Kiat Praktis untuk Menghangatkan Keluargamu

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Anak atau saudara Anda tak betah di rumah? Lebih sering keluar malam? Sibuk dengan urusan sendiri dan tak jarang bersikap dingin terhadap kamu? Rumahmu tak ubahnya sebuah kos?

Jika hal-hal di atas benar-benar terjadi dalam keluargamu, itu adalah isyarat yang sangat jelas bahwa sebenarnya ada hal yang kurang dalam keluargamu. Suami, istri, anak, dan saudaramu membutuhkan sesuatu yang lebih daripada uang, lebih daripada jam makan yang teratur, lebih daripada sarana yang selalu ada. Mereka membutuhkan intimasi!

Apa yang harus kamu lakukan agar keluargamu tetap kuat? Apa yang harus kamu lakukan agar istrimu betah di rumah? Apa yang harus kamu lakukan agar suamimu nyaman di rumah? Dan apa yang harus kamu lakukan agar anak-anakmu merasa diterima, dihargai, dan dicintai?

Life as a House

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Keluarga (menyebut keluarga berarti menyebut kehidupan, suasana, nilai) itu seperti sebuah rumah yang perlu dibangun. Fondasinya harus kokoh. Tiang dan temboknya harus kuat. Atapnya harus bisa menahan terpaan hujan dan tusukan matahari. Fondasinya adalah visi dan misi yang kuat. Apa yang ingin kamu raih dengan membangun sebuah keluarga? Sekadar memenuhi kodrat natural? Ataukah pemenuhan diri dan cinta? Tiang dan temboknya adalah intimasi dan rasa saling membutuhkan. Atapnya adalah rasa hormat. Kalau tidak ada hal semacam itu, keluarga kamu mudah retak dan goyah.

Make a Home and not Just a House

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Jangan berhenti pada konstruksinya. Jangan bangga karena model rumah kamu lebih lain daripada rumah kebanyakan. Jangan bangga pada jumlah lantainya, warna tembok, dan isinya. Apa artinya tampilan rumah yang mentereng, tapi suasananya panas, selalu tegang, dan dipenuhi ketakpedulian? Make a home! Ciptakan suasana yang enak. Rumah itu lebih dari sekadar tembok, lantai dan atap. Rumah adalah suasana, atmosfer. Ingat, orang betah di rumah bukan karena makanan yang enak, kamar yang mewah, atau yang lainnya, melainkan karena diperhatikan, diterima, dihargai, dicintai dan dilindungi. Itulah arti rumah dan keluarga yang sebenarnya.

Inisiatif

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Jangan tunggu tetangga, rekan kerja atau teman kamu yang datang ke rumahmu dan membuat suasana keluargamu menjadi ceria dan nyaman. Bukankah kamu yang membangun keluarga itu dan bukan dibangunkan? Mereka mungkin memberikan masukan atau saran. Namun, inisiatif mesti datang dari kamu dan keluargamu. Kamu mesti punya inisiatif untuk membuat rumah menjadi nyaman dan menjadi sumber kebahagiaan.

Luangkan Waktu

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Langkah yang harus kamu lakukan adalah meluangkan waktu untuk berkumpul bersama istri, suami, anak dan saudara. Kalau selama ini kamu tak langsung pulang ke rumah setelah bekerja atau kuliah, usahakan agar sesekali kamu pulang lebih cepat, sehingga bisa hadir dan bertukar cerita dengan anggota keluarga yang lain. William Desmond, dalam bukunya berjudul Perplexity and Ultimacy, bilang, intimacy adalah situasi in relation with, in communication with, being with others. Kamu akan sulit menjalin hubungan yang lebih intim dengan anggota keluarga yang lain kalau kamu hanya mengandalkan suara atau tulisan (telepon dan SMS). Intimasi membutuhkan partisipasi aktif, kontak langsung, dan kehadiran total (fisik dan afeksi).

Dialog

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Jangan bangun keluarga Anda dengan monopoli. Jangan kira bahwa karena kamu yang mencari uang dan punya pendidikan atau lingkungan pergaulan lebih luas, kamu lalu main perintah, main suruh dan menyalahkan anak, suami, istri, dan saudara seenaknya. Ingat, mereka adalah orang yang punya kerumitan pengalaman dan konteks sendiri-sendiri. Kalau mereka salah atau keliru, rangkul mereka dan tanyakan alasan mereka dengan lembut. Biarkan mereka bercerita karena mereka punya alasan. Bukankah everything happens for a reason? Kalau ada persoalan atau hal menyangkut pekerjaan, libatkan mereka. Dengan demikian, anggota keluargamu merasa berarti, berharga. Tambahan lagi, risiko karena keputusan bersama ditanggung bersama pula, sehingga tak ada kecenderungn untuk saling menyalahkan.

Bertukar Peran

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Kalau selama ini kamu yang selalu menulis daftar belanja menu, coba sesekali minta suami, anak atau saudara yang tulis dan kamu menonton TV atau membereskan kamar. Kalau kamu yang selalu memasak, coba sesekali minta suami atau anak yang masak dan kamu menyeterika baju, membersihkan ruangan tamu atau menyiram bunga. Enak atau tidaknya masakan mereka bukan soal. Yang penting adalah atmoser keluarga yang nyaman, ceria, dan ramah. Elemen ini memang sangat sederhana, tapi punya dampak yang besar: keluargamu menjadi lebih kokoh.

Baca juga : Ingin Lebih Dekat dengan Anak-anakmu? Ajaklah Mereka ke Minizoo Ride!

Rekreasi Bersama

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Ini salah satu langkah yang tepat untuk memancing kebersamaan. Keluarlah dari rutinitas dan cari situasi yang baru. Rekreasi ke pantai? Boleh saja. Ke gunung? Itu juga boleh. Atau ke tempat-tempat rekreasi umum? Bisa juga. Apa pun itu, kamu dan keluargamu mesti mencari sesuatu yang baru. Selama berada di tempat rekreasi, biarkan anak, suami, istri atau saudara mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Kalau dia mau berteriak, biarkan. Kalau dia melompat kegirangan karena melihat hal yang baru, biarkan. Jika perlu, melompatlah bersamanya. Kedekatan fisik dan afeksi akan menguatkan keluargamu.

Memaafkan

Kiat Praktis untuk Merekatkan Hubungan Keluarga
Ilustrasi (Foto: google)

Jangan anggap remeh elemen ini. Kalau di rumahmu hanya ada kecenderungan saling menyalahkan dan mau menang sendiri, siapa yang akan menjadi pelayan? Kalau masing-masing anggota keluarga merasa diri paling benar, siapa yang mau memperbaiki kesalahannya? Siapa yang mau belajar menerima diri dan orang lain? Perlu ada keberanian untuk memaafkan. Sekalipun kamu yang mencari uang untuk kelangsungan hidup keluarga, kamu mesti tetap meminta maaf kalau ternyata kamu salah. Sekalipun kamu punya pendidikan tinggi, kamu mesti tetap minta maaf kalau ternyata kamu sempat keliru. Kalau kamu berani meminta maaf kepada anak, suami, istri dan saudara, jalan kepada penerimaan dan penghormatan terbuka lebar. Keluargamu akan terbuka pada hal-hal baru dan lebih menghormati orang karena orang itu sendiri dan bukan karena status, posisi dan apa yang mereka miliki.

#YUKKpakeYUKK

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry