Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 

News | 7 September 2021
Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
Sylvia Bloom (Foto: Jane Lockshin via The New York Times)

Masih ingat kisah Sylvia Bloom? Pada pertengahan 2016 lalu, dia menggemparkan Amerika Serikat. Bukan dengan kejahatan, bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kedermawanan. Dia, dengan diam-diam, menyumbangkan uang sebesar US$6,24 juta atau setara dengan Rp87,3 miliar kepada Henry Street Settlement, sebuah lembaga amal.

Belum pernah ada orang yang “bukan siapa-siapa” menyumbangkan uang sebanyak itu. Belum pernah dalam sejarah Amerika Serikat. Itulah mengapa sumbangan itu tercatat sebagai sumbangan paling besar dalam 125 tahun terakhir.

Siapa sebenarnya Sylvia Bloom ini? Apa istimewanya orang ini? Bagaimana kisah hidupnya bisa dijadikan pelajaran banyak orang? Dan bagaimana bisa dia, yang “bukan siapa-siapa” itu, punya uang sebanyak itu?

Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
Ilustrasi (Foto: Crello)

Sylvia, seperti dikutip YUKK dari The New York Times, adalah anak dari sebuah keluarga imigran Eropa Timur. Dia dibesarkan dalam situasi penuh tekanan di Brooklyn, New York City, Amerika Serikat. Sambil bekerja, dia kuliah di Hunter College.

Pada 1947, dia bergabung dengan Cleary Gottlieb Steen & Hamilton, sebuah firma hukum di Wall Street. Selama lebih dari 67 tahun, dia menjadi sekretaris di situ. Kata Paul Hyams, seorang staf HRD di firma hukum itu, Sylvia adalah karyawan terlama.

Jika dia hanyalah seorang sekretaris, lalu bagaimana mungkin dia bisa punya uang sebanyak itu? Ternyata dia punya strategi. Dia mengamati investasi yang dilakukan pimpinannya dan ikut berinvestasi.

Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
(Foto: Jane Lockshin)

“Dia adalah sekretaris pada era ketika sekretaris bisa mengatur hidup bos, termasuk investasi personal mereka. Jadi, ketika bosnya ingin membeli saham, dialah yang melakukannya. Lalu dia juga membeli saham untuk dirinya sendiri, tetapi dalam jumlah yang kecil karena gajinya sebagai sekretaris juga kecil,” ungkap Jane Lockshin, keponakan Sylvia.

Sedikit demi sedikit, lama-kelamaan menjadi bukit. Hingga akhir hidupnya, Sylvia diketahui telah mengolah aset lebih dari US$9 juta. Jumlah itu setara dengan Rp126 miliar.

Jane benar-benar kaget ketika tahu berapa uang yang dimiliki tantenya. Pasalnya, selama hidup itu, tantenya itu tidak pernah sekalipun bercerita tentang aset dan kekayaannya, bahkan kepada orang terdekatnya sekalipun.

Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
Sylvia dan suaminya (Foto: Jane Lockshin)

“Saya menyadari dia memiliki uang jutaan dolar dan dia tidak pernah menyebutkan sepatah kata pun. Saya kira dia berpikir bahwa itu bukanlah urusan orang lain,” katanya.

Tidak hanya Jane yang kaget, tetapi sebagian warga Amerika Serikat. Mengapa? Karena selama itu, Sylvia yang mereka lihat dan kenal adalah perempuan yang hidup sederhana. Setiap kali bepergian, dia selalu menggunakan kereta bawah tanah. Dia tidak memperlihatkan diri sebagai perempuan dengan uang jutaan dolar di 3 bank besar di Amerika Serikat.

Sylvia dan suaminya, Raymond Margolies, tinggal di sebuah apartemen sewa. Mereka tidak punya anak. Suaminya adalah pensiunan pemadam kebakaran yang kemudian menjadi guru dan punya kerja sampingan sebagai apoteker. Suaminya meninggal dunia pada 2002 silam. Dan Sylvia meninggal dunia pada 2016 lalu.

Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
Jane Lockshin (Foto: The New York Times)

Menurut Jane, Sylvia mengizinkan sejumlah uang untuk diberikan kepada kerabat dan temannya. Namun, sebagian besar kekayaannya harus disumbangkan kepada lembaga amal. Sebagian lagi untuk mendanai beasiswa bagi pelajar yang membutuhkan.

Setelah US$6,24 juta masuk ke rekening Henry Street Settlement,lembaga amal yang ikut dikelola Jane, masih ada US$2 juta atau setara dengan Rp28 miliar. Uang itu akan diberikan ke Hunter College, almamaternya, dan lembaga dana beasiswa lainnya.

Belajar dari Sylvia Bloom, Perempuan yang Diam-Diam Sumbangkan Rp87 M 
Sylvia dan suaminya tinggal di apartemen yang sederhana (Foto: Jane Lockshin)

Dengan melakukan itu, Sylvia telah bergabung dengan barisan miliuner yang sederhana dan murah hati.  Sebelumnya ada Leonard Gigowski, pemilik toko dari New Berlin yang meninggal pada 2015 lalu. Dia meninggalkan kekayaan rahasianya sebesar US$13 juta atau sekitar Rp128 miliar untuk mendanai beasiswa.

Ada juga Grace Groner yang tinggal di sebuah rumah dengan satu kamar tidur di Lake Forest, Illinois. Dia memberikan tanah miliknya yang bernilai US$7 juta atau setara dengan Rp98 miliar kepada almamaternya. Dia meninggal dunia pada tahun 2010 lalu pada usia 100 tahun.

 

 

#YUKKpakeYUKK

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry