Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha

Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
Stevanus Rahardja (Foto: YUKK)

Masa depan seseorang siapa yang tahu? Masa depan adalah takdir. Begitu kata beberapa orang. Namun, beberapa orang yang lain bilang bahwa masa depan adalah hasil rancangan sendiri. Apa yang akan terjadi nanti harus dirancang jauh-jauh hari.

Lalu muncul pertanyaan mana yang benar? Yang pertama? Ataukah yang kedua?

Ini bukan tentang mana yang benar dan mana yang meleset. Ini tentang perjalanan hidup. Apa pun bisa terjadi dalam perjalanan yang panjang itu. Apa yang semula tidak dipikirkan bisa terjadi begitu saja. Dan apa pun yang direncanakan bisa saja berubah di tengah jalan. Yang penting adalah menjalani dan menikmati semua proses itu.

Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

Lihatlah Stevanus Rahardja. Tidak ada yang menyangka bahwa dia akan menjadi seperti sekarang. Pasalnya, ketika masih kecil, dia adalah anak yang bandel dan sering sekali menjahili kakak dan adiknya. Kadang juga mengisengi kedua orang tuanya.

“Waktu kecil, tuh, saya suka isengin orang. Suka gangguin adik-kakak. Suka towal-towel orang. Papa-Mama juga saya gangguin,” kenang lelaki kelahiran Jakarta, 30 September 1986, itu.

Di sekolah pun dia begitu. Dia suka sekali mengganggu teman-temannya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar di Sekolah Kemurnian II. Karena ulahnya, bukan sekali dua kali dia keluar-masuk ruangan guru.

Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

“Saya gak suka berantem. Cuma suka iseng dan jahil aja,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Ketika duduk di bangku SMP, dia terkenal sebagai trouble maker. Jika kelasnya gaduh, berarti dia yang membuat gaduh.

“Sampai saya dijadikan wakil ketua kelas sama guru-guru, supaya saya bisa tenangin teman-teman sekelas,” ujarnya sambil tertawa.

Tidak hanya jahil, dia juga tidak terlalu suka belajar. Dia lebih suka bermain-main. Tidak heran bahwa nilai akademiknya tidak sebaik murid-murid lainnya. Dia bahkan pernah tidak naik kelas ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Bocah yang Suka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

“Kalau anak yang lain, kan, diminta pindah sekolah sama orang tuanya. Orang tua saya tidak. Papa-Mama bilang, ‘Gak perlu pindah sekolah. Kalau you jatuh, you harus bisa bangun sendiri’. Akhirnya saya mengulang di kelas yang sama, kelas 5 SD,” kenangnya.

Sekali lagi, jalan hidup orang siapa yang tahu? Tidak naik kelas tidak membuat laki-laki yang akrab dipanggil Stev ini menyerah. Dia mengikuti saran orang tuanya untuk lebih giat belajar. Hingga akhirnya dia bisa lulus dan bahkan meraih impiannya menjadi seorang pengusaha.

“Cita-cita saya dari kecil memang mau menjadi pengusaha, ya. Kebetulan Papa, kan, memang punya usaha. Jadi, ya, cita-cita saya adalah bantuin Papa,” katanya.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha

Setelah lulus dari Deakin University, Australia, dia tidak segera kembali ke Jakarta. Dia tinggal di Negeri Kanguru itu selama hampir 2 tahun. Selama itu, dia menjalankan bisnis dengan beberapa orang temannya. Sebagian hasil dari bisnis itu dia gunakan untuk membiayai hidupnya. Sebagian lagi dia tabung.

“Waktu itu, saya punya prinsip: saya sudah dibesarin dan sudah dibiayain kuliah sama orang tua. Jadi, saya gak mau bebanin mereka lagi. Saya harus cari uang sendiri,” ungkapnya.

Setelah selama hampir 2 tahun tinggal di Australia, dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dia dan kakaknya, Wira Rahardja, yang juga kuliah di Deakin University, membantu ayahnya menjalankan bisnis. Mereka sempat dikirim ke Italia dan Taiwan untuk memantau pembongkaran mesin.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
Pengguna aplikasi YUKK (Foto: dok. YUKK)

“Kita pernah bongkar mesin di Italia. Kita stay di sana 4 bulan. Setelah beres di Italia, kita dikirim ke Taiwan juga untuk bongkar mesin. Di sana, kita stay 3 bulan,” ceritanya.

Selama bekerja membantu ayahnya, dia belajar banyak hal: belajar membangun relasi, belajar membuka jaringan, belajar mengambil keputusan, belajar bertanggung jawab, dan lainnya.

“Papa sama sekali tidak punya ketakutan untuk mempercayakan semuanya kepada anaknya untuk membuat keputusan. Bahkan keputusan yang investasinya besar kayak gimana pun dia fine aja. Yang penting dia tahu,” terangnya.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
Pengguna melakukan transaksi melalui aplikasi YUKK (Foto: dok. YUKK)

Setelah sekian waktu membantu ayahnya, dia dan kakaknya memutuskan untuk membangun usaha sendiri. Mereka membangun beberapa perusahaan yang bergerak di dalam beberapa bidang: bidang energi, trading, pariwisata, konstruksi, dan konsultan. Namun, saat ini, keduanya fokus untuk membesarkan aplikasi YUKK di bawah bendera PT YUKK Kreasi Indonesia.

Ide untuk membuat aplikasi yang memudahkan orang memenuhi kebutuhan hidup itu adalah ide kakaknya. Ide itu muncul pada tahun 2015. Namun, ide itu tidak segera diwujudkan karena mereka kekurangan dana.

“Akhirnya kita memberanikan diri untuk menggunakan dana kita sendiri. Dibantu sama beberapa saudara kita juga,” kata CEO PT YUKK Kreasi Indonesia ini.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
Antrean pengguna yang melakukan top up saldo YUKK Cash dalam sebuah event (Foto: dok. YUKK)

Wira menjadi founder. Sementara itu, dia dan empat orang lainnya menjadi co-founder. Mereka adalah Agustino, Titik, dan Julius Agus Salim.

Saat ini, aplikasi YUKK telah menjadi salah satu aplikasi pilihan masyarakat. Berbagai fitur dihadirkan untuk semakin memudahkan pengguna melakukan transaksi dan memenuhi kebutuhan hidup, baik secara online maupun offline. Ada fitur “YUKKOnline”, “Transfer”, “Billing”, “Utilities”, “Pulsa & Paket Data”, “Games”, “Streaming, dan “Voucher”. Jumlah merchant, baik yang online maupun yang offline, terus bertambah banyak.

“Mungkin ada yang bertanya ‘Apa yang berbeda dari YUKK?’ Sekarang ini, kita mulai lihat perbedaannya. YUKK ini menjadi jembatan dunia offline dan online. Kita akan segera mengeluarkan QRIS. Ke depannya, kita akan perluas lagi. Sampai nanti ada yang namanya AI (artificial intelligence),” jelasnya.

uka Jahil Itu Telah Menjadi Pengusaha
(Foto: YUKK)

Sejak aplikasi YUKK dirilis, dia dan tim manajemen mengajukan izin pada Bank Indonesia. Hampir 2 tahun kemudian, pada September 2020 lalu, YUKK mendapatkan lisensi dari Bank Indonesia sebagai “Penerbit Uang Elektronik” dan “Penyelenggara Transfer Dana”.

“Di Indonesia, selain banking, tidak terlalu banyak perusahaan swasta mendapatkan izin dari BI. Saya lihat, sebelum kita, cuma 50 izin yang dikeluarkan di Indonesia, baik banking maupun nonbanking. Yang nonbanking pun paling cuma belasan doang. Dan kita masuk dalam kelompok belasan ini. Jadi, bahagia banget,” ungkapnya dengan wajah yang semringah.

 

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry