Waspada! Demam Berdarah Sedang Mengintai di Balik Corona

Waspada demam berdarah di balik Corona
Ilustrasi (Foto: iStock)

Ketakutan akan infeksi virus Corona benar-benar nyata. Sejak diumumkan Presiden Jokowi pada awal Maret lalu, jumlah kasus terus bertambah dari hari ke hari. Demikian juga angka kematian. Peningkatannya sangat signifikan.

Hingga Selasa (23/6) pagi ini, jumlah kasus Covid-19 yang terinfeksi mencapai 46.845 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 2.500 orang meninggal dunia. Dan yang berhasil disembuhkan mencapai 18.735 orang.

Derasnya pemberitaan tentang pandemi ini membuat banyak orang lalai akan bahaya lain yang sedang mengintai. Bahaya demam berdarah dengue (DBD). Kementerian Kesehatan, hingga saat ini, mencatat lebih dari 65.000 kasus demam berdarah di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 400 orang telah meninggal dunia.

Waspada demam berdarah di balik Corona
Nyamuk Aedes aegypti (Foto: Pixabay)

Pada umumnya, menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, puncak kasus DBD terjadi pada bulan Maret. Namun, pada tahun ini, berbeda.

“Tahun ini berbeda. Kami masih melihat penambahan kasus sampai dengan bulan Juni. Kami masih menemukan jumlah kasus DBD yang cukup banyak sampai sekarang,” katanya Nadia dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (22/6) lalu.

Saat ini, Kemenkes masih menemukan 100-500 kasus DBD per hari. Jumlah yang terbilang tinggi. Pasalnya, pada periode yang sama pada tahun sebelumnya, angkanya lebih rendah.

Waspada demam berdarah di balik Corona
Ilustrasi (Foto: Klik Dokter)

Meningkatnya kasus DBD harus benar-benar diperhatikan. Beberapa daerah dengan angka kasus DBD yang tinggi juga tercatat sebagai wilayah dengan angka penularan Covid-19 cukup masif. Sebut saja Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Lampung. Data Kemenkes menunjukkan bahwa dari 490 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kasus DBD, sebanyak 439 di antaranya melaporkan kasus Covid-19.

“Jadi, ini ada infeksi ganda,” katanya.

Diduga bahwa meningkatnya ancaman DBD di tengah pandemi ini terjadi, salah satunya, dipicu oleh terganggunya akibat program juru pemantau jentik (jumantik) karena imbauan physical distancing. Jumantik adalah petugas kesehatan atau sukarelawan yang memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di suatu daerah.

“Jumantik jadi tidak optimal karena ada physical distancing,” katanya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry