Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Oprasi Otak

News | 30 March 2021
Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Operasi Otak
Evelyn Morales LaGrange sebelum dan sesudah menjalankan pola hidup sehat (Foto: MDWFeatures via Daily Mail)

Sejak kecil, perempuan asal Texas, Amerika Serikat, ini sudah mengalami kelebihan berat badan. Namun, pada 2007 lalu, berat badannya melonjak dengan sangat cepat setelah dia melahirkan putrinya. Dia menjadi sangat gemuk. Pada saat yang sama, dia mengalami malformasi Chiari. Dia harus bisa menurunkan berat badannya untuk bisa menjalani operasi otak.

Begitulah Evelyn Morales LaGrange. Sejak kelahiran putrinya, berat badannya naik dengan sangat cepat. Dua tahun kemudian, dia didiagnosis mengidap hipotiroidisme. Pada kondisi ini, kelenjar tiroidtidak menghasilkan cukup hormon yang mengatur metabolisme, sehingga membuat berat badannya terus bertambah.Bahkan mencapai 226 kg.

“Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir untuk memperhatikan apa yang saya makan atau minum. Saya seorang ibu tunggal, sehingga saat terlalu lelah, saya akan memilih makanan cepat saji yang membuat berat badan saya semakin bertambah,” ungkap seperti dikutip YUKK dari Daily Mail.

Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Operasi Otak
Evelyn dengan berat badan 226 kg (Foto: MDWFeatures via Daily Mail)

Obesitas membuatnya mengalami banyak masalah kesehatan. Hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, depresi, dan kecemasan. Dia bahkan dikucilkan orang-orang di sekitarnya, termasuk pasangan hidupnya sendiri.

“Saya juga sangat menderita dengan depresi dan kecemasan. Jadi, saat saya stress, makan adalah jalan untuk menemukan rasa nyaman,” katanya.

Pada Februari 2017, tiba-tiba dia merasakan sakit di bagian belakang kepalanya. Sampai-sampai mempengarui penglihatannya. Dokter mengatakan bahwa dia mengalami malformasi Chiari, kondisi yang ditandai dengan jaringan otak meluas ke tulang belakang karena ukuran otak terlalu besar.

Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Operasi Otak
(Foto: MDWFeatures via Daily Mail)

Dampak dari malformasi Chiari itu adalah migrain dan memburuknya penglihatannya. Bahkan dia harus tidur dengan mesin CPAP untuk membantunya bernapas. Dan dia sangat menderita karena hal ini.

Satu-satunya jalan untuk mengatasi masalah ini adalah operasi dekompresi otak. Tulang di bagian belakang tengkoraknya diangkat untuk membuat lebih banyak ruang bagi otaknya. Namun, operasi baru bisa dilakukan jika dia bisa menurunkan berat badannya lebih dari separuh berat badannya.

Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Operasi Otak
(Foto: MDWFeatures via Daily Mail)

Pada 2018 lalu, dia menjalani operasi pada bagian lambungnya. Operasi itu membantunya menurunkan berat badannya secara drastis dalam 30 bulan. Setelah itu, dia mulai menjalankan pola hidup sehat.

Sebelumnya dia bisa menikmati 3 mangkuk sereal saat sarapan dan beberapa sandwiche dan nugget saat makan siang. Pada malam hari, dia bisa makan 2 mangkuk spaghetti atau burger. Dalam sehari, dia bisa mengonsumsi 4.000 kalori. Lantaran kelebihan berat badan, dia tidak bisa berjalan-jalan atau berolahraga.

Sekarang dia sudah berubah. Menu sarapannya adalah protein shake dan telur. Saat makan siang, dia makan salad ayam atau tuna. Dan menu makan malamnya adalah daging dan sayuran atau salad. Ketika tidak muncul rasa sakit pada kepalanya, dia pasti melakukan latihan angkat beban dan jalan kaki sejauh yang dia mampu lakukan.

Kisah Ibu yang Berjuang Turunkan Berat Badan Demi Operasi Otak
Evelyn berburu bersama keluarganya (Foto: MDWFeatures via Daily Mail)

“Saya harus belajar makan makanan sehat, belajar memilih makanan sehat, dan belajar mengubah relasi saya dengan makanan,” katanya.

Pola hidup sehat ini tetap dipertahankannya sambil menunggu jadwal operasi otaknya.

“Sebuah perubahan kecil akan mengubah kebiasaan hidup sehat dalam jangka waktu yang lama,” katanya.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry