Mengapa “Layangan Putus” Bikin Penonton Geregetan?

Mengapa “Layangan Putus” Bikin Penonton Geregetan?
Layangan Putus (Foto: Istimewa)

Layangan Putus sedang menjadi topik pembahasan warganet melalui media sosial. Web series yang dibintangi Reza Rahardian, Anya Geraldine, dan Putri Marino itu berhasil menguras emosi penonton melalui konflik rumah tangga: perselingkuhan. Drama ini diangkat dari kisah nyata tentang seorang istri, yang sedang hamil, diselingkuhi suaminya.

Isi cerita dan acting para pemain membuat emosi para penonton tersulut. Mereka marah, geram, dan ketakutan. Sampai-sampai ada penonton yang mengaku mulai berubah sikapnya kepada pasangannya.

Mengapa “Layangan Putus” Bikin Penonton Geregetan?
(Foto: Istimewa)

Lucia Peppy Novianti, M. Psi., psikolog dari Universitas Gadjah Mada, melihat bahwa sangat mungkin sebuah film, drama atau konten apa pun membuat orang menjadi marah, sedih, kesal, dan lainnya.

“Film atau tayangan apa pun sebetulnya sama dengan fenomena dunia nyata yang bisa menjadi stimulus dalam proses persepsi manusia,” katanya seperti dikutip YUKK dari Kompas.com.

Proses persepsi itu terkait dengan memori manusia yang mengingat segala hal yang diserapnya. Akan lebih mudah bagi orang untuk emosional ketika menonton drama seperti itu ketika pernah ada proses bernalar terkait peristiwa pahit itu.

Mengapa “Layangan Putus” Bikin Penonton Geregetan?
(Foto: Istimewa)

“Sangat mungkin apabila pernah ada proses bernalar, proses berpikir, apalagi kalau mengalaminya secara personal,” tambah pakar kesehatan mental yang fokus pada isu keluarga dan anak ini.

Selain itu, riwayat kedekatan dengan orang yang mengalami isu seperti perselingkuhan juga memberikan stimulasi yang serupa. Dalam perselingkuhan itu, pasti ada orang yang tersakiti. Dalam kasus Layangan Putus, orang yang tersakiti itu adalah seorang istri yang sedang hamil. Dan penderitaan korban ini memicu simpati dan reaksi emosional publik.

Mengapa “Layangan Putus” Bikin Penonton Geregetan?
(Foto: Istimewa)

Respons emosional berupa kemarahan dan ketakutan ini juga muncul dari pikiran masing-masing orang. Khususnya khawatir dikhianati oleh pasangan. Kekhawatiran itu meninggalkan jejak di alam pikiran, sehingga memicu respon emosioal yang luar biasa, bahkan ketika dialami tokoh fiksi.

“Jadi, tidak perlu mengalami, tapi pernah memikirkan saja, namun begitu penting nilainya, sehingga menjadi pemicu,” katanya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry