Ini Dia Faktor yang Menyebabkan Pasangan yang Harmonis Bisa Bercerai

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: Gulf Insider)

Ahok, demikian panggilan Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta, sudah melayangkan gugatan cerainya kepada istrinya, Veronica Tan. Ahok diketahui sudah menandatangani surat gugatan cerainya pada 4 Januari lalu. Baru 3 hari kemudian media ramai memberitakan ikhwal gugatan cerai itu. Dan Pengadilan Negeri Jakarta Utara sudah menetapkan jadwal sidang perdana mereka, yaitu pada 31 Januari mendatang.

Banyak orang kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Ahok, yang dikenal sangat menyayangi keluarganya, bisa melayangkan gugatan cerai kepada perempuan yang telah memberikannya 3 orang anak. Mereka berharap bahwa berita yang beredar itu hanyalah rumor. Sebagian yang lain bahkan sudah membuat petisi daring agar Ahok tidak menceraikan Vero.

Faktor penyebab perceraian
Ahok-Vero (Foto: jabar.tribunnews.com)

Pada akhirnya, orang sadar bahwa Ahok pasti punya alasan yang kuat untuk mengambil keputusan yang besar dan menyakitkan itu. Alasan yang tidak orang ketahui dengan jelas. Yang ada dugaan bahwa telah terjadi perselingkuhan dalam perjalanan rumah tangga mereka. Dugaan itu menguat setelah tersebar potongan berkas gugatan Ahok seperti yang diberitakan sejumlah media daring. Dalam potongan gugatan itu tertulis bahwa Vero punya “good friend”.

Belajar dari kasus Ahok-Vero ini, orang kembali sadar bahwa kesetiaan adalah harga mati. Itu adalah struktur dasar sebuah kehidupan. Energi dari budaya kehidupan. Tanpa itu, semuanya menjadi kaotik. Yang ada hanyalah budaya kematian.

Selain perselingkuhan, ada beberapa hal lain yang bisa memicu perceraian. Bahkan dalam rumah tangga pasangan yang terlihat begitu tenang dan adem. Berikut ini, dari beberapa sumber, YUKK mengumpulkan beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab terjadinya perceraian:

Berhenti “Belajar”

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: fanind.com)

Pacaran adalah masa belajar. Masa mempelajari diri. Mempelajari banyak hal tentang pasangan. Pada masa ini, orang begitu bersemangat. Lalu apa yang terjadi setelah mereka menikah? Mereka berhenti untuk “belajar”. Tidak lagi mempelajari diri pasangan masing-masing. Berhenti mencari tahu apa yang menarik dari diri pasangan.

Jika kamu ingin kehidupan rumah tanggamu tetap langgeng dan hari-harimu lebih bergairah, janganlah berhenti untuk “mengenal” pasanganmu. Anggaplah pernikahanmu sebagai gerbang baru untuk meningkatkan level “masa pacaran” dengan istri atau suamimu. Kamu harus tahu bahwa “menjadi pribadi” adalah perjuangan yang tidak punya ujung. Itu berarti bahwa pribadi istri atau suamimu selalu berkembang. Pasti ada hal baru dan menarik yang diperlihatkannya.

Menjadi Tuan dan Nyonya
Pasanganmu bukanlah pembantumu. Pasanganmu bukanlah asisten rumah tanggamu. Jadi, berhentilah bertindak sebagai majikan terhadap pasanganmu! Berhentilah berlaku sebagai “tuan” atau “nyonya” atas pasanganmu. Kamu harus bahu-membahu mengatur rumah tangga.

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: google)

Rumah yang engkau tinggali adalah juga rumahnya. Dapur yang kaumasuki adalah juga dapurnya. Dipan yang di atasnya engkau melepaskan lelahmu adalah juga dipannya. Jadi, berhentilah menggunakan kata “saya” dan “engkau”. Gantilah kata itu dengan “kita”.

Pendapatan Kurang

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: google)

Tidak salah bahwa pernikahan adalah hal yang mungkin paling membahagiakan yang pernah terjadi. Namun, pernikahan lebih daripada tentang seremoni. Menikah berarti “menjalani” kehidupan baru. Dan itu berarti bahwa orang harus bekerja keras. Bekerjalah supaya semua kebutuhan kamu dan pasanganmu terpenuhi. Bukankah sudah terjadi banyak kasus yang menunjukkan bahwa perceraian terjadi karena masalah ekonomi? Bahwa pasanganmu bisa pergi atau mencari kepuasan di luar rumah karena penghasilan dan pendapatanmu kurang atau berkurang?

Tidak Ada Komunikasi
Jangan berpikir bahwa komunikasi tidak penting. Jika kamu tidak pandai berbicara dan mendengarkan, jangan berharap bahwa rumah tanggamu akan baik-baik saja. Jika berbicara dan mendengarkan tidak menjadi kebiasaan, jangan berharap bahwa pernikahanmu akan langgeng.

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: onedio.com)

Kamu dan pasanganmu harus bisa berkomunikasi: harus saling berbicara dan mendengarkan. Dengan cara itu, kamu bisa mengatasi berbagai masalah yang muncul. Bagaimana mungkin dia tahu apa yang kamu harapkan atau inginkan jika kamu tidak mengatakannya? Jadi, berbicaralah. Berkomunikasilah. Dan kamu harus tahu cara berkomunikasi yang tepat. Jangan gunakan otot. Gunakan otak. Dan berbicaralah dari hati ke hati.

Harapan Terlalu Tinggi

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: google)

Biasanya, dalam masa pacaran, banyak pasangan yang sudah merencanakan banyak hal setelah menikah nanti: ingin punya ini, ingin melakukan itu, ingin pergi ke sana, dan lain sebagainya. Itu tidak salah. Bahkan itu harus kamu lakukan supaya kamu punya alasan untuk tidak berhenti berjuang demi kehidupan yang lebih bersemangat. Namun, menetapkan atau memasang target dan harapan yang terlalu tinggi bisa menjadi bumerang. Bagaimana jika kamu tidak bisa memenuhi semua itu? Fakta menunjukkan bahwa ada banyak rumah tangga yang berantakan karena masing-masing pasangan tidak bisa memenuhi target yang sudah mereka tetapkan. Jadi, jangan menetapkan target yang begitu tinggi yang kamu tahu tidak akan bisa kamu penuhi. Yang perlu kamu lakukan adalah jangan berhenti berharap dan bekerja.

Tidak Punya Anak
Ini alasan yang sudah sangat umum. Banyak rumah tangga yang hancur di tengah jalan karena faktor ini. Apakah itu berarti bahwa tidak ada jalan keluar dari masalah ini?

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: elmina-id.com)

Memang benar bahwa anak adalah alasan mengapa sebuah rumah tangga dibangun. Namun, itu tidak lantas berarti bahwa pernikahan dan rumah tangga akan kehilangan maknanya jika tidak ada anak yang lahir dalam rumah. Lagi pula ada begitu banyak jalan dan cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan anak.

Sibuk Bekerja

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: igorvitale.org)

Kamu ingin rumah tanggamu tetap hidup? Jangan malas bekerja! Bagaimana mungkin “dapurmu” tetap hidup jika kamu ogah-ogahan? Namun, terlalu sibuk bekerja sehingga kamu tidak punya waktu untuk keluargamu bisa menjadi masalah berat. Apalagi jika kamu sampai membawa pekerjaanmu ke rumah. Tanyakan kepada orang di pengadilan negeri atau pengadilan agama dan kamu akan tahu bahwa “sibuk bekerja” sering menjadi salah satu alasan mengapa gugatan cerai melayang.

Kurang Perhatian

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: ributrukun.com)

Efek dari terlalu sibuknya kamu bekerja adalah hilangnya perhatianmu kepada istri atau suamimu dan anak-anakmu. Jika ini terjadi, jelas ini adalah masalah yang sangat berat. Bahkan bisa sangat fatal. Kamu harus sadar bahwa perhatian dan afeksi tidak ubahnya udara. Harus selalu ada supaya rumah tanggamu tetap hidup.

KDRT

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Banyak kasus perceraian terjadi karena faktor KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Istri menggugat cerai suami karena suami suka main tangan. Istri minggat karena suami suka berkata kasar, memukul, dan menendang. Dalam banyak kasus lain, suami melayangkan gugatan cerai karena istri bersikap kasar dan melakukan kekerasan.

Tidak Mau Diatur

Faktor penyebab perceraian
Ilustrasi (Foto: musthafa.net)

Sebagai kepala keluarga, suami selalu ingin istrinya mendengarkannya. Mengindahkannya. Tidak ada suami yang suka istrinya membangkang atau keras kepala. Bagaimana jika istrinya keras kepala dan sulit diatur? Fakta menunjukkan bahwa banyak peristiwa perselingkuhan dan perceraian terjadi karena hal ini.

#YUKKpakeYUKK

 

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry