Ketahui Guillain-Barre Syndrome, Penyebab Guru Susan Lumpuh Setelah Divaksin

Ketahui Guillain-Barre Syndrome, Penyebab Guru Susan Lumpuh Setelah Divaksin
Guru Susan (Foto: detikcom)

Susan Antela, seorang guru berusia 31 tahun, mengalami kelumpuhan dan gangguan penglihatan setelah vaksinasi Covid-19 tahap kedua. Guru SMAN 1 Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat, itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, selama hampir tiga pekan. Dia masuk pada tanggal 1 April dan keluar dari rumah sakit pada 23 April dengan keadaan sudah membaik.

Banyak orang menduga bahwa kelumpuhan dan gangguan penglihatan yang dialami Susan itu disebabkan oleh vaksin Covid-19. Namun, hasil investigasi Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi menunjukkan bahwa Susan mengidap Guillain-Barre Syndrome(GBS).

“Diagnosis dari DPJP RSHS: Guillain-Bare Syndrome,” kata Prof. Hindra Irawan Satari, Ketua KIPI, seperti dikutip YUKK dari detikHealth.

 

Ketahui Guillain-Barre Syndrome, Penyebab Guru Susan Lumpuh Setelah Divaksin
(Foto: Tribun Jabar)

Hasil investigasi KIPI menunjukkan bahwa apa yang dialami Susan tidak terkait dengan vaksin Covid-19.

“Tidak cukup bukti untuk menunjukkan adanya keterkaitan KIPI dengan imunisasi yang diberikan,” tegasnya.

Lalu apa itu Guillain-Barre Syndrome? Dikutip dari laman CDC, sindrom Guillain-Barre adalah kelainan langka dimana sistem kekebalan tubuh merusak sel saraf dan menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan. Hingga saat ini, penyebab sindrom ini belum sepenuhnya dipahami. Yang diketahui adalah sindrom ini sering kali terjadi setelah infeksi virus atau bakteri.

Ketahui Guillain-Barre Syndrome, Penyebab Guru Susan Lumpuh Setelah Divaksin
(Foto: Istimewa)

Gejala pertama sindrom ini adalah kelemahan dan kesemutan. Sensasi ini bisa menyebar dengan cepat, sehingga akhirnya melumpuhkan seluruh tubuh. Dalam bentuk yang paling parah, sindrom Guillain-Barre adalah keadaan darurat medis. Belum ada obat untuk bisa menyembuhkan sindrom ini. Namun, ada beberapa perawatan yang dapat meredakan gejala dan mengurangi durasi penyakit.

Banyak orang yang mengidap sindrom ini mengalami kesembuhan. Antara 60—80% pengidapnya mampu berjalan dalam enam bulan. Pasien mungkin mengalami efek yang menetap seperti kelemahan, mati rasa, atau kelelahan. Angka kematian karena sindrom ini adalah 4—7%.

 

 

#YUKKpakeYUKK   

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry