Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
Kelor (Foto: Flickr)

Belakangan ini, sejumlah negara mengincar salah satu jenis superfood yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi primadona.  Mulai dari Eropa hingga Amerika Serikat. Mereka mengincar superfood itu karena dianggap bisa mengatasi masalah stunting dan masalah kesehatan lainnya.

Tanaman yang disebut superfood itu tumbuh subur di beberapa wilayah di Indonesia, superit di Blora, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Tanaman superfood itu adalah kelor.

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
(Foto: Istimewa)

“Kelor sudah digunakan di banyak negara yang menderita malnutrisi, stunting, yang kemudian sudah lepas dari masalah itu. Kelor diakui WHO dan FAO mampu menangani malnutrisi,” kata Ai Dudi Krisnadi, pengusaha daun kelor beromzet miliaran rupiah asal Blora, seperti dikutip YUKK dari Kompas.com.

Superfood adalah pangan fungsional bernilai gizi tinggi dan kaya antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan. Ada banyak jenis superfood. Selain daun kelor, ada juga ganggang chlorella, goji berry, spirulina, cokelat, wheat grass, camu camu, dan acai.

Apa saja manfaat kesehatan dari daun kelor? Berikut beberapa di antaranya:

Bergizi tinggi

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
(Foto: Istimewa)

Dalam buku berjudul Tanaman Kelor: Nilai Gizi, Manfaat, dan Potensi Usaha (2018), F. G. Winarno menulis bahwa daun kelor kaya akan gizi. Di dalamnya ada protein, vitamin A, kalium, kalsium, dan vitamin C yang lebih tinggi ketimbang bahan pangan populer lain. Di dalam 100 g daun kelor kering terkandung protein dua kali lebih tinggi daripada yoghurt, vitamin A tujuh kali lebih tinggi daripada wortel, kalium tiga kali lebih tinggi daripada pisang, kalsium empat kali lebih tinggi daripada susu, dan vitamin C tujuh kali lebih tinggi daripada jeruk.

Selain itu, seperti dikutip dari Healthline, daun kelor juga mengandung vitamin B6, zat besi, magnesium, serta riboflavin B2. Namun, daun kelor juga punya efek samping, yakni kadar antinutrien yang tinggi. Apabila dikonsumsi berlebihan, asupan ini dapat mengurangi penyerapan mineral dan protein. Oleh karena itu, konsumsilah daun kelor bersama makanan bergizi lain agar kecukupan nutrisi tetap terjaga.

Menurunkan gula darah

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
Ilustrasi (Foto: iStock)

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daun kelor efektif menurunkan kadar gula darah karena senyawa antioksidan isothiocyanate yang terkandung di dalamnya. Salah satu studi melibatkan 30 wanita yang mengonsumsi 1,5 sendok teh bubuk daun kelor per hari selama tiga bulan. Hasilnya adalah kadar gula darah puasa mereka turun rata-rata sebesar 13,5%. Studi kecil lainnya melibatkan 6 penderita diabetes yang diberi 50 g daun kelor dalam menu makanannya. Hasilnya, kadar gula darah mereka turun 21%.

Membantu mengurangi peradangan

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Selain menurunkan gula darah, senyawa isothiocyanate yang ada di dalam daun kelor juga potensial untuk membantu mengurangi peradangan. Peradangan adalah respons alami tubuh ketika menghadapi infeksi atau cedera. Pengidap penyakit kronis seperti jantung dan kanker umumnya juga mengalami peradangan.

Membantu menurunkan kolesterol jahat

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Berbagai penelitian, baik terhadap manusia, maupun terhadap hewan telah menunjukkan bahwa mengonsumsi daun kelor dapat menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh. Selain daun kelor, bahan lain yang bisa menurunkan kolesterol tinggi adalah gandum utuh atau beras merah, kacang-kacangan, sayur, dan buah.

Melindungi tubuh dari racun arsenik

Inilah Superfood yang Diburu Eropa Hingga Amerika
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Penelitian menunjukkan bahwa paparan arsenik jangka panjang bisa meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung.Mengonsumsi daun kelor diketahui dapat melindungi tubuh dari efek buruk arsenik. Riset tersebut cukup menjanjikan. Namun, tetap diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry