Mengapa Asap Batu Bara Bisa Merenggut Nyawa Jonghyun “SHINee”?

Mengapa Asap Batu Bara Merenggut Nyawa Jonghyun “SHINee”?
Jonghyun (Foto: google)

Kim Jonghyun, vokalis utama SHINee, bunuh diri di apartemennya di kawasan Gangnam-Gu, Chungdam-Dong, bagian selatan Seoul, Korea Selatan, Senin (18/12) lalu sekitar pukul 18.10 waktu setempat. Ia bunuh diri lantaran mengalami depresi yang berat. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Polisi menduga kuat bahwa lelaki berusia 27 tahun itu meninggal dunia karena menghirup zat beracun. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya barang bukti berupa briket batu baru. Briket itu sedang dibakar di penggorengan.

Baca : Lantaran Depresi, Jonghyun “SHINee” Bunuh Diri

Korban Mitos
Jonghyun bukanlah orang pertama yang bunuh diri dengan cara itu jika benar bahwa ia meninggal dunia karena menghirup asap batu bara. Banyak orang Korea Selatan yang sudah melakukannya. Salah satu di antaranya adalah seorang aktor bernama Ahn Jae-hwan. Dia bunuh diri dengan cara menghirup asap batu bara di dalam mobilnya sendiri pada tahun 2008 lalu.

Mengapa Asap Batu Bara Merenggut Nyawa Jonghyun “SHINee”?
Ahn Jae-hwan (Foto: hancinema.net)

Dari penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Universitas Chung-Ang, Seoul, yang kemudian dimuat dalam Journal of Korean Medical Science pada 2014 lalu, diketahui bahwa jumlah kematian warga Korea Selatan karena bunuh diri dengan cara menghirup asap batu bara meningkat dari tahun ke tahun. Selama tahun 2000—2007 lalu, kematian akibat bunuh diri dengan cara seperti itu mencapai 84 kasus. Jumlahnya meningkat tajam pada tahun 2008 lalu menjadi 292 kasus. Pada tahun 2011, jumlahnya bertambah lagi menjadi 1.251 kasus.

Para peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan jumlah kasus bunuh diri dengan cara menghirup asap batu bara itu dipengaruhi oleh peristiwa kematian Ahn Jae-hwan yang terjadi pada tahun 2008 lalu itu. Para peneliti menduga bahwa kematian Ahn Jae-hwan menguatkan anggapan umum masyarakat Korea Selatan bahwa bunuh diri dengan cara tersebut lebih mudah karena orang tidak akan merasa sakit.

Mengapa Asap Batu Bara Merenggut Nyawa Jonghyun “SHINee”?
Briket batu bara (Foto: arangbriketindonesia.com)

Ternyata anggapan itu salah. Dr. Paul Yip Siu-fai, Direktur Pusat Riset dan Pencegahan Bunuh Diri di Universitas Hong Kong, mengatakan bahwa bunuh diri dengan cara menghirup batu bara agar tidak terasa sakit dan mudah adalah mitos belaka. Profesor Dominic Lee Tak-shing, yang juga meneliti tindakan bunuh diri di Hong Kong, pun mengatakan hal yang sama.

“Pengalaman itu menyesakkan dan sangat tidak menyenangkan. Proses (bunuh diri dengan cara menghirup asap batubara) membuat tubuh tidak mendapat oksigen. Hampir sama seperti dicekik. Orang yang selamat mengatakan hal itu tidak mereka antisipasi atau pikirkan masak-masak sebelumnya,” ungkapnya dalam laporan yang dimuat British Journal of Psychiatry.

Gas Beracun
Ahn Jae-hwan, Jonghyun, dan banyak orang lain bisa meninggal dunia saat menghirup asap batu bara karena asap itu mengandung karbonmonoksida (CO). Karbonmonoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mengiritasi kulit dan mata, tetapi sangat berbahaya. Jika dihirup dan masuk ke dalam paru-paru, gas beracun ini akan berikatan dengan hemoglobin, sehingga menyebabkan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen.

Riset Il Saing Choi dari Departemen Ilmu Saraf di Universitas Yonsei menguatkan hal itu. Il Saing Choi meneliti hampir 3.000 orang pasien yang mengalami keracunan CO di Korea Selatan pada 1979—1982. Dari jumlah pasien itu, sebanyak 243 orang di antaranya mengalami penyakit saraf. Ada pula yang mengalami gagal ginjal, pendarahan usus, serta penumpukan cairan di paru-paru. Hasil riset itu dimuat dalam Journal of Korean Medical Science.

Mengapa Asap Batu Bara Merenggut Nyawa Jonghyun “SHINee”?
Briket batu baru (Foto: google)

Harus diketahui bahwa konsentrasi maksimum CO yang diperbolehkan terpapar pada tubuh mencapai 0,01% (100 ppm) selama 8 jam dan 0,04% (400 ppm) selama 1 jam. Apabila jumlah CO yang terhirup lebih daripada kadar normal, CO akan mengikat hemoglobin, molekul protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke organ-organ tubuh dan mengembalikan karbondioksida ke paru-paru. Karena CO mengikat hemoglobin, organ-organ tubuh gagal berfungsi, tubuh mengalami kekurangan oksigen, dan keracunan CO. Jika paparan CO sebanyak 20—40%, orang akan merasa pusing dan muntah. Namun, jika paparannya mencapai 70% atau lebih, orang akan koma dan sulit bernapas. Bahkan bisa langsung meninggal dunia.

Baca juga : Mengenang Jonghyun “SHINee”: Akhir Tragis Si Multitalenta

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
2
wow
0
sad
0
angry