Benarkah Echa Mengidap Sindrom Putri Tidur?

Echa si Putri Tidur
(Foto: google)

Dalam beberapa hari terakhir ini, sebagian besar masyarakat dikejutkan dengan berita tentang “kelainan” seorang remaja berusia 13 tahun dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Remaja bernama lengkap Siti Raisa Miranda itu tidur dalam waktu yang sangat lama. Tepatnya selama 13 hari berturut-turut.

Peristiwa itu membuat orang menduga-duga bahwa jangan-jangan apa yang dialami Putri Aurora dalam film Sleeping Beauty itu memang lebih dari sekadar sebuah fairy tale.  Lebih dari sekadar sebuah cerita yang dibuat-buat untuk menghibur orang. Jangan-jangan memang ada “kelainan” seperti itu.

Sleeping beauty
Sleeping Beauty dalam lukisan (Foto: medievalists.net)

Sekadar diketahui, Walt Disney pernah memproduksi sebuah film animasi berjudul Sleeping Beauty. Film yang diadaptasi dari novel berjudul The Sleeping Beauty karya Charles Perrault itu dirilis pada akhir Januari 1959. Film itu bercerita tentang Princess Aurora yang, karena sebuah kutukan, tidur sangat panjang. Selama 100 tahun. Dia baru bisa bangun setelah dicium seorang pangeran tampan.

Periode tidur Echa, demikian panggilan Siti Raisa Miranda, dengan periode tidur Putri Aurora memang berbeda. Echa hanya tidur 13 hari. Sementara Putri Aurora selama 100 tahun. Namun, apa yang dialami Echa tetap saja merupakan fenomena yang menarik. Langka.

Echa si putri tidur
(Foto: google)

Dilansir dari kompas.com, cerita tentang Echa yang tidur selama 13 hari itu langsung menjadi buah bibir setelah sang ayah, Mulyadi, mengunggah fotonya pada 18 Oktober lalu. Dalam foto yang diunggah melalui akun Facebook-nya, Moel Ya Lo Ve, terlihat jelas Echa sedang tidur pulas. Di atas foto itu ada keterangan.

Penyakit tidur Echa kambuh. Hingga malam ini Echa sudah tidur selama 10 hari 10 malam.. menurut dokter umum fisiknya ok aja, dokter specialis jiwa belum bisa menggali lebih dalam,” tulisnya.

Echa si Putri Tidur
Echa sedang dijaga ibunya, Siti Lili Rusita (Foto: gimg.kumpar.com)

Ternyata itu bukan kali pertama Echa tidur dalam waktu yang sangat lama. Ia pernah tidur selama 7 hari. Sebelumnya ia bahkan pernah tidur selama 8 hari. “Kalau kambuhnya, sudah kedelapan (kali). Kalau tidurnya (lama) yang ketiga,” kata Mulyadi.

Sindrom Kleine-Levin

Menurut dr. Rimawati Tedjakusuma, SpS.RPSGT, ahli saraf dan peneliti tidur, sangat mungkin siswi SMPN 15 Banjarmasin itu mengidap sindrom Kleine-Levin. Data mencatat bahwa sejak 1964—2004, sindrom yang disebut juga Sleeping Beauty syndrome itu hanya menimpa 186 orang di dunia. Dan kebanyakan penderitanya adalah perempuan.

Gejala yang sangat mencolok dari sindrom ini adalah periode tidur yang sangat lama. Pengidap sindrom ini bisa tidur selama hampir sebulan. Mereka bisa bangun tiba-tiba untuk makan dan ekskresi lalu tidur lagi. Pada akhir masa tidur, lumrah terjadi insomnia.

Echa si Putri Tidur
Echa sedang dijaga keluarganya (Foto: tribunnews.com)

Periode tidur bisa berlangsung selama hampir sebulan. Penderita bisa bangun tiba-tiba untuk makan dan ekskresi namun akan tidur lagi. Di akhir masa tidur, lumrah terjadi insomia dalam waktu singkat. Dan, menurut Santosh Ramdurg, dalam publikasinya di Annual Indian Academy of Neurology pada 2010 lalu, pendeirta Kleine-Levin bisa mengalami gangguan kognitif, mempunyai hasrat seksual yang berlebihan, dan menderita halusinasi dan gangguan mood.

Apa yang dialami Echa memang tidak jauh berbeda dengan gejala sindrom Kleine-Levin. Dia pernah tidur selama hampir 2 minggu. Sempat bangun untuk makan dan buang air. Setelah itu, dia tidur lagi.  Dan dia pernah mengalami insomnia ekstrem: tidak tidur selama 3 hari berturut-turut.

Sejauh ini, Echa masih diduga menderita sindrom Kleine-Levin. Namun, tidak tertutup kemungkinan Echa mengalami hal yang berbeda. “Bisa saja ada sesuatu di otaknya. Bisa juga, misalnya, ada tumor otak yang letaknya di area yang mengatur tidur,” kata dr. Rimawati.

Penyebab lain orang bisa tidur dalam waktu yang lama adalah depresi. Namun, periode tidur orang yang mengalami depresi ekstrem tidak selama orang yang mengalami sindrom Kleine-Levin. Mengingat periode tidur Echa sangat lama, sangat mungkin terjadi bahwa Echa mengidap sindrom Kleine-Levin  dan bukan depresi ekstrem.

Otaknya Bersih

Bagaimana memastikan bahwa apa yang dialami Echa adalah benar-benar sindrom Kleine-Levin dan bukan tumor otak atau depresi ekstrem? Salah satu cara untuk memastikan hal itu adalah dengan melakukan pemeriksaan CT Scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging). “Kalau Kleine-Levin Syndrome, ketika di-MRI, bersih otaknya,” kata dr. Rimawati. Pemeriksaan seperti MRI dan EEG (Electroencephalogram) dilakukan hanya untuk menghapus kemungkinan lain.

Echa si Putri Tidur
Mulyadi sedans menjaga putrinya (Foto: banjarmasinpost.co.id)

Mulyadi mengatakan bahwa dia sudah membawa putrinya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan CT Scan. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa otak anaknya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Tidak ada tumor.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah investigasi pengalaman. Pemeriksaan klinis seperti tes darah, hormon, atau genetik tidak perlu dilakukan. “Kemungkinan besar penyebab Kleine-Levin genetik, tapi kita juga belum tahu gen apa yang menyebabkan,” kata dr. Rimawati. Oleh karena itulah, hasil pemeriksaan genetik tidak bisa digunakan untuk memastikan apakah seseorang mengidap sindrom Kleine-Levin atau tidak.

Menurut International Classification of Sleep Disorders, seseorang dikatakan mengidap sindrom Kleine-Levin bila mengalami tidur 2—4  minggu, kambuh beberapa kali, dengan periode kambuh antara bulan hingga tahun, dan diagnosanya tidak bisa diterangkan dengan penyakit saraf lain. Selain itu, untuk bisa mengatakan bahwa seseorang mengidap sindrom Kleine-Levin atau tidak, orang harus melihat satu dari antara empat gejala ini, yaitu gangguan mood dan kognisi, megaphagia atau makan berlebihan, hasrat seksual yang berlebihan, serta ekspresi tak normal seperti agresif dan sensitif berlebihan.

Dalam kasus Echa, gejala selain tidur berlebihan belum diungkapkan. Menurut dr. Rimawati, kecelakaan yang dialami Echa, sehingga menyebabkan luka di kepalanya, belum bisa dikatakan sebagai pemicu tidur berlebihan yang dialaminya.

Apa yang Harus Dilakukan?

Memang belum ada vonis resmi dari tim medis bahwa yang dialami Echa adalah sindrom Kleine-Levin. Namun, jika benar bahwa sindrom sleeping beauty-lah yang sesungguhnya diidap Echa, maka Echa dan keluarganya harus bersabar. Pasalnya, hingga saat ini, belum ditemukan obat yang dapat membuat Echa bisa kembali tidur normal.

“Kita bisa pakai obat-obat stimulan. Misalnya, obat-obat untuk attention ADHD. Harusnya, sih, ada stimulan yang lebih aman, yaitu modafinil. Sayangnya obat itu belum masuk ke Indonesia,” kata dr. Rimawati.

Echa si Putri Tidur
Echa sedang diperiksa petugas kesehatan (Foto: banjarmasinpost.co.id)

Sejauh ini, sejumlah obat telah diujicobakan. Amphetamine, misalnya. Namun, tingkat keberhasilannya hanya 71 persen. Itu pun tak membantu penderitanya untuk tidur.  Hanya membantu menenangkan mood. Obat lain adalah lithium yang punya tingkat keberhasilan lebih rendah. Cuma 41 persen.

Cara lain yang bisa dilakukan selain dengan pemberian obat adalah menunjukkan sikap yang bijaksana dalam masalah ini. Keluarga, sekolah, serta masyarakat harus memahami bahwa yang dialami Echa adalah sebuah penyakit. “Perlu ada kesadaran bahwa ini memang penyakit bukan karena si anak ini malas,” kata Rimawati.

Penyakit ini bisa reda ketika penderitanya berusia 20—30  tahun. “Makin dewasa, biasanya episodenya (tidur) lebih jarang,” imbuh Rimawati.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
1
wow
1
sad
0
angry