Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Sekelas Desainer Top

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
(Foto: kemsos.go.id)

Dalam beberapa hari terakhir ini, seorang gadis dari Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi buah bibir. Namanya Windi Setyoningsih. Namanya disebut-sebut warganet karena kemampuannya yang luar biasa. Sketsa bikinannya tidak kalah indah dengan sketsa desainer top sekalipun ia mengalami disabilitas intelektual.

Menjadi viral-nya nama Windi tidak lepas dari campur tangan pemilik akun Facebook @Fauzan Mukrim. Jumat (26/1) lalu, dia membagikan kisah gadis sederhana dari Dusun Blandong, Desa Purworejo, Kecamatan Sragi, ini. Dalam dan melalui akun Facebook-nya, dia mengunggah beberapa foto yang diabadikan oleh Akhir Nurul Fairyda.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Windi sedang membuat sketsa gaun (Foto: Fauzan Mukrim/Facebook)

Nurul, seperti dihimpun YUKK dari beberapa sumber, adalah seorang perawat di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini, Temanggung, Jawa Tengah. Dia bertemu dengan Windi ketika sedang menjalankan tugasnya merekrut anak-anak penyandang disabilitas di Kabupaten Pekalongan. Pada 2016 lalu, Windi pernah mendapatkan pelayanan Rehabilitasi Sosial Berbasis Keluarga (RSBK) dari BBRSBG.

Kamis (25/1) lalu, karena rasa penasaran yang tinggi, dia memutuskan untuk mengunjungi gadis dengan kemampuan nalar yang lemah, tapi pandai membuat sketsa gaun ini. Dia ingin melihat dari dekat bagaimana gadis berusia 22 tahun itu membuat sketsa gaun yang indah.

“Saat itu, kedua orang tuanya sedang pergi. Windi sendirian di rumah. Jadi, saya berbincang dengan kakak sepupu Windi yang bernama Reza Susmiati,” kata Nurul seperti dilansir kumparan.com.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Sketsa Windi dalam buku yang diberikan perawat yang mendampinginya (Foto: Akhir Nurul Fairyda)

Dia meminta Windi untuk memperlihatkan buku gambarnya. Pada awalnya gadis itu malu-malu. Baru setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya dia mau juga memperlihatkan sketsa baju bikinannya.

Sekadar diketahui, Windi sudah hobi menggambar sejak masih kecil. Namun, baru lima tahun belakangan ini ia membuat sketsa baju. Sebelum membuat sketsa di dalam buku sketsa, ia biasanya membuat sketsa di atas kertas apa saja. Bahkan tidak jarang juga ia membuat sketsa dalam buku tulis milik adiknya. Baru pada 2016 lalu, seorang lelaki bernama Ragil Mulyanto memberikannya buku sketsa beserta peralatan menggambar.

Nurul benar-benar kaget ketika melihat sketsa itu. Mengapa tidak, sketsa itu hampir sempurna. Tak ubahnya sketsa bikinan desainer top yang penuh dengan detail.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Windi membuat sketsa tanya contoh (Foto: kemsos.go.id)

Apakah benar sketsa itu adalah bikinan Windi? Bagaimana bisa seorang gadis yang tidak lulus SD itu bisa membuat sketsa dengan detail yang begitu jelas? Dengan perhitungan yang begitu tinggi?

Dia lalu meminta gadis itu untuk menggambar sesuatu saat itu juga. Gadis itu memenuhi permintaannya. Dan dia merekam dan menjepret kesempatan yang menurutnya sangat besar itu.

“Windi menggambar tanpa penghapus. Kanan-kirinya simetris. Tanpa mikir. Mengalir begitu saja. Dan menggambar tanpa melihat contoh desain apa pun. Bikin bengong kalau lihat cara gambarnya,” ceritanya.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Salah satu karya Windi dalam buku tulis adiknya (Foto: Akhir Nurul Fairyda/bbc.com)

Dia memang tidak berhenti berdecak kagum. Benar-benar tidak menyangka bahwa gadis yang dianggap “bodoh” oleh warga di dusunnya itu ternyata punya talenta yang luar biasa besar.

“Saya ajak keluar untuk gambar di teras. Sepupunya carikan pinsil seadanya. Dan dia gambar dengan lincah tanpa liat pola apa pun dan tanpa contoh. Gambarnya seperti baju India. Mungkin pengaruh nonton TV. Saya tanyakan, tapi tak diiyakan. Gerakannya cepat banget. Kayak terlatih begitu,” jelasnya seperti dilansir bbc.com.

Hanya sampai kelas 4 SD
Tidak hanya Nurul yang kagum pada Windi dan sketsa bikinannya, tetapi juga salah seorang tetangganya. “Cah bodoh jebule pintar gambar (Anak bodoh ternyata pintar gambar),” celetuknya.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
(Foto: Fauzan Mukrim/Facebook)

Di dusunnya, Windi memang disebut “anak bodoh”. Disebut demikian karena ia mengalami disabilitas intelektual. Menurut perawat balai yang selama setahun mendampinginya, gadis itu dikategorikan “tak mampu membaca, bisa menulis namanya sendiri karena hafalan, dan kemampuan berhitung hanya sampai 20.”

Ia sempat belajar di sekolah dasar. Namun, ia berhenti ketika masih duduk di bangku kelas 4. Ia berhenti karena sering diejek. “Saya hanya sampai kelas 4 SD dan tidak sekolah lagi karena sering diejek. Lalu mulai gambar setiap hari karena hobi,” katanya seperti dilansir sindonews.com.

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Salah satu hasil coretan Windi (Foto: detik.com)

Tidak ada orang yang mengajarinya bagaimana menggambar. Ia menggambar apa yang ia lihat melalui layar televisi. Pada awalnya, ia menggambar di buku tulis biasa. Beberapa warga yang peduli padanya memberikannya kertas gambar. Saat ini, sudah cukup banyak sketsa yang dibuatnya. Sebagian besar adalah rancangan gaun wanita. Semuanya ia kumpulkan dalam beberapa bundel.

“Saya tidak tahu sudah berapa gambar rancangan saya sendiri. Tidak tahu nanti siapa yang mau memakai. Saya hanya ingin sekali bertemu Ivan Gunawan,” katanya.

Buruh lipat kasa

Inilah Windi, “Cah Bodoh” dari Pekalongan dengan Sketsa Mirip Desainer Top
Kasa yang dilipat Windi (Foto: Akhir Nurul Fairyda/Facebook)

Sebelum diberikan buku gambar oleh warga dan perawat yang mendampinginya, Windi menuangkan karyanya ke atas kertas apa saja dan buku tulis adiknya. Ia tidak bisa membeli buku gambar atau sketsa. Maklum, kehidupan keluarganya sangat sederhana.

Windi dan keluarganya tinggal di rumah yang diberikan pemerintah beberapa tahun lalu. Ayahnya, Karsidin, adalah seorang buruh sablon. Sementara ibunya, Suniti, adalah buruh tani dan bekerja serabutan, antara lain, melipat kassa.

Untuk membantu orang tuanya, Windi ikut melipat kasa. Kasa itu kemudian disetorkan kepada pengepul. Hasil dari pekerjaan ini pun tidak besar. Hanya sekitar Rp7.000,00—Rp10.000,00.

Windi berharap agar sketsa bikinannya bisa dilirik para desainer ternama. Dengan begitu, ia bisa membantu keluarganya. Saat ini, kata Nurul, banyak desainer yang menghubunginya untuk bertanya-tanya tentang Windi dan sketsanya.

 

#YUKKpakeYUKK

 

2
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry