Waspada! Gejala Baru Covid-19 Ini Berisiko Fatal

Waspada! Gejala Baru Covid-19 Ini Berisiko Fatal
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Gejala khas Covid-19 adalah demam, batuk, dan sesak napas. Dalam perjalanan wabah ini, muncul beberapa gejala baru. Namun, dari beberapa gejala itu, sesak napas tetap menjadi gejala khas dengan risiko fatal sangat tinggi.

Baru-baru ini, para peneliti menemukan sebuah gejala baru. Gejala ini berhubungan dengan kelainan pada sistem saraf. Dan gejala-gejala ini bisa berisiko fatal karena pasien akan mengeluhkan gejala berkepanjangan (long covid).

Dikutip dari The Sun, para peneliti dari Northwestern University melakukan penelitian terhadap 509 orang pasien dengan gejala Covid-19 yang sangat parah. Hasil penelitian menunjukkan hampir 82% pasien Covid-19 mengalami beberapa jenis gejala neurologis. Gejala-gejala itu termasuk hilangnya kemampuan mencium dan merasakan sesuatu. Dari beberapa gejala itu, yang menjadi perhatian para peneliti adalah ensefalopati.

Waspada! Gejala Baru Covid-19 Ini Berisiko Fatal
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), ensefalopati adalah istilah untuk setiap penyakit otak yang menyebar dan mengubah fungsi atau struktur otak.

“Ciri dari ensefalopati adalah kondisi mental yang berubah,” jelas NINDS.

Ada beberapa gejala dari ensefalopati. Gejala ini tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Gejala yang paling umum adalah hilangnya memori dan kemampuan kognitif secara progresif, perubahan kepribadian, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, lesu, dan hilangnya kesadaran secara progresif.

Waspada! Gejala Baru Covid-19 Ini Berisiko Fatal
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Kondisi ini bisa menjelaskan seperti apa brain fog (kabut otak) yang dialami sejumlah pasien Covid-19.

“Kabut otak sepertinya deskripsi yang inferior tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ini benar-benar melumpuhkan. Saya tidak dapat berpikir cukup jernih untuk (melakukan) apa pun. Ini sering menghalangi saya untuk dapat melakukan percakapan yang koheren atau menulis pesan teks atau e-mail,” kata Mirabai Nicholson-McKellar, pasien berusia 36 tahun dari Byron Bay, seperti dilansir The Guardian.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry