Banyak pebisnis mungkin pernah mengalami hal ini: pesanan banyak, pelanggan berdatangan silih berganti, dan omzet besar. Keuntungan sepintas di depan mata. Namun, ketika seluruh penjualan dihitung pada akhir bulan, ternyata keuntungan bisnismu tidak seberapa. Mengapa demikian?
Hal ini sering terjadi karena pemilik usaha hanya fokus pada penjualan tanpa benar-benar memahami margin keuntungan. Padahal, margin adalah indikator penting untuk mengetahui seberapa sehat kondisi keuangan bisnis Anda. Tanpa memahami margin, Anda bisa keliru menilai apakah bisnis benar-benar untung atau hanya terlihat sibuk.
Dengan menghitung margin keuntungan secara tepat, Anda bisa melihat berapa besar laba yang benar-benar didapat dari setiap penjualan, sekaligus mengetahui apakah biaya produksi, operasional, atau beban lainnya sudah efisien. Dari sinilah Anda bisa mengambil keputusan yang lebih akurat untuk meningkatkan profit dan menjaga bisnis tetap stabil. Tanpa memahami margin, Anda akan sulit mengembangkan bisnis.
Jenis Margin dan Cara Hitung Margin

Margin adalah persentase laba yang diperoleh dari suatu penjualan. Istilah ini menunjukkan perbandingan antara keuntungan dan total pendapatan yang dihasilkan. Dalam konteks bisnis, margin mengacu pada selisih antara harga jual dan biaya produksi.
Ada tiga jenis margin yang umum digunakan dalam bisnis. Masing-masing jenis margin memberikan gambaran berbeda tentang kondisi keuangan usaha Anda. Dengan memahami perbedaannya, Anda bisa mengetahui di mana letak kekuatan dan kelemahan bisnis. Berikut penjelasan dan contoh perhitungannya dikutip dari Gramedia:
1. Margin kotor
Margin laba kotor menunjukkan keuntungan dari penjualan setelah dikurangi biaya produksi atau harga pokok penjualan (HPP).
Rumus:
Margin laba kotor = (pendapatan − HPP) ÷ pendapatan × 100%
Contoh:
- Total pendapatan: Rp50.000.000
- HPP: Rp30.000.000
Margin laba kotor: (50.000.000 − 30.000.000) ÷ 50.000.000 × 100% = 40%
Itu berarti bahwa dari setiap Rp100.000 penjualan, Rp40.000 adalah laba kotor setelah biaya produksi dibayar.
2. Margin bersih
Margin laba bersih adalah keuntungan akhir setelah seluruh biaya dikurangi, mulai dari biaya produksi hingga pajak dan biaya lainnya. Inilah angka yang benar-benar menunjukkan berapa laba yang tersisa dari total penjualan.
Rumus:
Margin bersih = (total pendapatan – HPP – biaya operasional – pajak – biaya lain-lain) ÷ total pendapatan × 100%
Contoh:
- Total pendapatan: Rp50.000.000
- HPP: Rp30.000.000
- Biaya operasional: Rp10.000.000
- Pajak: Rp1.000.000
Margin bersih = (50.000.000 – 30.000.000 – 10.000.000 – 1.000.000) ÷ 50.000.000 × 100% = 9.000.000 ÷ 50.000.000 × 100% = 18%
Dari total penjualan Rp50.000.000, keuntungan bersih yang didapatkan adalah 18% atau Rp9.000.000.
3. Margin laba operasional
Margin laba operasional menunjukkan keuntungan yang diperoleh bisnis setelah dikurangi HPP dan seluruh biaya operasional, seperti gaji, sewa, listrik, dan administrasi. Margin ini menilai profitabilitas dan seberapa baik pengelolaan bisnis sebelum pajak atau biaya lainnya.
Rumus:
Laba operasional = pendapatan − HPP − biaya operasional
Margin Operasional = (laba operasional ÷ pendapatan) × 100%
Contoh:
- Total pendapatan: Rp50.000.000
- HPP: Rp30.000.000
- Biaya operasional: Rp10.000.000
Laba operasional = 50.000.000 − 30.000.000 − 10.000.000 = Rp10.000.000
Margin operasional = (10.000.000 ÷ 50.000.000) × 100% = 20%
Itu berarti bahwa bisnis Anda memperoleh margin operasional sebesar 20% atau setara Rp10.000.000 dari total penjualan Rp50.000.000.
Dengan menghitung margin keuntungan secara tepat, Anda bisa melihat seberapa sehat kondisi bisnis dan berapa laba yang Anda dapatkan dari setiap penjualan. Perhitungan ini membantu Anda memantau biaya produksi, operasional, dan beban lain, sehingga keputusan untuk meningkatkan profit bisa lebih tepat sasaran. Melakukannya secara rutin, misalnya, setiap bulan, akan membuat Anda lebih mudah memantau perkembangan usaha dan menjaga bisnis tetap stabil serta berkembang secara berkelanjutan.
Bisnis yang sehat bukan hanya yang memiliki omzet besar, melainkan juga yang memiliki margin yang stabil dan terjaga dengan baik dari waktu ke waktu. Margin yang stabil menunjukan bahwa bisnis Anda mampu mengelola biaya dan menentukan harga dengan baik. Margin yang stabil juga membuat bisnis lebih siap menghadapi perubahan pasar dan persaingan. Jika margin bisnis Anda stabil, Anda lebih mungkin mengembangkan usaha atau menambah produk baru.
Untuk membantu pencatatan transaksi lebih rapi dan memudahkan pemantauan pemasukan secara real-time, Anda bisa menggunakan layanan YUKK Payment Gateway. Dengan sistem pembayaran yang terintegrasi dan laporan transaksi tercatat secara otomatis, Anda bisa lebih fokus mengembangkan bisnis Anda. Yuk, optimalkan bisnis Anda sekarang bersama YUKK Payment Gateway sekarang!
