Jangan Lengah! Ini Modus Baru Penipuan Kripto yang Bisa Merampokmu

Jangan Lengah! Ini Modus Baru Penipuan Kripto yang Bisa Merampokmu
Ilustrasi (Foto: packetlabs.net)

Antusiasme orang untuk masuk ke dalam dunia kripto makin tinggi. Data menunjukkan bahwa, saat ini, tercatat lebih dari 300 juta pengguna kripto di dunia dan 18.000 bisnis menerima pembayaran dengan uang kripto. Dan India, seperti dikutip dari triple-a.io, menjadi negara dengan jumlah pengguna kripto terbanyak di dunia. Di bawah India ada Amerika Serikat, Nigeria, Vietnam, dan Inggris.

Seiring dengan makin banyaknya pengguna kripto dan platform jual-belinya, makin tinggi pula kasus penipuan yang terjadi. Salah satu kasus terheboh di dunia adalah penipuan Bitconnect. Pada awalnya, mata uang kripto itu dipromosikan sebagai cryptocurrency open-source dengan jaminan profit investasi sebesar 40%. Belakangan diketahui bahwa Bitconnect adalah modus investasi palsu dengan skema Ponzi. Nilai kerugian mencapai US$3,45 miliar atau setara dengan Rp49,33 triliun.

Selain skema Ponzi seperti itu, masih ada banyak kasus kejahatan lainnya. Salah satu di antaranya adalah pelaku menjual bot (robot)One Time Password (OTP) melalui Telegram. Bot ini digunakan untuk menipu para investor dengan cara membocorkan otentikasi dua faktor (2FA) dan membuat akun mereka dihapus.

Jangan Lengah! Ini Modus Baru Penipuan Kripto yang Bisa Merampokmu
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Kasus ini diketahui publik setelah dilaporkan oleh Anders Apgar, salah satu korbannya. Seperti dikutip dari CNBC International, Anders dan istrinya mengaku mendapatkan telepon yang tampak seperti robocall. Setelah mengangkat telepon itu, muncul notifikasi bahwa akunnya dalam bahaya. Perempuan di dalam telepon itu mengatakan bahwa ada aktivitas tidak sah dalam akunnya. Tidak lama kemudian, muncul kode 2FA di layar dan akunnya terkunci dalam waktu kurang dari dua menit.

“Panggilan bot dibuat dengan cara yang sangat terampil, menciptakan rasa urgensi dan kepercayaan lewat telepon. Panggilan mengandalkan rasa takut, meyakinkan korban untuk bertindak ‘menghindari’ penipuan dalam akun mereka,” ungkap laporan Q6 Cyber, perusahaan keamanan siber.

Penipuan ini berhasil karena robocall bisa terdengar seperti panggilan resmi. Apalagi jika korban sedang terganggu oleh hal lain saat menerima telepon. Tambahan lagi, korban sudah terbiasa memberikan kode otentikasi untuk melakukan verifikasi informasi akun

Jangan Lengah! Ini Modus Baru Penipuan Kripto yang Bisa Merampokmu
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Ini sifat manusia. Jika Anda menerima panggilan yang memberitahu Anda bahwa seseorang mencoba masuk ke dalam akun Anda, Anda tidak berpikir ‘Ya, saya tidak mencoba’,” jelas analis Q6 Cyber, Jessica Kelley, yang menulis laporan ini.

Bot ini mulai dijual lewat Telegram beberapa waktu lalu. Kelley mengidentifikasi ada sekitar 6 kanal dengan lebih dari 10 ribu pelanggan menjual layanan ini. Biaya bot berkisar US$100 (Rp1,4 juta) per bulan hingga US$4.000 (Rp57,1 juta) untuk langganan seumur hidup. Para penipu sering membual dengan mengatakan bahwa bot bekerja dengan baik dan menjaring ribuan keping kripto.

 

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry