Ide Itu Menggoda Investor di Negeri Paman Sam

Ide Itu Menggoda Investor di Negeri Paman Sam
Stevanus Rahardja, Co-founder dan CEO PT YUKK Kreasi Indonesia (Foto: YUKK)

Ide itu muncul pada tahun 2014 lalu ketika Wira Rahardja berlibur ke Amerika Serikat dan China. Di Amerika, dia tertarik pada teknologi beacon yang dibawa sebuah perusahaan rintisan yang sudah unicorn. Sementara di China, dia melirik bisnis O2O (online to offline) yang diusung sebuah startup yang juga sudah unicorn.

Kedua ide itu lalu dikombinasikan dan diimprovisasi agar bisa diadopsi pasar di Indonesia. Hasil kombinasi dan improvisasi itu adalah YUKK. Sebuah aplikasi bikinan anak bangsa yang dibesut dalam keterbatasan dana.

Bersaudara Dalam Darah, Bersaudara Dalam Ide: Sebuah Perjalanan
Jumlah pengguna aplikasi YUKK terus bertambah (Foto: YUKK)

Pada tahun 2018 lalu, YUKK diluncurkan secara resmi di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan. Ketika itu, fitur yang dihadirkan masih sedikit. Namun, kepercayaan pasar mulai bertumbuh setelah melihat teknologi yang ditanam dalam aplikasi ini. Bersamaan dengan tumbuhnya kepercayaan itu, bertambahlah jumlah pengunduh dan merchant yang ingin bergabung dengan YUKK.

“Mungkin orang melihat kita mirip dengan kompetitor. Namun, sebenarnya kita berbeda. Kita membawa teknologi yang berbeda. Kita menjadi jembatan dunia online dan offline. Kalau mau di-download di App Store atau Play Store, kita, tuh, ada di kategori lifestyle dan bukan fintech,” terang Stevanus Rahardja, CEO dan Co-founder PT YUKK Kreasi Indonesia.

Ide Itu Menggoda Investor di Negeri Paman Sam
(Foto: YUKK)

Bersama kakaknya, Wira Rahardja, dan tiga co-founder yang lain, yaitu Agustino, Titik, dan Julius Agus Salim, Stevanus membuat YUKK menjadi sebuah aplikasi yang tidak hanya memudahkan para pengguna, tetapi juga membantu mengembangkan bisnis para pedagang (merchant). Fitur demi fitur menarik dihadirkan.

“Mungkin ada yang bertanya ‘Apa yang berbeda dari YUKK?’ Sekarang ini, kita mulai lihat perbedaannya. YUKK ini menjadi jembatan dunia offline dan online. Kita akan segera mengeluarkan QRIS. Ke depannya, kita akan perluas lagi. Sampai nanti ada yang namanya AI (artificial intelligence),” jelas lulusan Deakin University, Australia, ini.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

Kekhasan YUKK inilah yang kemudian membawa Stevanus dan Wira ke Amerika Serikat pada tahun 2018 lalu. Mereka diundang Y Combinator, sebuah program akselerasi startup kenamaan asal Mountain View, Amerika Serikat. Perlu diketahui bahwa program yang berbasis di Silicon Valley itu telah melahirkan sejumlah startup yang sudah mendunia. Beberapa yang bisa disebut, antara lain, Dropbox, Stripe, Coinbase, Twitch, Reddit,dan Airbnb.

“Kita kirimkan pitch deck kita, kita kirimkan video perkenalan kita, saya dan Wira, dan YUKK secara garis besar. Barulah kita diundang ke Silicon Valley. Di sana kita presentasi kepada 3 accessor,” ceritanya.

Ide Itu Menggoda Investor di Negeri Paman Sam
Wira dan Stevanus di Y Combinator (Foto: Dok. Pribadi)

Y Combinator tertarik pada presentasi mereka; tertarik pada YUKK. Itulah mengapa dia dan kakaknya diundang lagi untuk mempresentasikan YUKK.

“Karena kalau memang mereka enggak berminat, pas kita presentasi sekali aja mereka langsung gak mau,” sambungnya.

Setelah presentasi itu, beberapa investor tertarik untuk berinvestasi. Namun, jumlahnya tidak besar. Bahkan lebih kecil daripada dana yang dia dan kakaknya serta para co-founder siapkan untuk membangun YUKK.

“Waktu itu, kita tanya berapa besar yang mereka mau invest dan berapa persen yang mereka inginkan. Kita hitung dan ternyata nilainya memang gak besar. Akhirnya kita gak ngambil,” kata lelaki kelahiran Jakarta, 30 September 1980, ini.

Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

Alasan lain mengapa mereka memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu adalah mereka harus tinggal di Amerika selama 3 bulan. Itu berarti bahwa mereka harus meninggalkan keluarga mereka.

Gak mungkinlah kita stay di sana 3 bulan. Sudah berkeluarga juga. Gak mungkin tiba-tiba keluarga ditinggal. Tambahan lagi, waktu itu, kita mau close deal dengan Jababeka. Kalau kita ngambil ini, kita jadi down value. Itulah yang menjadi pertimbangan kita,” terangnya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry