Untuk Cegah Gejala Corona, Ilmuwan Inggris Kembangkan Inhaler

Ilmuwan Inggris kembangkan Inhaler untuk cegah Corona
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Hari-hari ini, para ilmuwan dari seluruh dunia terus berusaha untuk memerangi virus Corona. Mereka mencari berbagai cara yang mungkin bisa mengatasi pandemi ini. Mulai dari pembuatan vaksin hingga obat-obatan.

Baru-baru ini, sekelompok ilmuwan dari University of Southampton, Inggris, mengembangkan inhaler untuk membantu memerangi virus Corona setelah gejala awal muncul. Mereka menggunakan obat eksperimental yang berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang memiliki kode SNG001. Dan sebanyak 120 buah inhaler telah mereka kirimkan kepada para pasien Covid-19 untuk dicoba.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya obat ini telah digunakan untuk mengobati multiple sclerosis. Ketika diuji coba di Hong Kong dan dikombinasikan dengan obat lain, obat ini menunjukkan hasil positif untuk mengurangi gejala Covid-19.

“Kami sangat membutuhkan pengobatan yang akan diberikan untuk pasien Covid-19 pada awal infeksi untuk mencegah gejala yang ada berkembang lebih parah,” kata Profesor Nick Francis, pemimpin studi, seperti dikutip YUKK dari The Sun, Selasa (26/5).

Ilustrasi (Foto: Freepik)

Ketika dihirup, obat ini akan mengirim zat ke paru-paru dan membantu untuk menekan efek virus. Perlu diketahui bahwa kondisi pasien semakin memburuk pada hari ke-10 setelah infeksi virus terjadi. Oleh karena itulah, para ilmuwan berharap agar obat ini bisa mencegah kondisi pasien semakin memburuk.

“Kita bisa menghentikan kondisi pasien Covid-19 semakin memburuk, yang biasanya terjadi pada minggu kedua. Pada minggu tersebut, akan muncul gejala mirip flu pada pasien Covid-19 seperti terengah-engah dan mengalami radang paru-paru,” jelas Richard Marsden, kepala perusahaan Synairgen, di Southampton.

Ilustrasi (Foto: Freepik)

Dalam tahap uji coba, pasien berusia 65 tahun ke atas akan diuji selama 72 jam setelah munculnya masalah pernapasan dan gejala lainnya. Setelah itu, mereka akan diberikan inhaler satu kali sehari dan terus mencatat perubahan saturasi dan suhu oksigen. Selama uji coba ini, mereka akan dipantau para dokter selama 14 hari ke depan. Jika percobaan ini berhasil, obat ini akan dilisensikan oleh regulator obat setempat.

“Jika hasilnya baik, kami akan menyediakan jutaan dosis (obat) pada akhir tahun ini,” kata Marsden.

 

 

#YUKKpakeYUKK#BelanjaOnlinePakeYUKKSaja

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry