Ingat Baik-Baik! Perceraian Sudah Ada Sejak Zaman Kuno

Perceraian sudah ada sejak zaman kuno
Ilustrasi (Foto: google)

Melayangnya gugatan cerai Ahok terhadap istrinya, Veronika Tan, mengagetkan banyak orang. Mereka tidak menyangka bahwa mantan orang nomor satu di DKI Jakarta itu melakukan hal itu. Pasalnya, sejauh yang mereka tahu, Ahok dan istrinya adalah pasangan paling harmonis.

Pasti Ahok punya pertimbangan yang matang. Pasti Ahok punya alasan yang sangat kuat sebelum memutuskan untuk mengajukan cerai terhadap perempuan yang sudah menemaninya sejak tahun 1997 itu. Dan dia pun pasti sudah memikirkan masak-masak efek dari perceraiannya jika gugatannya dikabulkan.

Perceraian sudah ada sejak zaman kuno
Ahok dan Vero, istrinya (Foto: Tribunnews.com)

Ahok bukanlah figur publik pertama yang melayangkan gugatan cerainya kepada istrinya. Jauh sebelumnya, sudah banyak masyarakat dan figur publik yang melakukannya. Jika gugatannya dikabulkan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, maka ia bukanlah figur publik pertama yang bercerai. Sudah banyak pasangan yang bercerai jauh sebelumnya. Bahkan jauh sebelum abad modern.

Sejarah mencatat bahwa perceraian sudah muncul sejak zaman kuno. Orang Romawi dan Yunani kuno sudah melakukannya. Hukum Romawi kuno waktu itu menulis “matrimonia debent esse libera” (pernikahan seharusnya bebas).

Menurut Valerius Maximus, seorang sejarawan, perceraian dalam kehidupan orang Romawi terjadi sekitar tahun 604 SM. Pada zaman Cicero dan Julius Caesar, perceraian dianggap sebagai hal yang biasa. Seorang lelaki Roma punya hak untuk menceraikan istrinya.

Perceraian sudah ada sejak zaman kuno
Ilustrasi (Foto: google)

Pada abad ke-15, seperti dikutip dari kompas.com, perceraian sangat umum terjadi. Pada masa itu, Al-Sakhawi, seorang sejarawan dan ulama dalam bidang hadis, tafsir, dan sastra, mencatat banyaknya praktik perceraian yang terjadi. Dia mewawancarai 500 wanita Mesir dan Suriah. Dari wawancara itu terungkap bahwa sepertiga perempuan itu telah menikah lebih dari satu kali.

Di Eropa, pada abad pertengahan, Gereja memiliki otoritas penuh atas pernikahan. Namun, pembatalan pernikahan dan perceraian tetap saja terjadi. Saat itu muncul istilah “divorce a mensa et thoro (perceraian dari tempat tidur dan tempat tinggal). Istilah ini merujuk pada perpisahan di mana seorang suami dan istri pindah ke tempat yang lain.

Perceraian sudah ada sejak zaman kuno
Di Jepang, proses perceraian ditandai dengan upacara penghancuran cincin dengan palu berbentuk katak (Foto: google)

Di Jepang, pada tahun 1600 sampai akhir 1800-an, seorang wanita tidak diizinkan untuk meminta cerai. Hanya laki-laki yang bisa melakukannya dengan menulis surat perceraian. Biasanya keluarga dari kedua bela pihak sering campur tangan untuk mencegah terjadinya perceraian. Pasalnya, keutuhan keluarga adalah nilai utama di negeri ini.

Sekali lagi, hanya laki-laki yang bisa meminta cerai. Perempuan tidak. Jika ternyata seorang perempuan merasa bahwa pernikahannya buruk, dia hanya bisa mencari perlindungan di kuil perceraian Shinto. Beberapa tahun kemudian baru bisa bercerai. Dan sejarah mencatat bahwa pada abad ke-19, Jepang adalah negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia. Kira-kira satu perdelapan dari jumlah pernikahan.

 

#YUKKpakeYUKK

 

1
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry