CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
Stevanus Rahardja, Co-founder dan CEO PT YUKK Kreasi Indonesia (Foto: YUKK)

Sejak kecil, dia dididik orang tuanya untuk mandiri. Memang di rumahnya ada pembantu. Namun, dia dan saudara-saudaranya tidak lantas menyerahkan semuanya kepada pembantu. Mereka harus bisa mengerjakan semua yang bisa mereka kerjakan: membereskan kamar, menyapu, mengepel, menyetrika, dan lainnya.

Pola pendidikan seperti inilah yang membuat dia tidak manja. Tidak cepat putus asa. Dia justru tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan suka mencari tantangan baru. Termasuk menjadi tukang cuci mobil di negeri orang.

Begitulah Stevanus Rahardja. Co-founder dan CEO PT YUKK Kreasi Indonesia itu memang pernah menjadi tukang cuci mobil. Pernah juga bekerja di restoran cepat saji dan menjadi penjual kartu telepon.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

Semua cerita itu terjadi di Australia. Ketika itu, dia dan kakaknya, Wira Rahardja, kuliah di Deakin University. Dia mengambil jurusan Finance dan International Trade. Sementara kakaknya mengambil jurusan Accounting.

Sambil kuliah, dia mencari pekerjaan sampingan. Bukan karena kekurangan uang, melainkan karena dia ingin mendapatkan uang dari usahanya sendiri.

“Itu murni keinginan sendiri dan bukan diarahkan orang tua. Ingin menjadi pengusaha karena lebih fleksibel saja,” katanya.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

Sekitar tahun ke-2 kuliah, lelaki kelahiran Jakarta, 30 September 1986, ini bekerja di sebuah restoran cepat saji. Namanya Hungry Jack.

“Kalau di Indonesia, namanya Burger King,” ujarnya.

Dia bekerja di situ selama beberapa waktu. Gaji yang diterimanya ditabung. Sebagian lagi digunakannya untuk memenuhi kebutuhannya atau membeli barang yang dibutuhkannya. Karena dia memang tidak mau memberatkan orang tuanya.

Selain bekerja di restoran cepat saji, dia juga pernah menjadi penjual kartu telepon. Kartu telepon itu dia jual kepada mahasiswa Indonesia yang ingin menelepon orang tua mereka.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

“Telepon pakai ponsel, kan, mahal. Daripada pakai telepon genggam, kita pakai telepon kartu. Jadi, kita, student overseas, tuh, beli dan telepon orang tua,” ungkapnya.

Pada suatu waktu, dia mendengar informasi dari teman-temannya bahwa ada lowongan pekerjaan part time di Safeway di Melbourne. Dia tertarik. Daripada tidak melakukan apa-apa pada waktu luang, lebih baik bekerja. Begitu pikirnya. Tambahan lagi, Safeway itu terletak sangat dekat dengan tempat tinggal mereka. Jalan kaki beberapa menit saja sudah sampai di situ.

“Coba apply aja, sih. Iseng-iseng aja. Eh, gak tahunya keterima,” kenangnya.

Menjelang akhir masa kuliahnya, dia membuka bisnis cuci mobil. Bisnis ini dia jalankan bersama tiga orang temannya yang juga berasal dari Indonesia. Pada waktu itu, modal yang mereka keluarkan sebesar Rp500 juta.

“Jadi, kita ngambil kayak franchise gitu. Kita operate di Melbourne Airport, di Long Term Car Park,” katanya.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

Mereka punya 4 orang karyawan. Dia dipercayakan memegang bagian pemasaran karena dianggap pandai berkomunikasi.

“Jago ngecap. Jadi, bule pun kemakan kecap juga,” candanya sambil tertawa.

Dia tidak hanya memasarkan unit usaha mereka, tetapi juga terjun secara langsung untuk mencuci mobil.

“Saya juga bantu cuci mobil luar-dalam, sampai poles. Karena tenaga kerja, kan, mahal. Jadi, sebagai owner pun kita turun tangan untuk cuci mobil,” ceritanya.

CEO YUKK Pernah Jadi Tukang Cuci Mobil di Negeri Orang
(Foto: YUKK)

Keinginan untuk membuka usaha itu sebenarnya muncul begitu saja. Pasalnya, sudah sejak kecil, dia ingin menjadi seorang pengusaha. Business sense-nya cukup tinggi.

“Maksudnya, kita lihat, ‘Eh, lumayan, nih, ada peluang. Kebetulan modalnya juga gak besar. Jadi, gak perlu juga, kan, kita harus punya 100%. Berpartner juga bisa,” jelasnya.

Dia mendorong generasi milenial untuk tidak takut membuka bisnis. Justru dengan membuka usaha, kreativitas menjadi lebih terasah. Di samping itu, lapangan kerja untuk orang banyak pun terbuka.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

“Apakah harus punya modal gede? Gak juga! Enggak ada orang yang ketika dilahirkan sudah punya banyak hal. Dan banyak orang yang sukses tanpa punya uang besar ketika membuka usaha,” tandasnya.

Modal paling penting, sambungnya, adalah trust. Apakah kita bisa dipercaya orang atau tidak? Apakah kita bisa diandalkan orang atau tidak? Hidup-matinya sebuah bisnis tergantung pada faktor ini.

“Kamu mungkin punya konsep bisnis yang bagus. Namun, jika orang tidak percaya pada kamu, tidak akan deal,” katanya.

 

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry