Pernah nggak sih kamu tiba-tiba “khilaf” belanja hanya karena melihat label harga Rp99.000? Padahal selisihnya cuma seribu rupiah dibanding Rp100.000. Anehnya, otak kita seolah diprogram untuk fokus pada angka pada bagian depan dan langsung berpikir, “Wah, murah nih!”
Strategi ini dikenal sebagai psychological pricing. Teknik psychological pricing memanfaatkan cara kerja psikologi konsumen dalam menilai harga, sehingga produk tampak lebih menarik dan bernilai. Tanpa disadari, persepsi sederhana ini kerap memengaruhi keputusan pelanggan saat berbelanja.
Tidak heran banyak bisnis mulai menggunakannya untuk meningkatkan minat beli para pelanggan, tanpa harus menurunkan harga secara signifikan. Salah satu perusahaan yang sukses menggunakan psychological pricing adalah Apple. Apple menggunakan charm pricing dengan menetapkan harga aplikasi sebesar $0,99 atau $9,99 dan bukan menggunakan angka bulat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa strategi penetapan harga ini mampu meningkatkan penjualan hingga 24% dibandingkan dengan harga yang dibulatkan.
Apa Itu Psychological Pricing?

Psychological pricing, seperti dikutip dari Glints, adalah strategi penentuan harga yang dibuat agar harga produk terlihat lebih murah dan lebih menarik di mata konsumen. Tujuan metode ini adalah memengaruhi persepsi konsumen melihat harga, sehingga mereka merasa lebih hemat dan mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka keluarkan. Contohnya adalah produk dengan harga Rp99.000 langsung menarik perhatian pembeli dibandingkan dengan yang berharga Rp100.000 meskipun selisih harga keduanya sangat kecil.
Dengan penerapan strategi ini, konsumen cenderung merasa lebih untung, memperoleh produk berkualitas, atau menikmati penawaran yang menarik meskipun selisih harga sebenarnya tidak terlalu besar. Hal ini terjadi karena konsumen melihat harga berdasarkan kesan awal yang ditampilkan, bukan pada perhitungan selisih secara rinci. Akibatnya adalah harga yang terlihat lebih rendah mampu menciptakan persepsi nilai yang lebih tinggi dan mendorong konsumen untuk mengambil keputusan pembelian.
Bagi pelaku bisnis, strategi ini digunakan untuk meningkatkan minat beli dan mendorong konsumen mengambil keputusan lebih cepat.Dalam beberapa kesempatan, mereka bisa membeli lebih banyak daripada rencana awal. Karena memanfaatkan aspek psikologis, psychological pricing sering diterapkan dalam berbagai sektor bisnis, mulai dari ritel hingga e-commerce.
Mengapa Psychological Pricing Efektif?
Strategi psychological pricing efektif karena dapat membentuk persepsi konsumen terhadap harga dan mendorong mereka mengambil keputusan untuk membeli. Cara penyajian harga yang tepat dapat membuat produk terlihat lebih menarik dan bernilai.
Berikut beberapa alasan mengapa psychological pricing efektif:
- Memberi kesan harga yang lebih bernilai
Penggunaan angka tertentu atau potongan harga membuat konsumen merasa mendapatkan penawaran yang lebih menguntungkan. - Membuat produk lebih menonjol
Harga diskon atau harga pembanding membantu menarik perhatian konsumen. - Menciptakan citra kualitas
Harga yang lebih tinggi sering dikaitkan dengan kualitas, eksklusivitas, dan kesan premium. - Memicu pembelian spontan
Harga yang menarik dapat mendorong konsumen membeli barang secara implusif atau spontan. - Mendorong peningkatan penjualan
Strategi ini membantu bisnis meningkatkan jumlah pembelian sekaligus potensi keuntungan.
Psychological pricing adalah strategi penetapan harga yang memanfaatkan cara pelanggan melihat dan menilai harga suatu produk. Jika diterapkan dengan tepat, strategi ini dapat membantu bisnis meningkatkan penjualan. Strategi ini bekerja dengan membentuk persepsi konsumen bahwa harga yang ditawarkan lebih terjangkau atau lebih bernilai. Persepsi inilah yang mendorong konsumen untuk membeli meskipun perbedaan harga yang ditawarkan sebenarnya tidak terlalu signifikan.
Baca juga artikel: Inilah 3 Jenis Psychological Pricing yang Bisa Membuat Produkmu Cepat Laku
