PBB: Dunia Hadapi Krisis Kesehatan Mental karena Corona

Ilustrasi (Foto: Freepik)

Dunia belum akan terbebas dari virus Corona dalam waktu dekat. Jumlah kasus Covid-19 terus bertambah dari hari ke hari. Hingga hari ini, Kamis (14/5), seperti dikutip YUKK dari laman Worldometers, sudah 4.442.919 penduduk dunia yang terinfeksi. Sebanyak 298.327 orang di antaranya meninggal dunia.

Pandemi ini telah menyebabkan lumpuhnya berbagai lini kehidupan. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Kemiskinan meningkat. Tidak sedikit orang yang terpukul karena kehilangan keluarga, sahabat, dan rekan kerja mereka. Dan begitu banyak orang, bahkan hingga anak-anak, yang mengalami depresi karena tidak bisa bergerak bebas selama pandemi ini.

Ilustrasi (Foto: Freepik)

Bahaya krisis kesehatan mental yang nyata ini menjadi perhatian PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

“Isolasi, ketakutan, ketidakpastian, dan gejolak ekonomi. Ini semua berpotensi menyebabkan tekanan psikologis,” kata Devora Kestel, Direktur Departemen Kesehatan Mental WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), seperti dikutip dari Reuters, Kamis (14/5).

Laporan menunjukkan bahwa ada peningkatan kasus dan keparahan penyakit mental. Contohnya adalah kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga di berbagai daerah. Di Indonesia, Kepala Staf Presiden Moeldoko menyebut bahwa selama periode 16-30 Maret saja terjadi 59 kasus kekerasan, perkosaan, pelecehan seksual, dan pornografi yang dicatat oleh Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK).

Ilustrasi (Foto: Freepik)

Di Amerika Serikat, beberapa tenaga medis mengalami kombinasi gangguan panik, kecemasan, insomnia, hingga mimpi buruk. Alasannya adalah karena mereka harus terus berhadapan dengan pasien yang terus bertambah hingga akhirnya sebagian meninggal dunia.

“Kesehatan mental dan kesejahteraan seluruh komunitas masyarakat telah sangat terkena dampak krisis ini dan harus segera ditangani,” kata Devora.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry