Jumlah Kasus Demam Berdarah Meningkat, Indonesia Waspada

Jumlah kasus demam berdarah meningkat di Indonesia
Ilustrasi nyamuk Aedes aegepty (Foto: Istimewa)

Selama musim hujan ini, masyarakat harus waspada. Musim hujan ini tak ubahnya “hari-hari pesta” bagi nyamuk Aedes aegepty. Menurut Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, musim hujan bagaikan musim “rumah sakit bersalin” untuk nyamuk.

Mengapa musim hujan menjadi seperti “rumah sakit bersalin” nyamuk-nyamuk? Harus diketahui bahwa telur seekor nyamuk bisa bertahan dalam kondisi kering atau tanpa air selama 6 bulan. Itu berarti bahwa telur itu bisa bertahan selama musim kemarau. Baru pada musim hujan telur-telur itu. Persisnya ketika terjadi kontak dengan air. Itulah mengapa jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat.

Jumlah kasus demam berdarah meningkat di Indonesia
Ilustrasi penderita demam berdarah (Foto: ANTARA FOTO)

Di seluruh Indonesia, hingga 29 Januari tahun ini, kasus DBD bertambah menjadi sebanyak 13.683 buah. Padahal, tahun lalu, kasusnya berjumlah 11.293 buah. Dan jumlah pasien yang meninggal dunia pada tahun ini meningkat menjadi sebanyak 133 orang. Sementara data terakhir Kemenkes (2018) mencatat bahwa 112 orang meninggal dunia karena DBD.

“Hujan dan kelembapan udara membuat telur berumur panjang dan cepat menetas. Kita lihat data. Jawa Timur kasusnya paling banyak (2.657 kasus dan kematian 47 orang),” kata Nadia dalam temu media bersama Kemenkes di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/1).

Setelah Jawa Timur, menyusul Jawa Barat (2.008 kasus), Nusa Tenggara Timur (1.169 kasus), Jawa Tengah (1.027 kasus) dan Sulawesi Utara (980 kasus). DKI Jakarta sendiri punya 613 kasus.
Sementara untuk jumlah korban yang meninggal dunia, setelah Jawa Timur, menyusul NTT (14 orang), Sulawesi Utara (13 orang), Jawa Barat (11 orang) dan Jawa Tengah (9 orang).

Jumlah kasus demam berdarah meningkat di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Jika dilihat dari peningkatan jumlah, baik kasus maupun jumlah korban yang meninggal dunia, situasinya memang memburuk. Namun, DBD belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Dan DBD kali ini belum bisa disebut sebagai wabah.

“Penentuan ini wabah kita mengacu pada dua (peraturan), yakni UU Nomor 4 Tahun 1984 (tentang Wabah Penyakit Menular) dan KLB dari Permenkes 1501 Tahun 2010 (Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya),” jelas Nadia.

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry