Kamu Harus Tahu 3 Fase Penyakit Demam Berdarah

Fase-fase demam berdarah
Ilustrasi penderita demam berdarah (Foto: Istimewa)

Kasus demam berdarah dengue (DBD) makin mengkhawatirkan. Jumlah kasusnya meningkat. Dan jumlah korban yang meninggal terus bertambah.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga akhir Januari lalu, jumlah kasus DBD bertambah menjadi 13.683 buah. Dan korban yang meninggal bertambah menjadi 133 orang.

Selama musim hujan ini, masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kesehatan, antara lain, dengan melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Khususnya upaya untuk mencegah berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegepty. Nyamuk inilah yang menyebabkan DBD.

Edukasi tentang apa itu DBD, faktor penyebab, gejala-gejala, fase-fasenya, dan pengobatan serta pencegahan harus dilakukan. Masyarakat harus tahu tentang semua hal itu.  Apa saja fase berbahaya dari DBD?

Fase demam

Fase-fase demam berdarah
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Setelah terjadi gigitan nyamuk demam berdarah, orang tidak akan langsung mengalami gejala DBD. Masa inkubasi terjadi kurang lebih 7 hari hingga munculnya gejala.

“Muncul panas tinggi mendadak. Ini terjadi terus-menerus selama 2—7 hari,” kata dr. Mulya Rahma Karyanti, Ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM-FKUI, di Gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/1).

Panas tinggi atau demam itu biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan, mual, muntah, sakit kepala, sakit perut, dan nyeri pada ulu hati.

Fase kritis

Fase-fase demam berdarah
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Setelah fase demam, suhu tubuh penderita akan perlahan menurun dan keadaannya mulai membaik. Namun, itu tidak berarti bahwa orang itu sudah sembuh. Justru yang terjadi adalah penderita akan memasuki masa kritis. Dalam situasi seperti ini, penderita tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasa. Bila perlu dibawa ke rumah sakit terdekat.

Jika tidak diperhatikan, bisa terjadi manifestasi pendarahan seperti pendarahan pada hidung dan gusi, berak darah, dan muntah darah. Pada anak, fase kritis bisa disertai dengan dehidrasi.

“Orang tua harus memperhatikan asupan cairan buat anak. Cairan ini bisa susu, jus buah, atau apa pun. Dan jangan lupa perhatikan keluaran cairan atau urine. Kalau anak pipis tidak teratur padahal asupan cairan banyak, harus segera dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Fase penyembuhan

Fase-fase demam berdarah
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Setelah fase kritis itu, pada umumnya pasien kembali merasakan demam. Namun, pasien tidak perlu khawatir karena pasien sedang memasuki masa penyembuhan. Dalam masa ini, pasien harus tetap diberi asupan cairan. Berangsur-angsur trombositnya akan naik, nafsu makan kembali normal, rasa nyeri berkurang, dan fungsi diuretik membaik.

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry