Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!

Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Kedelai punya banyak kandungan nutrisinya. Dalam 100 g kacang kedelai terkandung sekitar 150-170 kalori, 10 g protein, 500 IU vitamin A, 850-900 mg kalium, 100 mg kalsium, 8 mg zat besi, 3,5-5 g serat, dan lainnya. Selain itu, ada juga isoflavon, vitamin C, vitamin B1, magnesium, folat, selenium, dan lemak omega-3 dan omega-6.

Melihat banyaknya kandungan nutrisinya, tidaklah mengherankan bahwa manfaatnya untuk kesehatan pun banyak. Beberapa manfaatnya, antara lain, menyehatkan jantung, menurunkan berat badan, melancarkan proses pencernaan, dan menurunkan risiko kanker payudara. Teranyar adalah kacang kedelai bisa menurunkan risiko demensia.

Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!
Kedelai (Foto: Getty Images)

Seperti diketahui, demensia (dementia) adalah kondisi menurunnya kemampuan otak untuk melakukan fungsi-fungsi dasarnya seperti berpikir, mengingat, berbicara, dan membuat keputusan. Jenis demensia yang paling sering terjadi adalah Alzheimer dan demensia vaskular. Yang pertama berhubungan dengan perubahan genetik dan perubahan protein di otak. Sedangkan yang kedua terjadi karena ada gangguan di pembuluh darah otak.

Risiko demensia ini bisa diturunkan dengan cara secara rutin mengonsumsi kedelai. Ini adalah hasil penemuan dari sekelompok peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat University of Pittsburgh. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia: Translational Research & Clinical Interventions.

Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Dalam penelitian itu, seperti dikutip dari Science Daily, para ilmuwan menemukan sebuah fakta menarik: pria dan wanita Jepang lanjut usia yang memproduksi equol menunjukkan tingkat materi putih yang lebih rendah pada lesi di dalam otak. Equol adalah suatu metabolit diet kedelai yang dibuat oleh jenis bakteri usus tertentu. Menurut Akira Sekikawa, profesor epidemiologi di Pitt Public Health dan penulis utama penelitian ini, lesi materi putih adalah faktor risiko yang signifikan untuk penurunan kognitif, demensia, dan semua penyebab kematian.

“Kami menemukan 50% lebih banyak lesi putih pada orang yang tidak dapat menghasilkan equol dibandingkan dengan orang yang dapat memproduksinya. Efeknya sangat besar,” katanya.

Tim peneliti mengukur kadar equol dalam darah 91 partisipan lansia Jepang dengan kognisi normal. Mereka diurutkan berdasarkan status produksi ekuivalen mereka. Pada 6—9 tahun kemudian, mereka menjalani pencitraan otak untuk mendeteksi tingkat lesi materi putih dan endapan amiloid beta yang diduga menjadi penyebab molekuler penyakit Alzheimer.

Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!
Kacang kedelai dan berbagai jenis olahannya (Foto: Getty Images)

Para peneliti menemukan bahwa produksi equol tampaknya tidak memengaruhi tingkat amiloid beta yang disimpan di dalam otak. Hal itu dikaitkan dengan pengurangan volume lesi materi putih. Kemudian ditemukan bahwa isoflavon tingkat tinggi nutrisi kedelai yang dimetabolisme menjadi equol tidak berpengaruh pada tingkat lesi materi putih atau amiloid beta saat equol tidak diproduksi.

“Kemampuan untuk menghasilkan equol dari isoflavon kedelai mungkin menjadi kunci untuk membuka manfaat kesehatan pelindung dari makanan kaya kedelai,” kata Sekikawa.

Tim peneliti juga telah menunjukkan adanya produksi equol yang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Penyakit jantung memang sangat terkait dengan penurunan kognitif dan demensia. Produksi equol dapat membantu melindungi otak yang menua serta jantung.

Tidak Mau Terkena Demensia? Makan Kedelai!
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Studi epidemiologi di Jepang terkait konsumsi kedelai secara teratur telah menunjukkan bahwa asupan isoflavon kedelai dalam makanan dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan demensia. Menariknya adalah sebagian besar uji klinis yang dilakukan di Amerika gagal menunjukkan hal itu. Menurut Sekikawa, hal itu disebabkan oleh mikrobioma. Sebanyak 40-70 persen bakteri usus orang Jepang dapat mengubah isoflavon makanan menjadi equol. Sementara itu, bakteri usus orang Amerika hanya mampu mengubah sebesar 20-30 persen.

“Suplemen equol suatu hari nanti dapat dikombinasikan dengan strategi pencegahan berbasis diet yang muncul untuk menurunkan risiko demensia, terutama Diet Approaches to Stop Hypertension (DASH) dan diet Mediterania,” imbuh Sekikawa.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry