Semut Charlie Viral di Medsos; Serangga Apakah Itu?

Bahaya semut Charlie
Semut Charlie (Foto: Istimewa)

Beberapa hari lalu, kabar tentang berbahayanya semut Charlie menjadi viral di media sosial. Beredar pesan berantai melalui aplikasi WhatsApp tentang semut itu dan anak-anak yang menjadi korbannya. Foto-foto dan keterangan yang membuat banyak orang resah dan ketakutan.

Dalam foto itu, tampak seorang bayi dengan kulit penuh ruam mirip luka bakar. Tampak juga foto serangga kecil mirip semut dengan ekor lancip. Di situ ada keterangan bahwa bayi itu adalah korban gigitan semut Charlie.

Kominfo segera merespons kabar itu dengan mengatakan bahwa kabar itu adalah hoax. Foto yang beredar adalah foto lama.

“Foto bayi tersebut merupakan bayi yang terkena sindrom linear nevus sebaceous, sebuah penyakit yang disebabkan oleh mutasi pada gen. Adapun semut Charlie yang disebut-sebut berbahaya tersebut sebenarnya merupakan serangga rove beetle atau populer dengan nama tomcat di Indonesia,” tulis Kominfo dalam keterangan singkatnya.

Bahaya semut Charlie
(Foto: Istimewa)

Lalu apa itu semut Charlie? Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, mengatakan bahwa serangga ini sebenarnya bukan semut, melainkan kumbang (Coleoptera) dari famili Staphylinidae. Hewan ini dikenal dengan nama ilmiah Paederus fuscipes dan di Indonesia lebih dikenal dengan nama tomcat.

“Seperti kelompok kumbang lain, secara umum (Paederus fuscipes) memiliki tiga bagian tubuh, yaitu kepala, dada, dan perut dengan tiga pasang kaki dan memanjang,” katanya seperti dilansir Kompas.com, Selasa (25/6).

Hewan berukuran 7-8 mm ini memiliki kulit warna cerah, terutama kuning dan oranye pada rongga dadanya, sayap separuh, dan antena berbentuk benang yang panjang. Kumbang ini memiliki zat tertentu yang dapat menyebabkan kulit seperti terbakar dan melepuh.

“Ini merupakan hasil endosimbiosis antara racun pada tomcat dan bakteri,” katanya.

Tomcat jantan berperilaku mirip kalajengking ketika terancam. Mereka akan mengangkat ekor dan mengeluarkan racun. Jika menempel pada kulit, racun yang disebut pederin itu akan menimbulkan inflamasi atau peradangan.

Bahaya semut Charlie
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

“Kumbang tomcat umumnya berada di permukiman dan populasinya meningkat diperkirakan pada akhir musim hujan,” ujarnya.

Ada beberapa faktor penyebab meningkatnya populasi hewan ini. Salah satunya adalah berkurangnya populasi pemangsa (predator) seperti burung karena ulah manusia. Faktor lainnya adalah berkurangnya mangsa karena perubahan fungsi lahan, sehingga banyak populasi bersinggungan dengan permukiman seperti alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman dan hutan menjadi perkebunan.

Sangat disarankan untuk menghindari kumbang ini. Namun, jika sudah terkena tomcat, sebaiknya jangan dipencet atau dipukul.

“Sebab bila mereka ditekan atau digencet, racun akan keluar dari tubuh kumbang dan menyebabkan iritasi. Jika sudah terkena cairan dari tubuh tomcat, lebih baik disiram air mengalir untuk kondisi darurat,” paparnya.

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry