Kisah Sedih Perempuan yang Alergi Sinar Matahari

News | 14 April 2021
Kisah Sedih Perempuan yang Alergi Sinar Matahari
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Tubuh membutuhkan vitamin D dalam proses pembentukan tulang. Vitamin ini juga berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, otak, dan otot. Selama pandemi ini, orang disarankan mengonsumsi vitamin D karena vitamin ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh dalam menghadapi infeksi bakteri dan virus.

Salah satu sumber vitamin D adalah matahari. Hampir 80% vitamin D yang dibutuhkan tubuh berasal dari matahari. Itulah mengapa vitamin ini disebut juga “vitamin matahari”.

Bagaimana jika ternyata kamu alergi matahari? Bagaimana jika sedikit saja paparan sinar matahari membuat kamu menderita? Itulah yang dialami Andrea Ivonne Monroy.

Kisah Sedih Perempuan yang Alergi Sinar Matahari
Andrea (Foto: Instagram/@dreafromvenus)

Perempuan berusia 28 tahun ini terpaksa menghabiskan hari-harinya di dalam ruangan. Dia harus menghindari paparan sinar matahari lantaran mengidap xeroderma pigmentosum. Itu adalah alergi sinar matahari.

Hingga saat ini, blogger asal Amerika Serikat itu sudah 28 kali divonis menderita kanker kulit. Hal ini pulalah yang membuatnya mengalami menopause dini. Bayangkan saja, dia mengalami menopause pada usia 23 tahun.

Pada awalnya, ceritanya seperti dikutip dari mirror.co.uk, dia melihat wajahnya memerah ketika terpapar sinar matahari. Dia mengira itu adalah reaksi yang biasa karena dia tidak menggunakan sunblock. Namun, gejala seperti itu tetap saja muncul sekalipun dia sudah mengolesi tubuhnya dengan sunblock sebelum keluar dari rumah.

Kisah Sedih Perempuan yang Alergi Sinar Matahari
(Foto: Instagram/@dreafromvenus)

“Kondisi saya membuat tubuh saya tumbuh lebih cepat dan saya yakin itulah sebabnya saya mulai mengalami muka memerah pada usia 23 tahun,” katanya.

Dia kemudian memeriksakan dirinya pada dokter. Hasil diagnosis menunjukkan bahwa dia mengalami kanker kulit. Oleh dokter, dia diminta untuk tidak boleh terpapar sinar matahari sedikit pun karena kondisinya tidak kunjung membaik.

“Aku telah menjalani beberapa operasi untuk mengangkat kanker kulit selama hidupku. Dan diagnosis terbaru menunjukkan aku mengidap kanker karsinoma sel basal. Aku juga sebelumnya mengidap melanoma dan banyak sel prakanker,” ungkapnya.

Ketika divonis mengalami menopause dini karena alergi sinar matahari ini, dia tidak kecewa. Pasalnya dia tidak punya keinginan untuk menjadi seorang ibu. Dia justru bersyukur masih diberikan kesempatan untuk hidup.

Kisah Sedih Perempuan yang Alergi Sinar Matahari
(Foto: Instagram/@dreafromvenus)

“Sulit memiliki kondisi ini dan terkadang saya merasa ingin menyerah. Namun, saya selalu diingatkan untuk bersyukur bahwa saya di sini masih hidup,” katanya.

Dia baru dengan bebas keluar dari rumah pada malam hari. Namun, jika dia harus keluar pada siang hari lantaran harus bertemu dengan dokter, dia biasanya memakai baju lengan panjang, topi, dan pelindung wajah. Semua yang dia pakai atau bawa itu harus bisa melidunginya dari paparan sinar matahari.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry