Beasiswa Istimewa untuk Anak dari Guru yang Tewas Dianiaya Muridnya Sendiri

Rintihan Hati Istri Guru yang Tewas Dianiaya Muridnya Sendiri
(Foto: kolase oleh Tribunnews.com)

Beberapa kali Sianit Shinta merasa shock. Lalu tidak sadarkan diri. Sadar lagi, lalu shock lagi. Seperti itu selama beberapa kali pada Kamis (1/2) malam lalu. Apalagi ketika jenazah suaminya, Ahmad Budi Cahyono, diturunkan ke dalam liang lahat pada Jumat (2/2) pagi. Ia shock dan tidak sadarkan diri selama beberapa kali.

Sejak Kamis (1/2) malam itu, ia sudah menjanda. Ditinggalkan untuk selama-lamanya dengan janin yang baru lima bulan ini dikandungnya. Entah seperti apa garis kehidupannya sejak malam kelabu itu. Ia benar-benar tidak tahu. Semuanya sudah benar-benar berubah sejak hari itu.

Perempuan berusia 22 tahun itu tidak menyangka bahwa obrolannya dengan suaminya yang adalah guru mata pelajaran Seni Rupa di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, pada Kamis (1/2) sore itu adalah obrolan terakhir. Bahwa keluhan yang didengarnya sore itu adalah keluhan terakhir dari bibir suaminya. Bahwa usia perkawinannya ternyata sangat singkat. Hanya 1,4 tahun.

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Budi tidak hanya pandai melukis, tapi juga bermain violin (Foto: Instagram/@abc_isme)

Dianiaya
Hari itu, Kamis (1/2), Budi menjalankan tugasnya seperti biasa. Pada pukul 13.00 WIB, ia mengajar mata pelajaran Seni Rupa di halaman depan kelas XII. Semua murid diberikan tugas untuk melukis. Namun, seorang muridnya yang berinisial MH tidak menghiraukannya. Dia justru ribut.

Budi menegurnya agar tenang dan mengerjakan tugasnya. Namun, kembali MH tidak menghiraukan tegurannya. Bukannya diam, MH justru semakin menjadi-jadi. Kali ini, dia malah mengganggu teman-temannya. Sampai akhirnya ia menghukum MH dengan mencoret pipinya dengan cat.

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Shinta (Foto: kompas.com)

Apa yang terjadi selanjutnya? MH tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia mengucapkan kalimat yang tidak sopan. Lantaran kalimat itu tidak sopan, Budi memukul MH dengan kertas absensi. Pukulannya ditangkis MH. Dan ia dihujam dengan pukulan keras pada pipi kanannya. Seketika ia tersungkur.

Murid-murid dan guru yang lain langsung melerai. Budi kemudian dibawa ke ruangan guru. Di situ ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada kepala sekolah. Dan kepala sekolah mempersilakannya untuk pulang dan beristirahat di rumahnya.

Mati Batang Otak
Hari itu, Budi tidak menyelesaikan proses belajar-mengajarnya. Ia menuruti nasihat kepala sekolahnya untuk pulang lebih cepat agar bisa beristirahat.

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Budi sedang melukis (Foto: Instagram/@abc_isme)

Sampai di rumahnya, ia langsung tidur. Ia tidak menceritakan apa yang membuatnya pulang lebih cepat. Ia memang seperti itu. Menurut Shinta, ia memang tidak banyak bicara. Ia baru bicara kalau ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan istrinya. Jika tidak ada, ia pasti diam.

Setelah bangun tidur, ia mengeluh kesakitan. Kepalanya, kata Shinta, sakit sekali. “Apa kamu jatuh dari motor atau jatuh kepeleset?” tanyanya.

Ia langsung menceritakan apa yang terjadi siang tadi di sekolah. Setelah bercerita, ia muntah. Lalu minta dibaringkan di atas tempat tidur. Dan Shinta memapahnya ke kamar dan mencoba menghubungi dokter melalui ponsel. Namun, nomor telepon dokter tidak ditemukan.

Shinta panik karena ternyata suaminya sudah tidak sadarkan diri. Suaminya langsung dibawa ke Puskesmas Torjun. Karena terbatasnya tenaga dan peralatan, pihak puskesmas langsung merujuk suaminya ke RSUD Kabupaten Sampang. Namun, karena kurangnya peralatan, pihak rumah sakit merujuknya ke rumah sakit di Surabaya.

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Salah satu karya Budi (Foto: Instagram/ @abc_isme)

Lelaki berusia 26 tahun itu kemudian dibawa ke RSU dr. Soetomo di Surabaya. Tidak lebih dari 1 jam ia menjalani perawatan medis. Sekitar pukul 20.00 WIB, ia menghembuskan napas terakhirnya. Ia pergi setelah dianiaya muridnya sendiri. Dianiaya oleh murid yang tidak mau dibimbing dan diarahkan.

“Saya ikhlas menerima ujian ini. Namun, harapan saya, agar polisi bisa menyelesaikan kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Mohamad Satuman Asyari, ayah Budi, seperti dilansir tribunnews.com.

Lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) itu meninggal dunia karena matinya batang otaknya. Batang otaknya mati karena lehernya patah.

“Karena dalam tulang leher terdapat syaraf pembuluh darah dan saluran pernafasan yang langsung terhubung ke otak. Mungkin saat mendapat pukulan dari muridnya sangat keras, sehingga berakibat fatal,” kata dr. Urip Murtedjo, spesialis bedah kepala dan leher di RSU dr. Soetomo, Surabaya.

Laki-Laki yang Sederhana

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Kenangan Budi dan Shinta (Foto: Instagram/@abc_isme)

Tidak lama setelah peristiwa kelabu itu, Shinta mengunggah dua buah foto berikut curhatan yang benar-benar menyentuh hati. Dalam foto pertama, terlihat jelas ia dan suaminya berpose di depan sebuah lukisan. Mereka tersenyum. Di bawah foto itu, ia menulis sebuah keterangan yang menunjukkan seperti apa sebenarnya karakter mendiang suaminya itu.

“Dia ngga romantis, dia nyebelin, tapi dia kocak. Teman hidupku”

Foto kedua memperlihatkan romantisme mereka di atas sofa hijau. Pada foto itu ia menulis kalimat yang menunjukkan seperti apa kehidupan mereka.

“Apa yang ada?
ya inilah apa adanya…
Apa adanya?
ya inilah apa yang ada…”

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
(Foto: Instagram)

Suaminya memang sosok yang sederhana. Tidak banyak bicara. Di rumah, kalau tidak ada hal yang penting, dia lebih banyak diam. Dia tidak mudah bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah atau yang terjadi di luar rumah tangganya.

“Dia hanya mau berbicara jika penting. Selebihnya dia banyak diam,” desahnya.

Ia berharap agar pihak kepolisian bisa mengusut tuntas kasus ini dan hukum ditegakkan.

“Semoga polisi bisa bertindak adil terhadap keluarga saya,” harapnya.

Beasiswa khusus
Sabtu (3/2) lalu, Hamid Muhammad, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, mengunjungi Shinta di rumahnya. Dia datang untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Bapak Kemendikbud sebenarnya sudah berencana hadir, tapi tidak jadi karena harus menghadiri rakernas PGRI di Batam,” katanya.

Beasiswa khusus untuk calon anak dari guru yang tewas dianiaya muridnya
Mahfud MD, mantan Ketua MK, mengunjungi Shinta untuk memberikan dukungan moral (Foto: kompas.com)

Sebagai wujud dukungan dan apresiasi atas dedikasi Budi, pemerintah akan memberikan beasiswa khusus kepada calon anak yang sedang dikandung Shinta.

“Rencananya kami akan melakukan pengangkatan PNS istimewa. Namun, setelah dikaji dan diskusi dengan semua pihak, tidak memungkinkan. Paling mungkin adalah memberikan beasiswa bagi calon anak Pak Budi,” ungkapnya.

Tidak tanya Hamid yang datang untuk memberikan dukungan kepada Shinta, tetapi juga banyak orang lainnya. Salah satunya adalah Mahfud MD. Mantan ketua MK ikut merasa prihatin atas apa yang terjadi dan menguatkan Shinta agar tegar menghadapi kenyataan.

Selamat jalan, Pak Budi. Terima kasih atas dedikasimu

 

#YUKKpakeYUKK

 

 

0
like
0
love
0
haha
0
wow
1
sad
0
angry