Di Negara Suci Ini, Alat Kelamin Pria Begitu Diagungkan

Tradisi Penis di Bhutan
Salah satu sudut Bhutan (Foto: Unsplash)

Bhutan. Negara kerajaan ini terletak di Asia Selatan. Letaknya dekat dengan pegunungan Himalaya. Namun, tidak sepopuler negara tetangganya seperti India, Nepal, Pakistan, dan Maladewa.

Mungkin memang Bhutan tidaklah seseksi Maladewa. Tidak seeksotis India. Namun, negara ini punya kekayaan alam dan budaya yang luar biasa indah dan mencengangkan. Itulah mengapa Leonardo DiCaprio, Keira Knightley, dan beberapa selebritas Hollywood pernah menginap di negara yang tidak punya lampu lalu lintas ini.

Tradisi Penis di Bhutan
Bhutan punya pemandangan alam yang indah (Foto: Istimewa)

Para wisatawan yang datang ke Negeri di Atas Awan ini tidak berhenti berdecak kagum pada pesona alamnya. Juga pada warisan budayanya. Kealamiahan negeri ini tetap terjaga hingga kini sekalipun sudah mulai ada modernisasi dalam beberapa aspek.

Salah satu sisi negara ini yang begitu mencengangkan para wisatawan adalah banyaknya mural alat kelamin pria di dinding-dinding bangunan. Mulai dari rumah hingga tempat-tempat umum. Bahkan ada toko yang menjual replika kelamin pria itu.

Tradisi Penis di Bhutan
Wisatawan berfoto dengan penduduk lokal (Foto: bhutanonlinevisa.com)

Mengapa di negara dengan mayoritas pemeluk Buddha itu alat kelamin pria begitu “jelas” digambarkan dan bahkan dipamerkan? Apa maknanya? Pertanyaan kecil ini membawa kita pada sebuah sejarah dan tradisi penting dari Negara Naga ini.

Bhutan adalah negeri yang kaya akan biara. Hampir di setiap sudut negeri ini berdiri biara yang dikhususkan untuk salah seorang pendeta. Usia biara-biara itu mencapai ratusan tahun. Dan biara paling tua adalah Chimi Lhakhang. Biara itu didirikan pada tahun 1499 dan didedikasikan untuk Drukpa Kunley.

Tradisi Penis di Bhutan
Chimi Lhakhang (Foto: Wikipedia)

Drukpa Kunley adalah seorang penyebar agama yang berasal dari Biara Ralung di Tibet. Sejarah mencatat bahwa Kunley datang ke Bhutan untuk menyebarkan Buddha pada pertengahan abad ke-15. Dia terkenal dengan ajaran yang terdengar aneh dan kontroversial pada zamannya.

Tradisi Penis di Bhutan
Papan ucapan selamat datang di salah satu sudut Bhutan (Foto: iStock)

Salah satu isi ajarannya adalah bahwa alat kelamin pria yang sedang ereksi dapat mengusir roh jahat yang datang ke rumah. Dia bahkan mengatakan bahwa dia bisa mengusir roh jahat dengan kelaminnya.  Salah satu kisah yang melegenda adalah kisah tentang bagaimana Kunley sanggup mengubah roh jahat menjadi penjaga hanya dengan penisnya. Roh jahat ‘diserang’ dengan cara memukulkan ujung penis yang ereksi.

Tradisi Penis di Bhutan
Mural penis pada dinding restoran (Foto: Culture Trip)

Ajaran ini diterima masyarakat Bhutan. Mereka lalu menggambar mural penis di rumah sebagai cara untuk menolak roh jahat. Mereka menggambarnya pada dinding-dinding rumah dan beberapa tempat umum.

Tradisi Penis di Bhutan
Wisatawan di antara mural penis (Foto: onceinalifetimejourney.com)

Lama-kelamaan Kunley tidak lagi disebut “orang gila” karena ajarannya. Dia justru dianggap sebagai Dewa Kesuburan. Dan pada tahun 1499, dibangunlah Chimi Lhakhang di Distrik Punakha oleh Ngawang Choegyel. Biara itu dibangun setelah Kunley memberkati tempat itu dan membangun sebuah stupa di atasnya.

Tradisi Penis di Bhutan
Replika penis menjadi aksesori (Foto: Culture Trip)

Di biara ini, beberapa relik kayu penis dijaga. Relik ini dibawa oleh Kunley dari Tibet sekitar 500 tahun lalu. Relik tersebut menjadi bagian dari ritual pemberkatan kesuburan seorang wanita. Perempuan yang ingin punya anak datang dan berdoa di sini. Biasanya perempuan berdoa di sini bersama seorang biksu. Biksu akan memukul pelan kepala si perempuan dengan relik penis itu. Dan ritual ini dipercaya akan membuat perempuan bisa hamil.

Tradisi Penis di Bhutan
(Foto: Culture Trip)

Sejak memasuki era modern, beberapa kelompok masyarakat di Bhutan mulai malu dengan mural penis yang ada di rumah mereka. Mereka tidak lagi menggunakan mural penis sebagai penolak roh jahat. Perlahan mural penis ditinggalkan. Hanya beberapa kawasan saja yang masih mempertahankan ajaran Kunley.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry