Pilu! Genggaman Terakhir Sang Ibu Sebelum Direnggut Corona

News | 4 January 2021
Pilu! Genggaman Terakhir Sang Ibu Sebelum Direnggut Corona
Anabel Sharma dan ibunya (Foto: Facebook via Daily Mail)

Sebuah peristiwa pahit terjadi pada ujung tahun 2020 lalu ketika seluruh anggota keluarga terinfeksi virus Corona. Dimulai dari salah satu anak yang terinfeksi di sekolah, lalu menyebar kepada anggota keluarga lainnya. Hingga akhirnya nenek dari anak itu meninggal dunia. Genggaman terakhirnya mengoyak hati.

Peristiwa pahit itu dialami keluarga Anabel Sharma. Pada September 2020 lalu, Isaac, putra Anabel yang berusia 12 tahun, terinfeksi virus Corona setelah kembali ke sekolah. Beberapa hari kemudian, Anabel, Bharat, suaminya, dan kedua anaknya, Jacob dan Noah, positif Covid-19. Yang terakhir terinfeksi adalah Maria Rico, ibunda Anabel yang berusia 76 tahun.

Pada pertengahan Oktober, Anabel dan ibunya dilarikan ke Leicester Royal Infirmary, Leicester, Inggris. Mulailah keduanya berjuang untuk mempertahankan hidup. Dia menjalani CPAP (Continuous Positive Airway Pressure); sebuah treatment yang dirasakannya sangat mengerikan dan menyiksa.

“Saya harus memakai sebuah plastic hood 24 jam setiap hari selama 4 minggu agar saya bisa bernapas,” katanya seperti dikutip YUKK dari Daily Mail.

Pilu! Genggaman Terakhir Sang Ibu Sebelum Direnggut Corona
Ilustrasi virus Corona (Foto: Freepik)

Pada awalnya, dia dan ibunya menjalani perawatan di ruangan yang berbeda. Namun, dua minggu kemudian, persisnya setelah sang ibu menandatangani surat DNAR (Do Not Attempt Resuscitation), keduanya berada di dalam ruangan yang sama. Ruangan ICU. Bahkan tempat tidur mereka bersebelahan.

“Kita bisa mendapatkan tempat tidur karena ada 4 orang pasien yang meninggal pada hari itu. Jadi, ada tempat tidur yang tidak terpakai,” kata Anabel.

Sesaat dia bahagia karena bisa menjalani perawatan di samping ibunya. Namun, kenyataan lain membuatnya benar-benar terpukul. Petugas kesehatan mendorong tempat tidur ibunya agar dekat dengan tempat tidurnya bukan tanpa alasan. Ibunya diprediksi hanya bisa bertahan beberapa hari.

Dari hari ke hari, keadaan ibunya memang semakin kritis. Dia menangis setiap kali melihat ibunya berjuang.

“Ibu sedang mencoba untuk berbicara. Yang saya dengar adalah ‘kremasi’ dan ‘siap mati’. Saya menangis,” desahnya.

Pilu! Genggaman Terakhir Sang Ibu Sebelum Direnggut Corona
(Foto: Facebook via Daily Mail)

Pada tanggal 31 Oktober, keduanya berpegangan tangan. Momen itu dijepret oleh salah seorang kerabat mereka. Rupanya itu adalah genggaman tangan terakhir. Rupanya itu adalah foto terakhir mereka. Karena 24 jam kemudian, ibunya meninggal dunia. Dia langsung melepaskan masker oksigen untuk mengucapkan salam perpisahan kepada ibunya.

“Jika ada yang berpikir untuk melanggar protokol Covid-19, saya akan mendorong mereka untuk menempatkan diri pada posisi saya dan memikirkan bagaimana rasanya melihat ibu sendiri meninggal atau diberi tahu bahwa kamu mungkin tidak akan hidup lama,” katanya.

Dia mengingatkan semua orang yang menganggap Covid-19 hanyalah rekayasa. Covid-19 adalah nyata.

“Jangan biarkan ini terjadi padamu. Covid-19 menyerang keluarga kami sangat cepat dan sangat menakutkan. Siapa pun bisa tertular Covid-19 dan kamu tidak tahu apakah bisa bertahan atau tidak,” ungkapnya.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry