Benarkah Kematian Pasien Covid-19 karena Interaksi Obat? Ini Kata Ahli

Benarkah Kematian Pasien Covid-19 karena Interaksi Obat? Ini Kata Ahli
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Nama dr. Lois Owien tengah menjadi buah bibir masyarakat. Dalam sebuah acara televisi, dokter yang menolak memakai masker itu mengatakan bahwa dia tidak percaya adanya Covid-19 dan bahwa kematian pasien Covid-19 dipicu oleh interaksi obat.

“Interaksi obat-obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari 6 macam,” katanya dalam Hotman Paris Show.

Pernyataan tentang kematian pasien Covid-19 karena interaksi obat ini benar-benar meresahkan masyarakat. Dikhawatirkan pernyataan seperti ini membuat masyarakat, khususnya yang sedang menjalani isolasi mandiri, takut mengonsumsi obat yang sebenarnya mereka butuhkan dalam perawatan ini. Selain itu, penyangkalannya terhadap penyakit Covid-19 dikhawatirkan mempengaruhi masyarakat untuk tidak memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan. Karena itulah, polisi menangkapnya.

Benarkah interaksi obat bisa menyebabkan kematian? Menurut Prof. Zulies Ikawati, pakar farmakologi dan farmasi klinis, pernyataan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

WHO: Dunia di Titik Berbahaya!
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien COVID-19 adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya seperti dikutip YUKK dari CNN Indonesia.

Pada dasarnya, interaksi obat adalah pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain yang digunakan secara bersamaan. Interaksi obat ini bisa menimbulkan beberapa hal seperti meningkatkan atau mengurangi efek obat lain dan memicu efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan.

“Karena itu, sebenarnya interaksi ini tidak semuanya berkonotasi berbahaya. Ada yang menguntungkan, ada yang merugikan. Jadi, tidak bisa digeneralisir dan harus dikaji secara individual,” jelasnya.

Ilustrasi (Foto: Kompas)

Dalam kasus pasien Covid-19 dengan komorbid, obat-obat yang dibutukan memang lebih banyak. Misalnya, pasien Covid-19 dengan hipertensi. Pada kondisi hipertensi yang tidak terkontrol dengan obat tunggal, bisa ditambahkan kombinasi hingga 2—3 obat antihipertensi.

“Dalam kasus ini, memang pemilihan obat yang akan dikombinasikan harus tepat, yaitu memiliki mekanisme yang berbeda. Sehingga, ibarat menangkap pencuri, dia bisa dihadang dari berbagai penjuru,” terangnya.

Dalam kasus seperti ini, obat-obat yang diberikan itu memang akan saling berinteraksi untuk menurunkan tekanan darah pasien. Namun, risiko efek sampingnya juga meningkat karena obat yang digunakan banyak. Meskipun demikian, kombinasi beberapa macam obat tetap diperlukan karena kondisi setiap pasien berbeda satu sama lain. Apalagi Covid-19 bisa menyebabkan peradangan pada paru, gangguan pembekuan darah, gangguan pencernaan, dan lain-lain.

Daftar Hotel di Jakarta yang Bisa Digunakan untuk Isolasi Mandiri
Ilustrasi (Foto: Freepik)

“Karena itu, sangat mungkin diperlukan beberapa macam obat untuk mengatasi berbagai gangguan tersebut di samping obat antivirus dan vitamin-vitamin,” katanya.

 

 

#YUKKpakeUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry