Mengapa Virus Corona Lebih “Galak” kepada Orang Dewasa daripada Anak-Anak?

mengapa anak-anak lebih kebal terhadap virus corona?
Anak-anak menggunakan masker untuk terhindar dari virus corona (Foto: Getty Images)

Serangan virus corona semakin ganas. Hingga hari ini, Selasa (11/2), seperti dilansir Reuters,jumlah korban yang meninggal dunia mencapai 1.016 orang. Dan jumlah korban yang terinfeksi mencapai 42.638 orang. Paling banyak, baik yang meninggal dunia maupun yang terinfeksi, berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei.

Dari peristiwa yang kelam ini, ada satu hal yang menarik perhatian para petugas medis dan ilmuwan. Sangat sedikit anak-anak yang tertular virus ini. Justru orang dewasalah yang paling banyak diserang virus ini.

“Median umur pasien adalah antara 49 dan 56 tahun. Kasus pada anak terbilang langka,” tulis para ilmuwan dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan melalui Journal of the American Medical Association (JAMA).

mengapa anak-anak lebih kebal terhadap virus corona?
Korban virus corona (Foto: Reuters)

Mengapa virus yang untuk sementara dinamai 2019-nCoV ini jarang sekali menyerang anak-anak? Hingga saat ini, para ilmuwan belum menemukan jawaban yang pasti. Namun, sudah lama mereka menemukan pola serupa, termasuk pada kasus cacar air (chickenpox) dan campak (measles). Demikian juga dalam kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang sama-sama disebabkan oleh keluarga virus corona.

“Kami tidak memahami sepenuhnya fenomena tersebut. Mungkin karena perbedaan respons imun pada anak dibanding pada dewasa,” kata Dr. Andrew Pavia dari University of Utah seperti dilansir Livescience.

mengapa anak-anak lebih kebal terhadap virus corona?
(Foto: Getty Images)

Salah satu hipotesis yang dikemukakan adalah perbedaan respons imun bawaan. Respons imun bawaan adalah respons awal yang ditujukan pada kelompok patogen. Pada anak, respons imun bawaan cenderung lebih aktif.

Hipotesis lainnya adalah anak-anak juga terinfeksi, tetapi lebih sedikit memunculkan gejala. Sebuah kasus menunjukkan hal ini. Seorang bocah 10 tahun pulang ke Zhenzhen setelah bepergian dari Wuhan bersama keluarganya. Keluarganya, yang berusia 36-66 tahun, mengalami demam, nyeri tenggorokan, diare, dan pneumonia. Bocah ini juga menunjukkan ada pneumonia akibat infeksi virus, tetapi tidak menunjukkan gejala di luar. Menurut beberapa ilmuwan, ini adalah tipikal infeksi virus corona pada anak.

Ilustrasi (Foto: iStock)

“Dipastikan bahwa anak bisa terinfeksi tanpa gejala (asimptomatis) atau memiliki gejala sangat ringan,” kata dr. Raina MacIntyre, ahli epidemologi dari University of New South Wales, Sydney, seperti dilansir Nytimes.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry