Waspada! Obsesi Pada Makanan Sehat Bisa Memicu Orthorexia Nervosa

Waspada! Obsesi Pada Makanan Sehat Bisa Memicu Orthorexia Nervosa
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Orang dianjurkan untuk membangun pola hidup sehat. Salah satunya adalah dengan membangun pola makan yang sehat. Dalam hal ini, tidak hanya waktu makan yang harus diperhatikan, tetapi juga apa yang dimakan dan diminum haruslah sehat dan bergizi.

Dalam praktiknya, ada banyak orang yang melakukannya secara ekstrem. Lantaran terobsesi pada makanan sehat, mereka menghindari makanan yang sebenarnya kandungannya sangat dibutuhkan tubuh. Akibatnya adalah mereka mengalami malnutrisi. Orang yang terobsesi pada makanan sehat ini tergolong dalam gangguan makan atau juga disebut orthorexia nervosa.

“Dalam praktiknya, kalau dia tidak menemukan makanan sehat menurut dia, maka bisa menjadi stres, gelisah, merasa bersalah, cemas, dan sebagainya. Akhirnya membuat dia memilih tidak makan daripada harus makanan makanan yang menurut dia tidak sehat,” kata Ida Gunawan, Dokter Spesialis Gizi Klinis dan Konsultan Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), seperti dikutip YUKK dari CNNIndonesia.com.

Waspada! Obsesi Pada Makanan Sehat Bisa Memicu Orthorexia Nervosa
Ilustrasi makanan sehat (Foto: Freepik)

Jika diperhatikan baik-baik, sebenarnya ada perbedaan konsep makanan sehat pada mereka dengan orthorexia dan orang yang menerapkan pola makan sehat. Orang yang menerapkan pola makan sehat, pada umumnya, berpegang pada gizi seimbang. Dalam piring makanan, seperti yang dianjurkan Kementerian Kesehatan, yakni setengah bagian diisi sayur dan buah, seperempat piring dengan karbohidrat (pilih yang kompleks seperti nasi, sereal, kentang, roti gandum), kemudian seperempat lagi diisi dengan protein baik hewani maupun nabati.

Sementara untuk asupan harian garam, gula dan minyak disesuaikan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan, yakni gula 4 sendok makan peres, garam 1 sendok teh, dan minyak 5 sendok makan.

“Orang yang mengikuti pola makan sehat pastinya berpegang pada gizi seimbang tersebut. Dalam gizi seimbang tidak melulu isinya hanya sayur dan buah, [lalu] tidak makan karbohidrat, lemak dan gula,” sambung Ida.

Waspada! Obsesi Pada Makanan Sehat Bisa Memicu Orthorexia Nervosa
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Sementara itu, orang dengan orthorexia biasanya justru menghindari sumber karbohidrat, protein hewani, dan bumbu seperti garam dan gula, hingga lemak yang bisa berujung masalah kesehatan. Salah satunya adalah malnutrisi. Mereka menghindari susu. Padahal susu mengandung zat gizi seperti kalsium mineral. Mereka juga enggan mengonsumsi daging yang justru bisa memicu risiko anemia.

Akibat menghindari sumber gizi penting itu, orang dengan orthorexia bisa mengalami gangguan suasana hati, penurunan berat badan drastis, mengalami banyak kelainan salah satunya pada kulit karena membatasi makanan secara ekstrem. Mereka juga bisa mengalami kelainan perilaku akibat perilaku kompulsif, mengalami masalah hubungan sosial, dan punya persepsi berlebihan terhadap diet sehat yang sebetulnya tidak wajar.

“Pada mereka yang orthorexia, segala bumbu, karbohdirat menjadi momok; melihat protein hewani enggak makan karena dianggap mengandung kolesterol tinggi, identik dengan tidak sehat. Jadi, konsep diet sehat yang harus dibetulkan,” katanya.

Waspada! Obsesi Pada Makanan Sehat Bisa Memicu Orthorexia Nervosa
Ilustrasi (Foto: Freepik)

Gangguan orthorexia ini bisa ditangani melalui perawatan dari dokter gizi klinik dan psikiater. Mereka akan diberikan informasi mengenai makanan yang sehat seperti apa nutrisi yang tepat dan seimbang untuk mendapatkan tubuh sehat. Dalam perawatannya, orang dengan orthorexiajuga dianjurkan melakukan banyak relaksasi supaya tidak tegang dan menjadi stres.

“Harus konsultasikan pada psikiater. Mungkin perlu tambahan obat-obatan,” sarannya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry