Mengenang Coco Chanel, Si Gadis Miskin Prancis yang Menjadi Ikon Mode Dunia

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
Coco Chanel (Foto: Douglas Kirkland)

 

I don’t do fashion. I am fashion

Kalimat itu keluar dari mulut Coco Chanel. Kalimat itu memang benar. Dia tidak sedang memperagakan sebuah mode. Justru dia adalah mode itu sendiri. Dia bahkan adalah kiblat mode di seluruh dunia.

Tidak ada yang menyangka, bahkan mungkin dirinya sendiri, bahwa ia akan menjadi sangat mahsyur dalam dunia mode. Bahwa ia menjadi otak di balik tersohornya label Chanel. Bahwa tas, busana, dan parfum Chanel No. 5 yang dirilisnya pada tahun 1922 masih menjadi pilihan banyak orang di dunia saat ini.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: AFP)

Tidak ada yang menyangka, bahkan mungkin dirinya sendiri, karena sebelum tahun 1913, ia adalah seorang gadis miskin yang hidup di pinggir kota Paris. Setelah kematian ibunya, Eugenie Jeanne Devolle, ia dibawa ayahnya, Albert Chanel, ke panti asuhan yang dikelola oleh biara Aubazine dari Kongregasi Hati Kudus Maria. Ketika itu, ia berusia 12 tahun.

Di panti asuhan untuk gadis yatim piatu itu, perempuan bernama Gabrielle Bonheur Chanel itu hidup dalam kedisiplinan tinggi. Ia belajar banyak hal. Salah satunya adalah menjahit.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: biography.com)

Beranjak remaja, gadis kelahiran Saumur, 19 Agustus 1883, itu ingin mengubah nasibnya. Menjadi penyanyi klab di Vichy dan Moulins adalah pilihannya. Dan dari sinilah, ia mendapatkan nama panggilan “Coco”.

Kata itu, “Coco”, sebenarnya berasal dari lagu yang biasa dia nyanyikan. Dan kata itu adalah kependekan kata cocotte. Dalam bahasa Prancis, kata ini berarti “wanita simpanan”.

Pada tahun 1910, setelah sempat menjadi penyanyi kelab, ia membuka toko pakaian di Rue Cambon, Paris. Kemudian menyusul di Deauville dan Biarritz. Rupanya ia dekat dengan sederet pria kaya ketika masih menjadi penyanyi. Salah satunya adalah Arthur ‘Boy’ Capel, salah satu pria kelas atas asal Inggris. Pada tahun 1913, Arthur memberinya dana untuk membangun usahanya.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
Koleksi Chanel (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Pada awalnya, ia hanya menjual topi. Baru kemudian ia menjual pakaian. Namun, bukan gaun atau busana serba mewah yang dijualnya, melainkan jersey.

“Keberuntungan saya dibangun pada jersey tua tersebut yang saya kenakan karena Deauville itu dingin,” katanya seperti dikutip dari laman Biography.

Chanel kemudian memperluas bisnisnya. Kali ini dari lini wewangian. Ia meluncurkan parfum pertamanya, Chanel No. 5, pada tahun 1922. Ia memilih angka “5” karena Chanel ia merasa bahwa itu adalah angka keberuntungannya. Versi lain mengatakan bahwa angka itu menandai kreasi kelima yang dipilih Chanel dari kreator parfum Ernst Beaux.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: REUTERS/Charles Platiau)

“[Parfum] itu tak terlihat, tak terlupakan, aksesori fashion yang utama…yang menandai kedatangan dan membuat orang mengenang Anda saat Anda beranjak,” katanya kala itu. Parfum ini masih diminati hingga saat ini.

Bebaskan wanita dari siksa korset

Salah satu karya besarnya adalah membebaskan perempuan dari “siksa” korset. Ketika itu, mengenakan korset seperti sebuah “kewajiban” untuk para perempuan. Mereka rela tersiksa untuk terlihat cantik dan anggun.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: biography.com)

Inovasi dari Chanel membuat perempuan masa itu merasa bebas. Pada 1925, ia memperkenalkan setelan jaket tanpa kerah dan rok ketat (well-fitted skirt). Desain itu dianggap revolusioner pada masa itu. Ia pulalah yang memperkenalkan bell-bottomed pants pada kaum hawa yang nyaman dikenakan dalam aktivitas apa pun.

Karya fenomenalnya yang lain adalah little black dress (LBD). Karya ini bahkan masih dilirik orang hingga kini. Karya itu adalah pengejawantahan dari prinsipnya: Simplicity is the keynote of all true elegance.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: biography.com)

Kecamuk Perang Dunia II berimbas pada usahanya.  Ia harus merumahkan karyawan dan menutup usahanya. Selama masa-masa sulit itu, ia menghabiskan hari-harinya di Swiss dan di rumahnya di Roquebrune, sebuah wilayah pedesaan di dekat Monako.

Baru pada awal 1950-an, ia kembali ke panggung mode. Ketika itu, usianya sudah kepala tujuh. Dan segera saja ia menarik perhatian fashionista dunia dengan rancangannya yang feminin dan potongan yang sederhana.

Mengenang Coco Chanel, ikon mode dunia
(Foto: AFP Photo)

Chanel meninggal dunia pada 10 Januari 1971. Begitu banyak orang memenuhi Church of the Madeleine untuk mendoakannya. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepadanya dengan mengenakan setelan karyanya.

Hampir satu dekade kemudian, mendiang Karl Lagerfeld memberikan “suntikan ajaib” kepada Chanel. Suntikan itu membuat label itu semakin kokoh dalam dunia mode. Saat ini, label itu dimiliki keluarga Wertheimer. Setelah Karl meninggal, Virgine Viard memegang kendali tertinggi Chanel.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry