Penampilan Berkelas Ivan Nestorman

Ivan Nestorman
Ivan Nestorman (Foto; okezone.com)

Setelah 25 tahun berkarya di atas panggung musik tanah air, Ivan Nestorman akhirnya menggelar konser tunggalnya. Konser dengan tajuk From NTT with Hope, Ivan Nestorman: A World Music Performance itu digelar di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (28/9) malam. Konser itu sekaligus merupakan momen peluncuran album yang sudah digarapnya selama 3 tahun ini.

Dalam konser ini, lelaki asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu benar-benar menunjukkan kelasnya. Lima belas tembang ia sajikan dengan elegan. Lirik berbahasa daerah ia bungkus dengan irama etnis yang indah. “Sepanjang karier saya, mayoritas musik yang saya usung adalah musik etnis dari tanah kelahiran saya, Manggarai, dan musik etnis dari daerah-daerah di NTT,” katanya pada sela-sela penampilannya seperti yang dilansir beritasatu.com.

Ivan Nestorman
(Foto: tempo.co)

Ia memang adalah salah satu dari segelintir musisi di tanah air ini yang jatuh cinta pada musik etnis. Ia membawa warna musik yang merupakan bagian dari world music itu dari panggung ke panggung. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Prancis, Inggris, dan Amerika adalah beberapa negara yang sudah ia kunjungi bersama Nera, band yang digawangi Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Adi Dharmawan, dan Khrisna Prameswara. Jadi, jangan heran bawah lagu Tebe Onana begitu digemari di Prancis.

Musik neotradisi sebenarnya adalah musik yang menghidupkan spirit tradisi dalam balutan komposisi kontemporer. Dalam konteks ini, bebunyian khas dari daerah tertentu diangkat dan dibungkus dengan melodi kekinian. Dengar saja beberapa karya Ivan yang sudah populer seperti Mogi Dheo Kese Walo, Mata Leso Ge, dan E Wada. Warna Manggarai kental terdengar di situ.

Ivan Nestorman
(Foto; google)

Dari beberapa lagu itu, Mogi Dheo Kese Walo adalah lagu yang sangat terkenal. Lagu itu bahkan disebut-sebut sebagai lagu yang berhasil memprovokasi lahirnya linedance yang secara massal diikuti berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. “Saya ingin Mogi Dheo Kese Walo lebih mendunia demi memperkenalkan khazanah musik etnis Indonesia, terutama budaya Flores, NTT,” katanya.

Album Baru

Dalam konser tunggal itu, Ivan didukung oleh para sahabatnya yang tidak lain adalah musisi ternama. Sebut saja Dewa Budjana, gitaris GIGI, Trie Utami, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Rio Moreno, dan Nita Arsteen. Kehadiran nama-nama besar dalam dunia musik itu menjadi tanda bahwa apa yang disuguhkan Ivan dalam dan melalui From NTT with Hope, Ivan Nestorman: A World Music Performance adalah benar sebuah persembahan yang spesial. Yang elegan.

Ivan Nestorman
Ivan diiringi Dewa Budjana (Foto: tempo.co)

Dalam konser ini juga Ivan merilis album barunya yang ia beri judul Legacy. Album ini berisi tujuh buah lagu. Salah satu lagu ditulis dalam bahasa Inggris. Sementara enam lagu lainnya ditulis dalam bahasa Manggarai.

Untuk menggarap album ini, Ivan membutuhkan waktu 3 tahun. Ia menggandeng beberapa musisi terkenal untuk menggarap musik untuk beberapa lagunya. Tohpati dan Ray Sandoval, musisi dari London, misalnya, menggarap musik untuk lagu Awo Flores, Mogi, dan Ce Ce Ce.

Sebelum album Legacy ini, Ivan sudah merilis 3 buah album, yaitu Return to Lamalera, Flores The Cape of Flower, dan Flobamora with Hope. Ada beberapa karyanya yang masuk dalam album musisi lain. E Wada adalah salah satunya. Lagu itu pernah masuk dalam album Perahu Retak-nya Franky Sahilatua. #YUKKpakeYUKK

2
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry