Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan

Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan
(Foto: newsfounded.com)

Tidak bisa disangkal bahwa media sosial, apa pun platform itu, punya banyak sisi positif. Lihatlah bagaimana seorang anak tiba-tiba saja bisa pandai berbisnis karena belajar dari jejaring sosial. Namun, tidak bisa disangkal juga bahwa ada banyak dampak negatif dari sebuah platform media sosial. Sudah berapa banyak anak dan remaja yang stress dan bahkan bunuh diri karena unggahan atau kritikan atau bahkan perundungan?

Salah satu media sosial dengan efek negatif yang besar, khususnya terhadap remaja perempuan, adalah Instagram. Dan rupanya Facebook sadar akan hal ini. Demikian hasil riset internal yang dibocorkan Wall Street Journal seperti dikutip YUKK dari The Week. Namun, perusahaan Mark Zuckerberg itu diam saja dan berusaha menjaga hasil riset itu dari publik.

Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan
Ilustrasi (Foto: Getty Images)

Menurut laporan Wall Street Journal, beberapa kali Facebook melakukan penelitian tentang bagaimana aplikasi sharing foto Instagram mempengaruhi jutaan pengguna. Hasilnya menunjukkan bahwa ternyata Instagram berbahaya bagi kesehatan jiwa sebagian besar pengguna. Lebih khusus lagi remaja perempuan.

“Kami memperburuk masalah citra tubuh untuk satu dari tiga remaja perempuan,” demikian bunyi salah satu slide riset internal dari tahun 2019.

Riset yang dilakukan pada Maret 2020 lalu juga menunjukkan hasil yang sama.

“Tiga puluh dua persen gadis remaja mengatakan bahwa ketika mereka merasa buruk tentang tubuh mereka, Instagram membuat mereka merasa lebih buruk,” demikian bunyi salah satu slide presentasi.

Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan
Ilustrasi (Foto: Crello)

Yang mulai mencemaskan adalah pengguna remaja sudah menyalahkan Instagram atas meningkatnya rasa cemas dan depresi yang mereka alami.

“Reaksi ini tidak terduga dan konsisten di semua kelompok,” bunyi salah satu slide presentasi.

Kesimpulan dari eksekutif pemasaran, desain produk, dan ilmuwan data di Facebook, seperti dikutip YUKK dari The Wall Street Journal, sangat jelas: Instagram memberikan gangguan khusus kepada pengguna. Dan masalah ini tak ada di platform media sosial lain. Salah satu gangguan itu adalah “perbandingan sosial” dimana pengguna menilai diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan daya tarik, kekayaan, dan kesuksesan orang lain.

“Aspek Instagram memperburuk satu sama lain untuk menciptakan badai yang sempurna,” demikian bunyi salah satu laporan internal.

Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan
Ilustrasi (Foto: Crello)

Laporan yang sama juga menunjukkan dengan jelas fakta bahwa tekanan pengguna untuk hanya membagikan momen terbaik dan terlihat sempurna dapat membuat remaja mengalami depresi, merasa harga dirinya rendah, dan mengalami gangguan makan. Puncaknya adalah meningkatnya tendensi bunuh diri. Di Amerika Serikat, menurut salah satu laporan internal, sebanyak 6% remaja mengaku ingin bunuh diri. Di Inggris, jumlahnya bahkan lebih besar lagi: 13%.

Respons Instagram
Laporan dari Wall Street Journal itu akhirnya ditanggapi Instagram lewat blog resminya. Instagram menuding laporan Wall Street Journal berfokus “pada serangkaian temuan terbatas dan melemparkannya ke dalam sorotan negatif”.

“Masalah seperti perbandingan sosial negatif dan kecemasan ada di dunia. Jadi, mereka juga akan ada di media sosial. Itu tidak mengubah fakta bahwa kami menganggap serius temuan ini dan kami menyiapkan upaya khusus untuk menanggapi penelitian ini dan mengubah Instagrammenjadi lebih baik,” kata Karina Newton, Head of Public Policy Instagram, seperti dikutip YUKK dari blog resmi Instagram.

Hasil Riset Facebook: Instagram Berbahaya Bagi Kesehatan Jiwa Remaja Perempuan
Ilustrasi (Foto: stock.adobe.com)

Instagram mengaku, berdasarkan penelitian dan masukan dari para ahli, sudah mengembangkan fitur yang bisa melindungi pengguna dari perundungan. Misalnya, memberikan pilihan kepada pengguna untuk menyembunyikan jumlah “likes” pada sebuah unggahan.

“Kami juga ingin lebih transparan terkait riset yang kami lakukan, baik secara internal maupun dalam kolaborasi dengan peneliti lainnya,” sambung Karina.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry