Pernahkah kamu merasa suatu produk terlihat lebih murah hanya karena harganya Rp9.999 dan bukan Rp10.000? Atau tanpa sadar kamu memilih paket harga di tengah karena merasa paling masuk akal dibandingkan pilihan lainnya? Padahal, jika dihitung lebih teliti, selisih harganya sangat kecil.
Fenomena seperti ini sangat umum terjadi dan dialami banyak orang tanpa mereka sadari. Inilah yang dikenal sebagai psychological pricing. Strategi penetapan harga ini tidak hanya berfokus pada angka semata, tetapi pada cara konsumen memersepsikan nilai suatu produk.
Psychological pricing bekerja dengan memanfaatkan cara konsumen melihat dan membandingkan harga. Pada titik ini, harga dapat memengaruhi keputusan secara signifikan. Meskipun perbedaannya sangat kecil, angka yang tertera pada produk bisa membuat konsumen mengambil keputusan untuk membeli.
Berikut 5 Strategi Psychological Pricing

Setiap strategi memiliki pendekatan yang berbeda dalam membentuk persepsi konsumen terhadap harga. Penerapannya perlu disesuaikan dengan karakter produk dan target pasar. Jika digunakan dengan tepat, strategi ini dapat meningkatkan penjualan. Berikut 5 strategi psychological pricing yang umum digunakan seperti dikutip dari Oracle NetSuite:
1. Price Anchoring
Price anchoring adalah strategi penetapan harga yang memanfaatkan kecenderungan konsumen menggunakan harga pertama sebagai acuan dalam menilai harga berikutnya. Ketika konsumen melihat harga kedua yang lebih rendah, harga tersebut terasa lebih masuk akal dan bernilai. Akibatnya, konsumen lebih terdorong memilih opsi yang sebenarnya telah diarahkan oleh penjual.
Keunggulan:
Strategi ini membantu mengarahkan konsumen ke tingkat harga yang diinginkan dan mempercepat proses pengambilan keputusan.
Syarat penerapan:
Harus tersedia beberapa pilihan harga yang mudah dibandingkan secara langsung.
Cocok untuk:
Perusahaan dengan model harga bertingkat (tiered pricing).
2. Charm Pricing
Charm pricing adalah teknik penetapan harga dengan angka terakhir 9, seperti Rp9.999 atau Rp19.900. Strategi ini memanfaatkan left-digit bias, yaitu kecenderungan konsumen lebih fokus pada digit pertama suatu harga. Akibatnya, harga dengan angka terakhir 9 sering dipersepsikan lebih murah dibandingkan harga bulat yang nilainya hampir sama. Meskipun selisihnya kecil, efek psikologis dari strategi ini cukup besar terhadap keputusan pembelian.
Keunggulan:
Perbedaan angka yang sangat kecil dapat memberikan dampak besar pada persepsi konsumen akan harga.
Syarat penerapan:
Digunakan ketika bisnis ingin menampilkan kesan “hemat” atau “penawaran menarik”.
Cocok untuk:
Produk nonpremium, ritel, dan e-commerce.
3. Odd–Even Pricing
Odd–even pricing adalah strategi yang membedakan penggunaan angka ganjil dan genap untuk menciptakan persepsi tertentu. Harga ganjil biasanya diasosiasikan dengan diskon, nilai ekonomis, atau penawaran menarik. Sebaliknya, harga genap cenderung memberikan kesan eksklusif, stabil, dan berkualitas tinggi. Karena itu, strategi ini sering dikombinasikan sesuai dengan tujuan pemasaran.
Keunggulan:
Membantu membangun citra produk agar selaras dengan target pasar.
Syarat penerapan:
Penentuan harga harus konsisten dengan positioning merek.
Cocok untuk:
Produk massal (harga ganjil) dan produk premium (harga genap).
4. Bundling Pricing
Bundling pricing adalah strategi menjual beberapa produk dalam satu paket dengan harga yang terasa lebih hemat dibandingkan membeli secara terpisah. Pendekatan ini tidak hanya menawarkan diskon, tetapi juga menciptakan persepsi akan nilai yang lebih besar. Konsumen merasa mendapatkan lebih banyak manfaat dalam satu kali pembelian. Secara tidak langsung, strategi ini mendorong peningkatan jumlah barang yang dibeli.
Contoh:
Paket nasi, minuman, dan camilan dijual lebih murah dibandingkan harga masing-masing item.
Kenapa ini efektif:
Strategi ini meningkatkan nilai transaksi rata-rata tanpa menurunkan harga dasar produk secara signifikan.
Cocok untuk:
Paket makanan, layanan digital, dan paket langganan.
5. Diskon Berbatas Waktu
Diskon berbatas waktu adalah strategi yang memanfaatkan rasa urgensi dan ketakutan akan kehilangan kesempatan (fear of missing out atau FOMO). Dengan membatasi waktu atau stok, konsumen terdorong untuk segera mengambil keputusan. Strategi ini efektif memicu pembelian impulsif dalam waktu singkat. Semakin terbatas penawaran, semakin kuat dorongan untuk membeli.
Contoh frasa:
“Hanya hari ini!” atau “Stok terbatas!”
Kenapa ini efektif?
Konsumen cenderung membeli lebih cepat karena takut kehilangan peluang.
Cocok untuk:
Flash sale, promo akhir pekan, dan peluncuran produk.
Psychological pricing adalah strategi untuk memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Dengan menerapkan teknik seperti price anchoring, charm pricing, odd–even pricing, bundling, dan diskon berbatas waktu secara tepat, bisnis dapat meningkatkan daya tarik produk sekaligus memperkuat persepsi nilai di mata konsumen. Namun, strategi harga yang efektif juga perlu didukung oleh proses pembayaran yang mudah dan lancar. Jika proses pembayaran yang rumit, potensi transaksi bisa hilang.
Untuk itu, bekerja sama dengan payment gateway yang andal menjadi hal yang penting. Salah satu solusi yang dapat diandalkan adalah YUKK Payment Gateway, yang menyediakan berbagai metode pembayaran, seperti QRIS, virtual account, payment link, e-wallet, dan kartu kredit. Opsi pembayaran yang lengkap memudahkan konsumen memilih metode pembayaran sesuai dengan preferensi mereka. Proses pembayaran yang cepat, mudah, dan aman memastikan keputusan pembelian yang telah terbentuk benar-benar berujung pada transaksi, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Jangan biarkan strategi harga yang tepat gagal karena proses pembayaran. Gunakan layanan dari YUKK Payment Gateway sekarang.
