Melacak Sejarah “Resolusi Tahun Baru”

News | 21 December 2017
Melacak sejarah "Resolusi Tahun Baru"
Ilustrasi (Foto: google)

Apa resolusi tahun barumu? Apa yang ingin kamu lakukan tahun depan? Apa yang ingin kamu raih pada tahun yang baru?

Itulah yang sering ditanyakan orang pada setiap akhir tahun. Bahkan selalu diminta untuk dibuat menjelang tahun baru. Sebuah pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban tegas. Semacam sebuah afirmasi yang lahir dari refleksi atas apa yang sudah terjadi. Semacam sebuah proyeksi.

Banyak orang menduga bahwa membuat resolusi seperti itu adalah karakter orang modern; orang yang hidup di dalam perencanaan yang matang dan terstruktur. Resolusi dianggap sebagai garis merah atau penunjuk arah.

Melacak sejarah "Resolusi Tahun Baru"
Ilustrasi (Foto: google)

Benarkah “resolusi tahun baru” itu dibuat oleh orang modern? Sejarah mencatat yang sebaliknya. Bukan orang modern yang menciptakan “resolusi tahun baru”, melainkan orang kuno.

Dilansir dari history.com, “resolusi tahun baru” sudah dilakukan orang-orang Babilonia pada 4.000 tahun yang lalu. Ketika itu, yang mereka lakukan adalah membuat perjanjian dengan para dewa bahwa mereka akan membayar semua utang mereka dan mengembalikan semua benda yang sudah mereka pinjam. Mereka membuat resolusi itu pada pertengahan Maret yang merupakan “tahun baru” mereka. Persisnya pada musim tanam.

Melacak sejarah "Resolusi Tahun Baru"
Julius Caesar (Foto: hollywoodlife.com)

Resolusi yang kita lakukan sekarang ini sebenarnya lebih mirip dengan yang dilakukan orang Romawi kuno pada tahun 46 SM. Tepatnya setelah Julius Caesar mengumumkan bahwa Januari adalah “the Month of Janus”. Janus adalah seorang dewa berwajah dua. Dia diyakini sebagai dewa segala pintu gerbang.

Orang Romawi kuno percaya bahwa satu wajah Janus menghadap ke masa lalu dan satu lagi ke masa depan. Untuk menghormatinya, mereka mempersembahkan korban sambil berjanji bahwa mereka akan berperilaku baik pada tahun yang akan datang.

Beberapa abad kemudian, muncul resolusi yang lebih modern. Pada tahun 1740, John Wesley, seorang teolog dari Gereja Anglikan yang mendirikan Gereja Metodis, menciptakan “covenant renewal service”. Ibadat pembaharuan janji ini dilakukan pada malam tahun baru. Dalam ibadat ini, anggota jemaatnya diminta membuat janji apa yang akan mereka lakukan pada tahun baru.

Melacak sejarah "Resolusi Tahun Baru"
John Wesley (Foto: google)

Praktik membuat “resolusi tahun baru” itu lalu menjadi sebuah praktik yang umum pada waktu itu. Dari sebuah artikel yang dimuat dalam Majalah Hibernian Walker (1802) diketahui bahwa pada waktu itu, orang-orang membuat resolusi yang kuat. Resolusi itu dibuat dengan hati-hati. Namun, resolusi itu dianggap sebagai rangkaian resolusi fiktif jika dibandingkan dengan resolusi para negarawan untuk menciptakan kebaikan bagi negara.

“Resolusi tahun baru” baru muncul sebagai sebuah ungkapan dalam koran Boston yang terbit pada 1 Januari 1813. Dalam salah satu artikelnya tertulis bahwa banyak orang telah merasa melakukan kesalahan sepanjang bulan Desember dan membuat resolusi pada tahun baru.

“Dengan tekad serius untuk memulai tahun baru dengan resolusi dan perilaku baru dan dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan melaksanakan resolusi tersebut demi menghapus semua jejak kesalahan mereka.” Demikian bunyi salah satu paragraf dari artikel itu.

Melacak sejarah "Resolusi Tahun Baru"
Ilustrasi (Foto: google)

Apa resolusimu pada tahun 2018 nanti? Apa yang akan kamu lakukan? Apa yang akan kamu raih?

 

#YUKKpakeYUKK

1
like
1
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry