Air Mata Cika untuk Museum Bahari

News | 17 January 2018
Air mata Cika untuk Museum Bahari
(Foto: Twitter @Iful_ via kumparan.id)

Pagi itu, Selasa (16/1), adalah pagi yang tidak sama. Pagi yang berbeda di Penjaringan, Jakarta Utara. Tidak secerah pagi-pagi sebelumnya. Pagi itu adalah pagi yang kelabu. Pagi dimana Cika meneteskan air matanya tatkala asap membumbung dari salah satu sudut gedung tua.

Gedung tua yang berdiri di Jl. Pasar Ikan No. 1 itu adalah tempat ia menghabiskan sebagian waktunya dengan teman-temannya. Kadang-kadang mereka membaca buku-buku yang tersedia di gedung itu. Kadang juga berkeliling sambil melihat berbagai peninggalan sejarah seperti aneka perahu tradisional, kapal dari zaman VOC, peralatan yang digunakan pelaut, dan gambar tokoh-tokoh maritim Nusantara.

Air mata Cika untuk Museum Bahari
(Foto: Warta Kota)

Gedung dengan jejak-jejak sejarah yang begitu banyak itu sudah berusia ratusan tahun. Dibangun pada tahun 1652 pada akhir masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Christoffel van Swoll. Pembangunannya dilakukan secara bertahap dan baru selesai pada tahun 1774. Setelah sempat beberapa kali beralih fungsi, gedung itu dipugar pada tahun 1976. Pada tahun berikutnya, tepatnya pada 7 Juli 1977, gedung bersejarah itu diresmikan sebagai Museum Bahari.

Pagi itu, sekitar pukul 08.50 WIB, gadis cantik itu mendengar bunyi yang keras. Seperti bunyi ledakan. Tidak lama kemudian, api membumbung tinggi di atas atap gedung C yang terletak di sisi utara kompleks museum. Cukup lama ia memandang si jago merah yang perlahan melalap beberapa bagian bangunan museum yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta itu.

Air mata Cika untuk Museum Bahari
Cika, warga Kampung Aquarium, Penjaringan (Foto: kompas.com)

“Tadi saya sempat nangis. Di dalam ada banyak benda bersejarah. Ada koleksi buku-buku di taman bacaan. Saya sering habiskan waktu di sini. Tempatnya nyaman. Semoga tidak apa-apa museumnya,” katanya seperti dilansir dari kompas.com.

Korsleting listrik
Husnison Nizar, Kepala Museum Bahari, menduga bahwa kebakaran dipicu oleh korsleting listrik di gedung C. Di gedung itu ada banyak bahan bekas pameran.

“Anak-anak cleaning service yang bertugas di situ sudah berusaha memadamkan api. Karena asap makin tebal, kami tidak sanggup memadamkannya,” katanya.

Air mata Cika untuk Museum Bahari
Proses pemadaman (Foto: kompas.com)

Angin yang kencang membuat api menjalar lebih cepat dan melalap sebagian gedung A. Sebanyak 20 unit pemadam kebakaran, antara lain, 14 unit dari Jakarta Utara, 3 unit dari Jakarta Barat, dan 3 unit dari Dinas dikerahkan untuk memadamkan api. Sebanyak 60—70   personel pemadam kebakaran bahu-membahu untuk memadamkan api. Baru sekitar 2 jam kemudian api berhasil dipadamkan. Setelah api padam, proses pendinginan terus dilakukan pihak pemadam kebakaran dibantu PPSU (Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum).

“Tidak ada kesulitan dalam proses pemadaman. Sumber air cukup banyak di sekitar lokasi. Masalah tadi hanya kemacetan menuju lokasi,” kata Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Jakarta Utara, Satriadi Gunawan.

Baru direnovasi
Cika bukanlah satu-satunya orang yang menangis karena terbakarnya warisan sejarah itu. Bukan. Ia hanyalah satu dari begitu banyak orang dan komunitas yang merasa sangat terpukul oleh peristiwa ini. Salah satunya adalah Komunitas Historia Indonesia.

Air mata Cika untuk Museum Bahari
Sebagian atap yang terbakar (Foto: bbc.com)

“Kami bersedih. Kami berduka. Pencinta sejarah, penggemar museum, dan pencinta museum bersedih karena Museum Bahari ini kan sedang bersolek. Baru saja direnovasi dan sudah sangat cantik,” kata Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia.

Museum Bahari memang baru saja direnovasi. Proses renovasi itu baru berakhir November 2017 lalu. Namun, kata Husnison Nizar, Kepala Museum Bahari, renovasi dilakukan hanya pada bagian fisik gedung seperti genteng, komponen kayu, kaso yang rapuh, dan cat gedung. Instalasi listrik tidak termasuk di dalamnya. Proses renovasi instalasi listrik yang terakhir dilakukan 5 tahun lalu.

Air mata Cika untuk Museum Bahari
Gubernur DKI Jakarta sedang memantau proses pemadaman (Foto: kompas.com)

Menurut Kepala Disparbud DKI, Tinia Budiati, sistem sprinkle gedung lama juga belum terpasang. “Padahal, rencananya, tahun ini baru mau dipasang karena baru selesai renovasi. Malah kebakaran. Karena kondisi ini, kita akan evaluasi lagi,” katanya.

Baca juga : Fakta Tentang Museum Bahari yang Harus Kamu Ketahui

#YUKKpakeYUKK

0
like
0
love
0
haha
0
wow
1
sad
0
angry