Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi

Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi
Ilustrasi (Grafis: MNC Media

Berkali-kali SWI (Satgas Waspada Investasi) mengingatkan masyarakat untuk menghindari investasi bodong. Namun, masih saja ada masyarakat yang memilih investasi bodong itu. Mengapa demikian?

Alasan pertama adalah masyarakat sangat tergoda pada aksi pamer harta (flexing)yang dilakukan oleh para influencer dan afiliator. Banyaknya uang, megahnya rumah, mahalnya harga pakaian, dan berbagai fasilitas mewah lainnya membuat orang-orang tertarik dan tergoda. Mereka ingin cepat kaya seperti para influncer dan afiliator itu.

Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi
Ilustrasi pamer harta (Foto: Crello)

“Kegiatan-kegiatan flexing ini bisa menjadi modus untuk memberikan pemahaman bahwa dia (influencer) juga sangat untung dalam investasi binary option. Tapi tidak disadari bahwa binary adalah kegiatan tebak-tebakan seperti perjudian. Tidak ada yang diperdagangkan di sana dan bukan sarana investasi,” kata Tongam L. Tobing, Ketua SWI, dalam Siaran Langsung Instagram OJK, Rabu (16/3) lalu.

Jeratan investasi ilegal melalui flexing bisa terjadi karena pada dasarnya masyarakat memang tertarik pada harta-harta yang dipamerkan itu. Hal itu membuat mereka ingin cepat kaya dalam waktu yang singkat. Akhirnya mereka memilih investasi ilegal.

Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi
Ilustrasi pamer harta (Foto: Crello)

Tongam menyarankan masyarakat yang menemukan kegiatan terindikasi investasi ilegal untuk melaporkannya kepada tim SWI melalui surel waspadainvestasi@ojk.go.id. Tim SWI akan langsung memproses laporan dan memblokir kegiatan investasi ilegal itu.

“Kalau sudah dirugikan, kami mendorong (korban) lapor ke polisi agar bisa diproses hukum,” katanya.

Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi
Ilustrasi (Foto: Crello)

Dia memberikan sebuah rumus sederhana untuk masyarakat yang ingin terjun ke dalam dunia investasi. Rumus itu adalah memperhatikan legalitas dan logika (2 L) sebuah kegiatan investasi. Menurutnya, salah satu ciri utama kegiatan investasi ilegal adalah tidak memiliki legalitas yang jelas untuk beroperasi di Indonesia.

“Cek legalitasnya; izin kegiatannya. Kalau koperasi, cek di Kemenkop. (Kalau) perdagangan cek, di Kemendag. (Kalau) keuangan, cek di OJK. (Kalau) travel dan umroh, cek di Kemenag. Kalau tak ada legalitas, jangan ikuti,” sarannya.

Jangan Tergoda Flexing! Pakai Rumus “2L” Sebelum Investasi
Ilustrasi (Foto: Crello)

Selain legalitas, masyarakat juga harus memperhatikan sisi logis dari penawaran investasi. Tidak masuk akal, katanya, jika ada investasi yang menawarkan keuntungan tetap dan mengklaim tanpa risiko. Tidak logis, misalnya, ada investasi yang berkedok penjualan rumah dengan pohon kurma yang menjanjikan imbal balik hingga Rp100 juta per tahun.

“Rasionalitas ini harus kita bangun. Investasi yang aman tentu tergantung profil risiko kita. Kalau ingin jangka panjang, bisa beli properti atau kalau risiko tinggi bisa beli saham atau reksa dana. Yang pasti, cek 2 L itu kalau mau investasi,” jelasnya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry