Mati karena Patah Hati? Sains Sudah Buktikan Itu Ada!

Mati karena patah hati
Ilustrasi (Foto: huffingtonpost.com)

Siapa bilang bahwa mati karena patah hati itu tidak nyata? Bahwa itu hanya terjadi karena orang bunuh diri? Sains sudah membuktikan hal itu. Mati karena patah hati itu memang ada. Dan sangat mungkin terjadi.

Peristiwa kematian Debbie Reynolds, aktris dan penyanyi senior dari Amerika Serikat adalah salah satu bukti nyata. Ia meninggal dunia pada 28 Desember 2016 lalu. Perempuan berusia 80 tahun itu meninggal dunia sehari setelah putrinya, Carrie Fisher, yang bermain sebagai Princess Leia dalam film Star Wars, meninggal dunia karena serangan jantung.

Dilansir kompas.com, Debbie sempat mengungkapkan rasa rindunya kepada mendiang putrinya sebelum ia terserang stroke. “Aku sangat merindukannya. Aku ingin bersama Carrie,” katanya.

Debbie Reynolds dan Carrie Fisher
Debbie Reynolds dan putrinya (Foto: Los Angeles Times)

Jebakan Gurita

Dua tahun sebelum peristiwa kematian ibu dan anak ini, para ilmuwan sudah mengungkapkan hasil sebuah penelitian tentang peristiwa kematian karena patah hati. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine. Dari penelitian itu diketahui bahwa kematian orang yang disayangi bisa meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke pada bulan berikutnya.

mati karena patah hati
Ilustrasi (Foto: theodysseyonline.com)

Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa orang yang lebih tua dua kali lebih mungkin menderita serangan jantung atau stroke 30 hari setelah kematian pasangannya.  “Sindrom patah hati itu ada dan nyata,” kata Dr. Scott Krakower, asisten kepala psikiatri di Zucker Hillside Hospital New Hyde Park, New York, Amerika Serikat.

Sindrom patah hati disebut dengan stress-induced cardiomyopathy dan takotsubo cardiomyopathy. Sindrom ini, menurut American Heart Association, bisa terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya. Sindrom ini terjadi karena sebagian otot jantung membesar dan tidak memompa darah dengan baik, sementara sebagian otot jantung masih berfungsi normal atau bekerja lebih keras. Hal inilah yang membuat detak jantung tidak teratur. Bahkan bisa menjadi terlalu lemah untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kematian terjadi karena darah tidak bisa mengalir ke seluruh tubuh.

mati karena patah hati
Ilustrasi (Foto: google)

Dilansir dari laman Popular Science, Rabu (25/10), istilah takotsubo atau takotsubo cardiomyopathy diambil dari bahasa Jepang yang berarti “jebakan gurita”. Nama itu merujuk pada bagaimana masalah bisa berkembang. Sepintas terlihat bahwa gejala sindrom ini mirip dengan gejala serangan jantung, yaitu adanya nyeri dada, tekanan darah tinggi, dan sesak napas. Yang membedakannya adalah bahwa orang yang terkena sindrom ini belum tentu mengalami kerusakan jantung atau penyumbatan pembuluh darah di jantung. Penderita mengalami gejala itu karena otot jantungnya lemah.

Dari sejumlah kasus dan penelitian akhirnya diketahui bahwa sindrom ini hampir selalu muncul pada individu yang pernah mengalami trauma intens atau masalah emosional yang ekstrem. Termasuk di dalamnya adalah patah hati karena kehilangan orang yang dicintai.

Perempuan Lebih Rentan

Sejumlah dokter dari Johns Hopkins University School of Medicine melakukan penelitian mengenai sindrom ini dalam 19 kasus, dimana 18 kasus di antaranya terjadi pada perempuan. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine pada Februari 2005 lalu dengan judul “Neurohumoral Features of Myocardial Stunning Due to Sudden Emotional Stress”.

mati karena patah hati
Ilustrasi (Foto: vebma.com)

Penelitian itu menunjukkan bahwa sindrom takotsubo berkaitan dengan bagaimana seseorang merespon secara hormonal stres yang ekstrem. Ketika terjadi peristiwa traumatis, tubuh penderita akan melepaskan hormon stres ke dalam aliran darah. Hormon inilah yang menyebabkan otot jantung menjadi lemah.  Efeknya mirip dengan jebakan yang sering digunakan untuk menangkap gurita.

Sindrom ini bisa menyerang siapa saja dan pada usia berapa pun jika mereka mengalami tekanan atau trauma emosional yang ekstrem. Dalam beberapa kasus, penderita sindrom ini bisa sembuh dalam beberapa minggu. Namun, banyak kasus menunjukkan bahwa penderita sindrom ini bisa meninggal dunia. Sindrom ini paling banyak dialami perempuan. “Satu alasan yang mungkin adalah estrogen melindungi pembuluh jantung yang lebih kecil, pembuluh yang paling dapat terpengaruh oleh hormon stress. Dan kadar estrogen turun seiring bertambahnya usia,” kata dr. Ilan Wittstein dalam sebuah jurnal yang terbit pada 2005 lalu.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
1
wow
0
sad
0
angry