Ilmuwan: Covid-19 bukan Lagi Pandemi, Melainkan “Sindemi”

News | 13 November 2020
Pakar: Covid-19 bukan Lagi Pandemi, Melainkan “Sindemi”
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Sejak muncul pertama kali di China pada akhir Desember 2019 lalu, virus Corona menyebar dengan sangat cepat. Jumlah orang yang terinfeksi dan yang meninggal dunia terus bertambah. Covid-19 lalu ditetapkan sebagai pandemi.

Hingga saat ini, seperti dikutip YUKK dari Worldometer, Jumat (12/11) sore, sudah 219 negara yang terdampak virus ini. Jumlah penduduk dunia yang terinfeksi mencapai 53.109.696 orang. Sebanyak 1.299.651 orang meninggal dunia dan 37.224.906 orang berhasil disembuhkan.

Dalam perjalanan selanjutnya, para ilmuwan mengatakan bahwa Covid-19 tidak lagi merupakan pandemi, melainkan sindemi. Disebut sindemi jika ada dua atau lebih penyakit berinteraksi pada saat yang sama. Misalnya, perpaduan Covid-19 dengan diabetes, kanker, dan lainnya. Akibatnya adalah efek sindemi jauh lebih besar.

Pakar: Covid-19 bukan Lagi Pandemi, Melainkan “Sindemi”
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Sindemi dicirikan dengan interaksi biologis dan sosial antara kondisi dan keadaan. Interaksi yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap bahaya atau memperburuk kesehatannya,” jelas Richard Horton, Pemimpin Redaksi jurnal ilmiah The Lancet.

Apakah itu berarti bahwa sindemi berada satu tingkat di atas pandemi? Ternyata tidak. Menurut Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith, sindemi tidak berada di atas pandemi dan bukan merupakan istilah yang baru. Sindemi adalah gabungan atau kombinasi dari beberapa penyakit. Misalnya, penyakit diabetes, obesitas, hipertensi, dan penyakit jantung. Keempatnya bisa disebut sindemi karena saling berkaitan.

Pakar: Covid-19 bukan Lagi Pandemi, Melainkan “Sindemi”
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Kalau, misalnya, Covid-19 ini dilihat dari sisi sindemi, ya, sebetulnya tetap pandemi juga karena itu bukan istilah epidemiologi,” katanya seperti dikutip dari detikcom.

 Dalam sindemi, yang dilihat tidak hanya satu aspek, tapi banyak aspek. Misalnya, aspek sosial dan ekonomi.

Pakar: Covid-19 bukan Lagi Pandemi, Melainkan “Sindemi”
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Jadi, misalnya, kenapa Covid-19 ini, di satu negara, parah banget? Karena, katakanlah di Amerika, obesitas tinggi, penyakit jantung orangnya banyak, lansia banyak, ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan juga terjadi. Nah, itu sindemi,” terangnya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry