah kesenangan meninggalkan internet dan acuh tak acuh terhadap tren.

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

Ada salah kaprah
Pandangan seperti di atas ditampik oleh Adi Dinardinata, S.Psi., M.Psi. Fenomena FOMO itu berhubungan dengan ketakutan dan bukan sekadar keinginan.

“Banyak yang keliru memahami FOMO sebagai keinginan untuk terus terhubung dengan media sosial ataupun gadget. Pemahaman ini keliru karena rasa ingin dan rasa takut adalah dua hal yang sangat berbeda,” jelasnya seperti dikutip YUKK dari kompas.com.

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

FOMO adalah sebuah pola perilaku dimana seseorang takut melewatkan sesuatu. Bukan sebuah keinginan untuk terus terhubung dengan internet.

“Kalau kita hanya ingin tetap keep updan sebenernya tidak takut melewatkannya juga, itu bukan FOMO. FOMO itu pola perilaku dan rasa takutnya seperti orang yang obsesif kompulsif. FOMO adalah ketakutan, takut melewatkan sesuatu, bukan ingin selalu terhubung. Jadi, FOMO itu bukanlah rasa ingin. FOMO itu rasa takut,” jelasnya.

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

FOMO ini pun tidak melulu tentang ketakutan yang berkaitan dengan internet. FOMO itu berkaitan dengan apa såja. Dan fenomena ini sebenarnya sudah terjadi lama sebelum era internet.

“FOMO itu tidak hanya tentang takut melewatkan sesuatu yang ada di media sosial. Segala hal yang terkait dengan takut melewatkan sesuatu, itu FOMO. Takut ketinggalan berita. Takut melewatkan kesempatan untuk mendapatkan yang diinginkan karena belum tentu ada lagi kesempatan berikutnya. Bahkan takut kelewat promo diskon. Semua itu adalah FOMO,” tandasnya.

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

Lalu JOMO?
JOMO bukanlah hal melepaskan diri dari dunia maya dan meninggalkannya sama sekali. Berkebalikan dengan FOMO, JOMO berarti bisa tetap merasa nyaman meskipun melewatkan banyak hal yang sebenarnya tidak ingin dilewatkan.

“Sesuai namanya, menikmati melewatkan berbagai hal yang tidak ingin kita lewatkan,” kata Adi.

Milenial, Jangan Salah Paham tentang FOMO dan JOMO!
Ilustrasi (Foto: Pexels)

Akibat dari salah kaprah inilah, masyarakat bisa salah mengambil sikap. JOMO bisa dianggap sebagai kenyamanan untuk melepaskan sesuatu. Hal ini bisa membuat individu menjadi tidak produktif. Jalan tengah untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghadapi dan mengatasi rasa takut. Bukan dengan menghindar dan melepaskan diri dari dunia.

“JOMO ini, kalau tidak diedukasi dengan baik, akan menyesatkan masyarakat untuk pindah dari satu masalah yang ekstrem ke masalah ekstrem yang lain. Yang sehat adalah kita menginginkan untuk tetap update, tapi juga tidak memaksakan diri untuk selalu update. Dengan kata lain, keinginan untuk tetap update tidak perlu dibuang, tapi juga tidak dipaksakan,” terangnya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry