Mengungkap Jejak-Jejak Hari Ibu di Indonesia

News | 23 December 2017
Mengungkap Jejak Hari Ibu di Indonesia
Ilustrasi (Foto: brilio.net)

Yogyakarta, 22 Desember 1928. Hampir 2 bulan setelah digelarnya Kongres Pemuda II pada 27—28 Oktober di Jakarta. Pada hari Sabtu malam itu, banyak orang berkumpul di pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero (sekarang kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional). Kebanyakan dari antara mereka adalah perempuan.

Acara resepsi sudah dimulai sejak jam 7 malam. Dimulai dengan nyanyian penghormatan dari anak-anak kepada tetamu. Anak-anak itu juga memainkan sebuah drama tanpa suara tentang Dewi Sinta yang membakar diri, Srikandi, dan Perikatan Istri Indonesia

Dari pukul 9—11 malam, para tamu saling berkenalan. Tiap-tiap utusan diberi kesempatan untuk mengurai problem perkumpulan mereka. Begitulah awal dari Kongres Perempuan Pertama yang dicatat Susan Blackburn dalam bukunya yang berjudul Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang (2007) seperti dilansir dari tirto.id.

Mengungkap Jejak Hari Ibu di Indonesia
Perempuan dalam Kongres Perempuan Pertama (Foto: google)

Sekitar 600 perempuan yang hadir malam itu datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia. Mereka datang dari organisasi-organisasi perempuan seperti Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyah, Wanita Mulyo, perempuan-perempuan Sarekat Islam, Darmo Laksmi, perempuan-perempuan Jong Java, Jong Islamten Bond, dan Wanita Taman Siswa.

Selain berbagai organisasi perempuan itu, kongres ini dihadiri juga wakil-wakil dari beberapa organisasi yang diketuai kaum laki-laki seperti Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamieten Bond. Tokoh-tokoh populer yang juga hadir, antara lain, adalah Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Soekiman Wirjosandjojo (Sarekat Islam), dan A. D. Haani (Walfadjri).

Mengungkap Jejak Hari Ibu di Indonesia
Presiden Soekarno dan Pejuang Perempuan dalam Kongres Perempuan Pertama (Foto: google)

Rangkajo Chairoel Sjamsoe Datoek Toemenggoeng alias Nyonya Toemenggoeng, istri dari Patih Datoek Toemenggoeng, hadir juga dalam acara itu. Patih Datoek Toemenggoeng adalah bawahan Charles Olke van der Plas, seorang pegawai sipil di Hindia Belanda dan pernah bertugas sebagai Gubernur Jawa Timur sampai saat Jepang mengalahkan Belanda pada tahun 1942. Setelah acara itu, perempuan Minang ini menulis laporan berjudul “Verslag van het Congres Perempoean Indonesia gehouden te Jogjakarta van 22 tot 25 Desember 1928”.

Acara dilanjutkan keesokan harinya. Acara dimulai jam 8 pagi dengan nyanyian dari anak-anak. Setelah itu, Siti Soekaptinah menyampaikan asas kongres. Dalam pertemuan hari kedua ini ada pembahasan tentang perkawinan anak. Materinya dibawakan oleh Moega Roemah.

Mengungkap Jejak Hari Ibu di Indonesia
Kasih ibu sepanjang jalan (Foto: google)

Perwakilan Poetri Boedi Sedjati (PBS) dari Surabaya menyampaikan pidatonya tentang derajat dan harga diri perempuan Jawa. Lalu disusul Siti Moendji’ah dengan “Derajat Perempuan”. Nyi Hajar Dewantara, istri dari Ki Hadjar Dewantara, berpidato tentang adab perempuan. Selain mereka, ada juga perempuan lain yang menjadi pembicara dalam hari kedua kongres ini. Mereka berbicara tentang perkawinan dan perceraian.

Dari beberapa pidato itu, ada sebuah pidato yang sangat menarik. Judulnya adalah “Iboe”. Pidato itu dibacakan Djami dari Darmo Laksmi. Pada awal pidatonya, ia bercerita tentang pengalamannya masa kecilnya. Dulu, ia dipandang rendah karena ia anak perempuan. Ketika seorang anak hendak dilahirkan, Djami berkata, “Bapak dan ibunya meminta kepada Tuhan, laki-lakilah hendaknya anaknya.”

Pada masa kolonial, anak laki-laki memang lebih diperhatikan. Sementara perempuan tidak. Tempat perempuan, dalam pikiran banyak orang Indonesia, tak jauh dari kasur, sumur, dan dapur. Pandangan usang itu mengakar kuat dan pendidikan bagi perempuan tak dianggap penting. Perempuan tak perlu pintar. Bukankah akhirnya ia akan ke dapur juga?

Djami berpendapat lain. Hebat atau tidaknya generasi muda bangsa ini juga sangat ditentukan oleh seorang perempuan. Oleh seorang ibu. “Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya. Selama anak ada terkandung oleh ibunya, itulah waktu yang seberat-beratnya karena itulah pendidikan Ibu yang mula-mula sekali kepada anaknya,” katanya.

Mengungkap Jejak Hari Ibu di Indonesia
(Foto: google)

Dalam kongres yang berlangsung hingga 25 Desember 1928 itu, organisasi-organisasi perempuan melebur menjadi Perserikatan Perempuan Indonesia. Setahun kemudian, mereka berganti nama menjadi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia. Menurut Slamet Muljana, dalam Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), dua tahun setelah kongres, perempuan-perempuan itu menyatakan bahwa gerakan perempuan adalah bagian dari pergerakan nasional. Bagi mereka, perempuan wajib ikut serta memperjuangkan martabat nusa dan bangsa.

Tidak berbeda jauh dengan Kongres Pemuda II, Kongres Perempuan ini juga menekankan pentingnya persatuan. Perempuan tak ingin dipecah belah oleh masalah apa pun, termasuk oleh masalah agama. Nyonya Toemenggoeng mencatat: Roekoen Wanidijo mengusulkan masalah agama sebisa mungkin mereka hindari untuk dibicarakan agar tidak terjadi perpecahan. Bahkan, tokoh yang menjadi anggota organisasi keagamaan tidak dapat dipilih menjadi ketua.

Setelah kemerdekaan, kongres ini dianggap penting. Presiden Sukarno mengenang semangat perempuan dan ibu-ibu dalam pergerakan nasional. Oleh karena itulah, pada 22 Desember 1959, dalam peringatan kongres ke-25, melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1959, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry