Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno

Fakta tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno
(Foto: detikcom)

Minggu (14/1) malam lalu, sebelum pertandingan persahabatan antara Timnas Indonesia melawan Islandia, Presiden Joko Widodo meresmikan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Stadion itu baru saja direnovasi dalam rangka menyambut Asian Games XVIII yang digelar pada Agustus mendatang. Selama proses renovasi berlangsung

Setelah proses renovasi yang berlangsung selama lebih dari setahun itu, wajah Stadion Utama Gelora Bung Karno terlihat lebih megah. Lebih elegan. Kursi, lampu, dan rumput yang digunakan sudah berstandar internasional.

Berikut ini beberapa fakta menarik tentang stadion kebanggaan Indonesia yang harus kamu ketahui. Fakta-fakta ini dihimpun YUKK dari berbagai sumber.

Baca juga : Ini Dia Wajah Baru Stadion Utama Gelora Bung Karno

Syarat minimum
Setelah Asian Games III yang digelar di Tokyo, Jepang, pada Juni 1958, Asian Games Federation menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV. Jakarta menjadi kota penyelenggara ajang ini pada tahun 1962 setelah mengalahkan dua kandidat kuat lainnya, yaitu Karachi (Pakistan) dan Taipe (Taiwan). Namun, syarat minimum yang harus dipenuhi Indonesia adalah kompleksi multiolahraga. Presiden Soekarno menjawab tantangan itu dengan menerbitkan Keppres No. 113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Dewan ini dipimpin oleh Menteri Olahraga Maladi. Frederik Silaban, arsitek kesayangan Bung Karno, juga masuk dalam susunan pengurus DAGI.

Pilihan terakhir
Pada awalnya, lokasi yang dipilih adalah lokasi yang dekat dengan Jalan MH Thamrin dan Menteng, yaitu Karet, Pejompongan, atau Dukuh Atas. Soekarno juga mengusulkan kawasan Bendungan Hilir atau Rawamangun. Namun, Frederik Silaban, yang mendampingi Soekarno ketika meninjau lokasi dengan helikopter, tak setuju. Alasannya adalah kemacetan lalu lintas di kawasan itu akan semakin parah. Tambahan lagi, kawasan itu pun rawan banjir. Pilihan berikutnya adalah kawasan Senayan seluas kurang lebih 300 ha. Pilihan ini disetujui sang arsitek.

Warga dipindahkan
Setelah diberikan pengertian dan ganti rugi, warga kampung Senayan yang berjumlah sekitar 60.000 jiwa dipindahkan ke perumahan baru di Tebet, Slipi, dan Ciledug.

Sumber inspirasi
Presiden Soekarno terinspirasi oleh kemegahan bangunan Stadion Pusat Lenin di Moskow, Uni Soviet. Dalam kunjungannya ke negara tersebut pada 1956, Bung Karno menantang semua arsitek di Uni Soviet merancang sebuah stadion olahraga yang dapat melindungi semua penontonnya dari hujan dan panas matahari. Dia ingin sebuah stadion dengan atap temu gelang: atap yang bersambung dan melingkar mengikuti lintasan olahraga. Desain atap temu gelang tak hanya unik, tapi seluruh penampilannya juga terbentuk secara ritmis dan harmonis dalam kesatuan yang padat. Keunikan atap terletak pada pertemuan pilar-pilar tipis penyangga konstruksi. Inspirasi untuk membuat atap seperti itu ia dapatkan ketika melihat air mancur di halaman Museo Antropologia de Mexico di Mexico City.

Keras kepala

Fakta tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno
(Foto: google)

Hampir semua arsitek yang ditemui Soekarno mengatakan bahwa ide untuk membuat atap temu gelang itu tak lazim. Biasanya stadion hanya bisa dirancang dengan atap sebagian. Namun, Soekarno tetap pada pendiriannya. Ia ingin membangun sebuah gelanggang olahraga di Jakarta yang lebih megah daripada Stadion Pusat Lenin.

“Tidak! Saya katakan sekali lagi, tidak. Atap stadion kami harus temu gelang. Tidak lain, tidak bukan, saya ingin Indonesia bisa tampil secara luar biasa,” kata insinyur lulusan Technische Hogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) itu seperti dikutip dari buku Bung Karno Sang Arsitek karya Yuke Ardhiati.

Dukungan Uni Soviet
Pada 8 Februari 1960, presiden melalukan pemancangan tiang pertama proyek pembangunan stadion. “Pembangunan stadion tersebut memperoleh bantuan kredit lunak sebesar US$12,5 juta dari pemerintah Uni Soviet,” tulis Julius Pour dalam buku Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno.

Tenaga ahli dari 6 negara
Pembangunan stadion ini melibatkan sekitar 40 sarjana teknik dari Indonesia. Mereka memimpin sekitar 12.000 pekerja sipil dan militer yang bekerja selama tiga shift pada siang dan malam. Semuanya didampingi secara langsung oleh tenaga ahli dari Uni Soviet, Hungaria, Swiss, Jepang, Prancis, dan Jerman.

Lima lantai

Fakta tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno
kursi setelah renovasi (Foto; YouTube)

Stadion ini memiliki lima lantai nan megah di dalamnya. Lantai satu sampai tiga merupakan tribun atas dengan sumbu bangunan membujur dari utara ke selatan sepanjang 354 m dan sumbu pendeknya membentang dari timur ke barat sepanjang 325 m. Stadion ini dikelilingi jalan lingkar sepanjang 920 m ring dalam dan 1.100 m ring luar. Di bagian dalam stadion terdapat trek berbentuk elips seluas 1,75 ha dengan sumbu panjang 176,1 m dan yang pendek 124,32 m. Lapangan sepak bolanya berukuran 105×70 m.

Tidak sampai 2 tahun
Stadion ini dibangun tidak sampai 2 tahun. Presiden Soekarno meresmikannya pada 21 Juli 1962. Dalam pidato peresmiannya itu, Soekarno menyebut stadion ini sebagai yang terhebat di dunia. “Saya sudah keliling dunia melihat stadion di Rio de Janeiro. Sudah melihat stadion di Warsawa, di Mexsiko, dan di negara-negara lain. Wah. Stadion Utama ini adalah yang terhebat di seluruh dunia,” katanya dengan gaya orasinya yang khas.

Tentang nama
Ada yang menarik tentang nama stadion ini. Maladi, yang dilantik menjadi menteri olahraga pada April 1962, mengusulkan nama “Pusat Olahraga Bung Karno” kepada Presiden Soekarno. Usulan itu tidak disetujui oleh Saifuddin Zuhri, menteri agama, yang juga hadir dalam acara minum kopi pagi di serambi belakang Istana Merdeka. Menurutnya, kata “pusat” dalam kalimat “Pusat Olahraga Bung Karno” itu terdengar tidak dinamis.

“Nama ‘Gelanggang Olahraga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” kata Saifuddin seperti tertulis dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Maladi dan Menteri Dalam Negeri, dr. Soemarno Sosroatmodjo, serta beberapa pejabat sipil dan militer yang hadir saat itu setuju. Demikian juga Bung Karno. Jika Gelanggang Olahraga Bung Karno disingkat, kata Saifuddin, akan menjadi Gelora Bung Karno.

“Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga,” kata Saifuddin.

“Wah, itu nama hebat. Aku setuju,” kata Bung Karno seraya menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sang presiden lantas memerintahkan Maladi untuk mengganti nama “Pusat Olahraga Bung Karno” menjadi Gelora Bung Karno.

Diganti

Fakta tentang Stadion Utama Gelora Bung Karno
(Foto: google)

Pada era Orde Baru, dalam rangka desukarnoisasi, nama Gelora Bung Karno diubah menjadi Stadion Utama Senayan. Pada awal reformasi, pada tahun 2001, Presiden Abdurrahman Wahid mengembalikan lagi nama Gelora Bung Karno.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry