Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia

Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Dalam beberapa pekan terakhir ini, masyarakat Indonesia diresahkan oleh mewabahnya difteri di sejumlah besar daerah. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sampai dengan November lalu, terjadi 622 kasus difteri di 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi. Dari 622 kasus itu, 32 penderita di antaranya meninggal dunia.

Dari bulan Oktober—November lalu, tercatat 11 provinsi yang melaporkan terjadinya difteri, antara lain, Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Dari ratusan kasus itu, meninggalnya 32 orang penderita akibat penyakit ini termasuk sangat tinggi. Jumlah kematian yang tinggi ini membuat Kementerian Kesehatan menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas peristiwa ini.

Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia
Kasus difteri di Indonesia (Foto; BBC Indonesia)

Penyakit Menular
Apa itu difteri? Apa penyebab dan gejalanya? Mengapa penyakit ini bisa menyebabkan kematian? Siapa saja yang berisiko menderita penyakit ini?

Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia
(Foto: BBC Indonesia)

Difteri, seperti dilansir doktersehat.com, adalah infeksi bakterial serius yang mempengaruhi membran mukosa di tenggorokan dan hidung. Kadang-kadang juga mempengaruhi kulit. Infeksi bakterial ini   disebabkan oleh Corynebacterium diptheriae.

Difteri termasuk penyakit menular. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan obyek yang mengandung atau terpapar bakteri seperti cangkir minuman, tisu, dan sapu tangan. Bisa juga menular melalui kontak langsung dengan penderita yang bersin, batuk, atau ingus yang keluar dari hidungnya.

Bakteri Corynebacterium diptheriae biasanya menginfeksi hidung dan tenggorokan. Jika seseorang terinfeksi, bakteri akan melepaskan toksin. Zat berbahaya ini akan masuk dan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan seringkali menyebabkan lapisan abu-abu tebal di mukosa hidung, tenggorokan, lidah, dan saluran napas.

Dalam beberapa kasus, zat berbahaya ini dapat masuk dan merusak organ penting seperti jantung, otak, dan ginjal. Jika ini terjadi, akan timbul komplikasi yang dapat mengancam jiwa seperti miokarditis (radang selaput jantung), paralisis (kelemahan otot), dan gagal ginjal. Sudah banyak kasus yang menunjukkan bahwa penyakit ini dapat berakhir fatal.

Gejala-Gejala
Setelah 2—5 hari terinfeksi bakteri ini, penderita akan menunjukkan gejala-gejala yang khas. Pada beberapa orang, mungkin gejala yang muncul tidak terlalu jelas. Namun, pada beberapa orang lain, gejala-gejala yang muncul sama seperti gejala flu biasa.

Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia
Ilustrasi (Foto: google)

Sebenarnya ada beberapa gejala difteri yang khas yang dapat dilihat. Salah satu yang sangat jelas adalah munculnya lapisan tebal berwarna abu-abu di tenggorokan dan tonsil. Gejala-gejala lainnya adalah demam, menggigil, kelenjar di leher membesar, suara menjadi keras, radang tenggorokan, air liur terus-menerus menetes, dan tubuh terasa tidak nyaman.

Selain gejala-gejala utama itu, ada beberapa gejala tambahan lain seperti sulit bernapas dan sulit menelan, perubahan pandangan, menjadi cadel, pucat, kulit terasa dingin, berkeringat dingin, dan denyut jantung menjadi lebih cepat. Orang yang tinggal di kawasan yang tidak higienis dan di area tropis sangat mungkin menderita difteri kutaneus atau difteri di kulit. Difteri pada kulit sering kali menyebabkan ulkus. Kulit yang terkena difteri bisa berubah menjadi kemerahan.

Anak-Anak dan Orang Dewasa
Penyakit ini sangat mudah menyerang anak-anak. Apalagi jika anak-anak tidak mendapatkan vaksinasi melawan penyakit ini. Itulah mengapa pemerintah sangat gencar melakukan vaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan sejak anak berumur 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Vaksinasi dilakukan dalam interval waktu tertentu.

Waspada! Difteri Semakin Ganas di Indonesia
Ilustrasi (Foto: google)

Jika vaksinasi rutin dilakukan, penyakit ini tidak akan timbul. Lihat saja yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Di kedua benua itu, penyakit ini jarang sekali terjadi karena vaksinasi rutin dilakukan.

Pada umumnya, penyakit ini menyerang anak-anak yang berusia di bawah usia 5 tahun dan orang tua di atas usia 60 tahun. Selain itu, penyakit ini akan dengan mudah menyerang orang-orang yang tidak mendapatkan vaksinasi terbaru, dan yang baru saja mengunjungi negara yang tidak melakukan imunisasi melawan difteri. Yang juga berisiko menderita penyakit ini adalah yang mengalami gangguan imunitas seperti AIDS dan yang memiliki gaya hidup tidak sehat atau sanitasi yang buruk.

 

#YUKKpakeYUKK

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry