Remaja Ini Dinyatakan Tidak Bersalah Setelah Dieksekusi Mati 91 Tahun yang Lalu

News | 17 June 2022
Remaja Ini Dinyatakan Tidak Bersalah Setelah Dieksekusi Mati 91 Tahun yang Lalu
Alexander McClay Williams menjadi headline New York Daily News (Foto: Jose F. Moreno/Inquirer)

Remaja berusia 16 tahun itu dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Pennsylvania, Amerika Serikat, karena dinilai telah membunuh seorang perempuan kulit putih. Dia dieksekusi mati setahun setelah vonis itu jatuh. Namun, 91 tahun kemudian, dia dinyatakan tidak bersalah.

Remaja itu bernama Alexander McClay Williams. Dia didakwa menikam seorang guru bernama Vida Robare di Glen Mills School for Boys pada 3 Oktober 1930 dengan alat penghancur es batu sebanyak 37 kali. Jenazah perempuan kulit putih berusia 34 tahun itu, seperti dikutip YUKK dari NBC Philadelphia, Philadelphia Inquirer, dan 6abc.com, ditemukan oleh Fred Robare, mantan suaminya, yang juga bekerja di sekolah itu.

Pada 7 Oktober, Williams ditangkap dan dipenjarakan. Tujuh belas hari kemudian, William H. Ridley, seorang pengacara Afro-Amerika, ditunjuk menjadi kuasa hukumnya. Namun, selama 17 hari itu, tanpa didampingi pengacara atau keluarganya, Williams sudah diinterogasi sebanyak 5 kali dan diminta menandatangani 3 berkas pengakuan berbeda bahwa dialah yang membunuh gurunya itu.

“Williams ‘mengaku’ melakukan pembunuhan meskipun kurangnya saksi kunci atau bukti yang menguatkan bahwa dialah pelakunya,” tulis seorang jurubicara Delaware County District Attorney’s Office.

Remaja Ini Dinyatakan Tidak Bersalah Setelah Dieksekusi Mati 91 Tahun yang Lalu
Williams di tengah pengacara dan polisi (Foto: Istimewa)

Ridley berjuang selama 74 hari untuk membela remaja itu. Tidak ada bantuan dari para ahli, tim investigasi, atau sumber lainnya. Atas usahanya itu, dia dibayar $10 (setara dengan $173 saat ini).

Sidang berjalan sangat cepat. Pada 27 Februari 1931, semua jaksa kulit putih menyatakan Williams bersalah. Dia divonis hukuman mati. Sejarah Pennsylvania mencatatnya sebagai narapidana paling muda yang dieksekuti mati di Amerika Serikat bagian timur.

Banyak orang mengatakan bahwa kasus itu selesai dengan eksekusi itu. Namun, Susie Williams-Carter yakin sekali bahwa adiknya tidak bersalah. Demikian juga Dr. Simon Lemon, cicit dari William H. Ridley.

Susie dan Lemon mulai mengumpulkan bukti bahwa Williams tidak bersalah. Salah satu bukti yang ditemukan Lemon adalah sertifikat kematian Vida Robare. Pada sertifikat itu tertulis nama Williams sebagai pembunuhnya. Padahal, ketika sertifikat itu dibuat, Williams sendiri belum ditangkap.

Remaja Ini Dinyatakan Tidak Bersalah Setelah Dieksekusi Mati 91 Tahun yang Lalu
Susie Williams-Carter (Foto: Jose F. Moreno)

Bukti lainnya adalah hasil penyelidikan tentang sidik jari orang dewasa pada dinding. Ada darah di situ. Namun, saat itu, dilaporkan bahwa tidak ada percikan darah sama sekali pada tubuh Williams.

“Tidak mungkin Anda menikam orang sebanyak 37 kali dan tidak kecipratan darah sama sekali,” seru Susie.

Sidik jari itu sebenarnya sudah diperiksa oleh dua ahli sidik jari. Namun, hasilnya tidak pernah dipublikasikan. Bahkan tidak pernah ditunjukkan atau diungkapkan dalam sidang.

Lemon sendiri sangat yakin bahwa pembunuh Vida Robare sebenarnya adalah Fred Robare, mantan suaminya sendiri. Selain karena dia adalah orang pertama yang menemukan jenazah Vida, juga karena dia sering sekali melakukan kekerasan kepada Vida. Karena kekerasan itu pulalah, Vida minta cerai.

Remaja Ini Dinyatakan Tidak Bersalah Setelah Dieksekusi Mati 91 Tahun yang Lalu
Dr. Samuel M. Lemon (Foto: Jose F. Moreno)

Berbekal bukti-bukti itu, Jack Stollsteimer, Jaksa Distrik Delaware County, menggugurkan kasus pembunuhan itu dan menyatakan Williams tidak bersalah. Menurutnya, ada banyak kesalahan yang terjadi pada kasus Williams. Mulai dari Williams yang diinterogasi polisi sebanyak lima kali tanpa kehadiran pengacara atau orang tuanya hingga mantan suami korban yang tidak pernah diperiksa sekalipun telah melakukan ‘kekejaman ekstrem’ kepada korban.

“Kami meyakini bahwa perlindungan konstitusional untuk pemuda ini dilanggar dengan cara yang tidak bisa diperbaiki,” kata Stollsteimer.

Senin (13/6) lalu, pengadilan memutuskan bahwa kasus yang terjadi pada 91 tahun yang lalu itu digugurkan. Williams dinyatakan tidak bersalah.

“Saya senang bahwa akhirnya menjadi seperti yang seharusnya sejak awal. Kami hanya ingin itu digugurkan karena kami mengetahui dia tidak bersalah dan sekarang kami ingin semua orang mengetahui itu juga,” kata Susie.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry