Penelitian Baru: Orang yang Suka Baca Buku Ternyata Lebih Berempati

Penelitian Baru: Orang yang Suka Baca Buku Ternyata Lebih Berempati
(Foto: google)

Orang yang suka membaca buku diketahui memiliki empati yang lebih besar kepada orang lain. Orang seperti itu tahu menempatkan diri dan mampu mengelola emosinya. Itu adalah kesimpulan dari beberapa penelitian yang dilakukan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Pada tahun 2013 lalu, seperti dilansir kompas.com, dilakukan penelitian di Emory University, Amerika Serikat, untuk melihat hubungan antara membaca buku dengan bagaimana seseorang bersikap terhadap orang lain. Dalam penelitian itu, para peneliti membandingkan hasil pemindaian otak antara orang yang hobi membaca dengan yang tidak lewat scan MRI (Magnetic Resonance Imaging). Sebelumnya mereka diminta untuk membaca literatur klasik.

Setelah melakukan pemindaian, para peneliti menemukan bahwa aktivitas otak dari orang-orang yang suka membaca meningkat di area pemahaman bahasa dan visualisasi gerakan. Kedua area otak ini punya peranan penting dalam membentuk emosi dan empati seseorang.

Penelitian Baru: Orang yang Suka Baca Buku Ternyata Lebih Berempati
Ilustrasi (Foto: google)

Hal itu dibuktikan juga oleh Matthijs Bal dan Martijn Verltkamp yang melakukan penelitian tentang hal yang sama pada tahun yang sama. Mereka mencari tahu seberapa jauh emosi seseorang terbawa ketika membaca buku. Mereka mencari tahu seperti apa perasaan orang itu ketika tahu karakter utama dalam buku itu berhasil. Mereka ingin melihat seperti apa perasaan kasihan, marah, atau cemburu orang itu pada karakter utama dalam buku itu. Dan mereka ingin tahu bagaimana semua perasaan yang muncul ketika orang itu membaca buku bisa membangun kepekaan kepada orang lain dalam dunia yang nyata.

Belum lama ini, tim peneliti dari University of South Carolina, Amerika Serikat, melakukan penelitian tentang topik yang sama dengan cara melakukan pemindaian otak melalui scan MRI. Dari penelitian itu, mereka menemukan fakta bahwa otak seseorang bisa merespon alur cerita untuk mengembangkan empati terhadap orang lain. Bahkan ketika orang itu membaca buku yang ditulis dalam bahasa lain.

Penelitian Baru: Orang yang Suka Baca Buku Ternyata Lebih Berempati
Ilustrasi (Foto: google)

Tim peneliti mengajak 9 peserta dari Amerika, China dan Iran untuk membaca buku. Buku ditulis dalam 3 bahasa, yaitu bahasa Mandarin, Inggris dan bahasa Arab Persia. Ketika para peserta membaca buku dan menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan tim peneliti, otak mereka “dibaca” dengan mesin MRI.

Morteza Dehghani, salah satu peneliti dari Brain and Creativity Institute di University of South Carolina, mengatakan bahwa meskipun peserta membaca buku yang ditulis dalam bahasa yang lain, otak mereka tetap bisa memahami alur dan isi cerita. Mereka dapat berempati. Hal seperti ini sebenarnya terjadi di dalam otak semua manusia. Namun, otak pembaca literatur klasik menunjukkan tingkat empati yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembaca literatur modern.

Penelitian Baru: Orang yang Suka Baca Buku Ternyata Lebih Berempati
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Tidak hanya bisa meningkatkan empati terhadap orang lain, membaca buku juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Seperti apa hubungan antara membaca buku dengan kesehatan? Dari penelitian itu, para peneliti menemukan bahwa orang yang membaca buku biasanya lebih tenang. Tekanan darahnya pun lebih stabil.

#YUKKpakeYUKK

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry