Wow, Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala

Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala
(Foto: google)

Di mana-mana, di berbagai belahan dunia, orang menggaungkan gerakan “save energy” sebagai bagian dari usaha penyelamatan Bumi. Gerakan ini muncul dalam banyak bentuk dan geliat. Salah satunya adalah Earth Hour, sebuah gerakan yang dikampanyekan oleh WWF (World Wide Fund for Nature). Gerakan yang dimaksud adalah pemadaman lampu selama satu jam penuh di rumah atau di perkantoran.

Gerakan Earth Hour dimulai di Sydney, Australia, pada 10 tahun yang lalu. Waktu yang disepakati untuk memadamkan lampu secara serentak selama satu jam adalah hari Sabtu pada pekan terakhir bulan Maret. Indonesia ikut terlibat dalam gerakan ini pada tahun 2009 lalu. Hingga saat ini, pada setiap hari Sabut pada minggu terakhir bulan Maret, di beberapa daerah dilakukan pemadaman listrik secara serentak selama 1 jam.

Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala
Earth Hour (Foto: google)

Para ilmuwan, dalam beberapa dekade terakhir, melakukan berbagai usaha dan penelitian untuk mencari energi alternatif. Belum lama ini, seperti dilansir dari inhabitat.com, sejumlah ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, melakukan penelitian untuk menciptakan tanaman yang bisa menyala pada malam hari. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan oleh jurnal Nano Letters pada November lalu.

“Visinya adalah membuat tanaman yang akan berfungsi sebagai lampu meja, lampu yang tak perlu Anda colokkan (pada listrik). Cahaya ini pada akhirnya didukung oleh metabolisme energi dari tanaman itu sendiri,” kata Michael Strano, seorang profesor yang terlibat dalam penelitian ini.

Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala
Seorang ilmuwan sedang melakukan percobaan (Foto: YouTube)

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menanam kangkung, selada air, argula, dan bayam dengan luciferase, yaitu enzim yang membuat kunang-kunang bersinar. Tanaman-tanaman itu lalu dibenamkan dalam larutan yang mengandung lebih banyak luciferase dan luciferin. Luciferin adalah molekul yang beraksi dengan luciferase untuk memicu cahaya. Mereka juga menerapkan tekanan pada tanaman. Tekanan inilah yang memungkinkan campuran kimia meresap ke dalam pori-pori tanaman. Di situlah luciferase dan luciferin berinteraksi untuk membuat daun yang hijau bersinar.

Dalam percobaan pertama, tanaman-tanaman itu bisa bercahaya selama 45 menit. Namun, dalam publikasinya, tim melaporkan bahwa tanaman-tanaman tersebut bisa menyala selama 3,5 jam. Salah satu hal yang memungkinkannya adalah reaksi kuat dari tanama-tanaman itu terhadap formula kimia. Selada air, misalnya. Reaksi tanaman ini sangat kuat terhadap formula kimia dan menghasilkan kecerahan yang sebanding dengan separuh lampu LED di mikrowave.

Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala
(Foto: curbed.com)

Jika dicermati sungguh-sungguh, pembuatan tenaman yang menyala ini sudah dilakukan empat tahun lalu. Namanya proyek Glowing Plant. Proyek ini mengumpulkan hampir setengah juta dolar Amerika atau setara dengan 6,7 miliar rupiah untuk permulaan penelitian. Namun, proyek ini gagal dalam usaha mengedit DNA (deoxyribonucleic acid) tanaman.

Apa yang dilakukan oleh ilmuwan dari MIT ini berbeda dengan yang dilakukan tim Glowing Plant. Penelitian MIT ini didanai oleh Departemen Energi Amerika Serikat. Dalam penelitian ini, tim peneliti tidak mengubah DNA tanaman, tetapi memasukkan bahan kimia ke dalam tanaman dibanding mengubah DNA-nya.

Ilmuwan Sedang Menciptakan Tanaman yang Bisa Menyala
(Foto: curbed.com)

Penelitian ini memang masih berada pada tahap awal. Masih harus dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi. Namun, para ilmuwan ini optimistis bahwa pada suatu hari nanti, hasil penelitian mereka akan bisa dinikmati dunia. Pada suatu saat nanti, tanaman menyala ini bisa menerangi lingkungan, sehingga orang tidak perlu lagi menggunakan lampu taman.

“Tanaman dapat memperbaiki diri sendiri. Mereka memiliki energy sendiri dan sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan luar. Kami pikir ini adalah ide yang tepat pada masanya,” kata Strano.

 

#YUKKpakeYUKK

 

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry